Aku, Fesbuk dan Palestina
Oleh: Keni Rahayu (Influencer Dakwah Milenial)
Pada tau berita soal fesbuk minta maaf gak? Itu loh, gegara fesbuk hapus-hapus konten yang pro Pelestina (SindoNews, 25/5/21). Kesel gak kesel gak? Kesel lah, masa enggak. The power of netizen, karena mereka kzl akhirnya rating fesbuk di Play Store menurun jadi 2,6 (Tribun Pontianak, 19/5/21).
Kita memang gak pernah tau apakah fesbuk minta maaf karena benar-benar menyesal, atau karena takut rugi aja di masa mendatang. Tapi yang jelas, kesatuan gerak netizen bisa memberikan pengaruh berarti buat perusahaan besar sekelas fesbuk. Standing applause buat netizen plok plok plok.
Pal3stin4 masih terus dirundung duka. Rudal demi rudal terus dilancarkan Isr4el laknatullah. Sampai kapan kita membiarkan air mata anak-anak tak bersalah diperas habis?
Pertanyaan ini dilontarkan khusus untuk diri sendiri. Apa yang bisa aku lakukan ya untuk membantu mereka? Poin-poin berikut mudah-mudahan menginspirasi.
Pertama, pahami sikon. Banyak netizen ramai cuat cuit tapi gak paham masalahnya apa. Saking butanya, sampai ada yang nyinyirin donasi dan bahkan pro Isr4el. Gimana sih?
Cara termudah memahami sikon adalah dengan memahami sejarah. Baca buku, tonton konten-konten kredibel di Youtube (kalau bisa ustad aja ya, biar asasnya Quran Sunnah) soal Pal3stin4, datangi majlis ilmu bertanya pada ustaz/ah secara langsung terkait apa yamg terjadi dan bagaimana solusi tragedi Pal3stin4.
Bocorannya nih, bahwa tragedi di bumi Syam bukan sebatas tragedi kemanusiaan. Sebab, yang terjadi adalah bangsa Yahudi merebut tanah wakaf milik kaum muslimin. Jadi yang sedang dijajah tuh bukan rakyat Pal3stin4 aja, tapi kita juga. Karena itu tanah milik kita, gaes. Ga percaya? Baca sejarah yuk.
Kedua, doa dan donasi. Cara ini emang ampuh sih, tapi gak menyelesaikan akar masalah. Kebayang gak, kalau kamu punya motor yang ban rodanya udah gundul alias licin. Berkali-kali kamu jatuh, berkali-kali juga kamu ditolongin temanmu. Kalau temanmu serius nolongin kamu, harusnya dia penasaran ada apa dengan motormu sampai kamu jatuh lagi dan lagi.
Nah, begitulah kira-kira. Doa dan donasi memang membantu rakyat Palestina. Tapi kalau kita beneran sayang sama mereka, kita harus tau dong permasalahan sejatinya apa. Kalau kita tau duduk perkara, insyaAllah kita lebih mudah mencari solusinya. Maka saran penulis di awal, baca & mengkaji sejarah soal bumi Palestina. Agar akar masalah dipahami.
Ketiga, dakwah. Dakwah ini targetnya dua hal. Satu, untuk memberitahukan pada dunia kondisi yang terjadi di Palestina. Modal jempol doang, share-share berita di semua akun sosmedmu. Eit, tapi tetap harus validasi berita ya, jangan asal share. Target kedua, adalah untuk membangun kesadaran umat bahwa saudara kita di Pal3stin4 butuh bantuan.
Bantuan apa yang bisa kita beri kalau tak cukup sebatas doa dan donasi? Teman-teman, penjajahan di sana salah satu penyebabnya dilandasi karena keinginan Isr4el merebut tanah Pal3stin4. Mereka kuat sebab memiliki militer dan negara adidaya diam.
Apakah diamnya negara adidaya hari ini (negeri Paman Sam) adalah karena mereka netral? No. Mereka diam adalah bentuk dukungannya kepada bangsa Yahudi. Diam-diam membantu, lebih tepatnya. Makanya, gak aneh kalau instansi sekelas PBB seolah tak berkutik menghadapi "negara" kecil Israel. Mereka udah kongkalikong di balik tembok. Kita aja gak tau.
Untuk bisa mengalahkan kekuatan militer dan bantuan adidaya, mari kita tegakkan Islam sebagai negara adidaya. Karena hal fisik harus dilawan dengan fisik. Adidaya lawan adidaya. Kaum muslim harus bersatu untuk bisa mengirimkan pasukan militer dari seluruh dunia.
Persatuan kaum muslimin membutuhkan komando seorang pemimpin untuk seluruh negeri-negeri muslim di dunia. Ya, semacam Amirul Mukminin Umar bin Khattab dan Sultan Abdul Hamid II. Ialah Khalifah yang memahami kewajibannya menjaga 3 masjid suci, termasuk Al Aqsa. Kepemimpinan umum ini berada pada sebuah instansi yang masyhur dengan sebutan Khilafah.
Emang bisa? Bisa dong. Buktinya, fesbuk sampai minta maaf karena ratingnya "diturunkan" netizen. Berarti, netizen butuh pemahaman yang sama agar terjadi pergerakan yang seirama menuju ke sana. Itulah mengapa kita harus berdakwah.
Sekali lagi, lalu aku bisa apa? Bangun gaes, bangun. Sadarlah. Kita sedang dininabobokan dengan kesibukan kita. Ya sekolah, ya kuliah, ya menikah. Ditambah kehidupan yang menghimpit membuat kita jadi pribadi yang sempit. Emang kalian gak iri sama anak-anak Palestina? Mereka surganya sudah di depan mata lo.
Ayo, ayo, bangun. Kalau kita sudah bangun, selanjutnya kita bangun juga kesadaran politik di tengah-tengah umat. Bahwa tak ada solusi tuntas yang bisa menyelesaikan tragedi di Palestina, Uyghur, Khasmir selain Khilafah. Gak lupa kan, Rasul saw. menjajikan era itu sebentar lagi tiba?
"...Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, Beliau diam," (HR. Imam Ahmad).
Wallahu a'lam bishowab. (reper/baim)


Posting Komentar untuk "Aku, Fesbuk dan Palestina"