Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memaksimalkan Ramadhan Kita


Oleh: Ummu Albatasya (Pontianak)


Marhaban ya Ramadhan. Tak terasa sudah sepekan ya kita menjalankan perintah saum dari Allah SWT. Namun, apa yang kita dapat raih setelah sepekan? Apakah masih seperti biasa? Kerja, pulang, tidur, sama dong seperti tidak berada di bulan Ramadhan. Sedangkan Ramadhan sisa tiga pekan lagi.


Atau, kerja, ibadah sholat lima waktu , tidur. Berarti sama juga dong seperti hari biasa.


Sebenarnya ini untuk introspeksi saya dan kita semua. Kadang ramadhan biasa-biasa saja, padahal ada ibadah saum, dan shalat tarawih. Dan pahala di bulan Ramadhan  akan dilipat gandakan oleh Allah. Ramadhan bulan yang dikhususkan untuk umat Islam, special  lho untuk umat muslim. 


Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, ‘Setiap amalan kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah SWT berfirman, ‘Kecuali, amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim).


Dalam sebuah riwayat  hadis agung yang diriwayatkan langsung oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam dari Rabb-nya, bahwa Allah berfirman yang artinya “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung ”. (HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).


Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Masya Allah keren khuy spesial untuk Allah aja. Nah kalau begitu bisakah kita dikatakan layak seperti  yang di minta Allah, sedang ibadah kita itu-itu aja. Astagfirullah.


Maka seyogianya memaksimalkan kesempatan yang telah di berikan Allah. Memaksimalkan upaya supaya ibadah kita ngak seperti biasanya, minimalis.   Ramadhan tahun depan belum tentu ketemu, jangan kan tahun depan besok aja sukar diprediksi. 


Rasulullah saja yang  segala dosanya telah diampunani Allah SWT, kedua kakinya pernah bengkak saking khusyuknya dalam melaksanakan shaolat malam. Sampai para sahabat bertanya "Mengapa Anda membebani diri dengan hal yang demikian? Bukankah Allah Ta'ala telah mengampuni segala dosa Anda, baik yang terdahulu maupun yang akan datang?" 


Rasulullah SAW Bersabda: "Tidak patutkah saya menjadi hamba Allah yang bersyukur?" (Dari Al-Mughirah bin Syu'bah RA)


Mungkin untuk mencapai seperti Rasulullah sulit, tapi perlu dong maksimal agar ketika di yaumil Akhir kita tidak membawa amalan yang pas-pasan. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Memaksimalkan Ramadhan Kita"