Hijrahku, Bukanlah Hijrah Biasa
Oleh: Fani Ratu Rahmani (pemerhati remaja)
Alhamdulillah, bulan Ramadhan penuh dengan berkah. Berkah yang dimaksud adalah ziyadatul Khair (bertambahnya kebaikan). Ramadhan merupakan magnet kebaikan yang membuat diri kita yang menjalani, ingin terus perbaiki diri. Shalat lima waktu ga ngaret lagi, shalat Sunnah digeluti, baca Qur'an hampir tiap hari, dan malam-malam diisi munajat pada illahi.
Ciyeee udah hijrah. Itu simplenya. Minimal ada perubahan yang sudah terjadi pada diri kita selama Ramadhan yang terlewati kurang lebih 20 hari. Lantas, dengan hijrah yang sudah terwujud ini akankah kita hanya sibuk perbaiki diri sendiri? Apakah hijrah cuma tentang memperbaiki diri sendiri?
Mereka yang hanya fokus pada perbaikan dirinya, tak sedikit melontarkan dalih atas pilihannya. Masih dikit ilmunya lah, menganggap orang lain akan auto baik melihat kita baik lah, atau bahkan merasa bahwa dosa itu masing-masing jadi ga perlu ikut campur urusan orang lain. Benarkah sikap yang demikian?
FYI, orang yang bermaksiat tak pernah fokus hanya pada dirinya. Pejudi akan mengajak orang lain untuk maksiat bersamanya. Pemakai narkoba juga gamau cuma dia yang mengkonsumsi obat terlarang. Kaum L6b7 tidak segan mengajak orang lain untuk memaklumi atau bahkan join komunitasnya. Kesimpulannya, maksiat pun gada yang "fokus pada diri sendiri". Mereka juga menyerukan kebathilan.
Dan kita juga perlu sadari bahwa "yang berat bukan rindu, tapi berusaha hijrah menuju baik di tengah kehidupan yang gak baik". Kita berada di tengah kehidupan yang jauh dari Islam. Aturan kehidupan yang ada justru mendorong kita untuk lebih mudah bermaksiat daripada taat.
Hidup dalam sekulerisme membuat kata hijrah terkesan aneh, asing, kolot, radikal bahkan cikal bakal teroris. Padahal ide sekulerisme justru Toxic, ngajarin hidup bebas tanpa taat sama Allah. Atau kalaupun taat cukup di Ramadhan doang, selesai Ramadhan ya berakhir juga taatnya. Inilah wujud nyata ide yang memisahkan agama dari kehidupan.
Tahukah kalian, bahwa berusaha jadi baik di tengah kehidupan sekuler konsekuensinya ada dua, antara terasing atau terwarnai. Mau taat jadi insecure, banyak khawatirnya daripada aksinya. Mau istiqamah jadi sulit, iman udah kayak laut, ada pasang ada surut. Atau justru pemikirannya tercampur, udah belajar Islam sih tapi tetep pacaran, dalihnya ta'aruf padahal aktivitasnya umbar kemesraan. Hmm hmm hmm.
That's why sebenarnya gak cukup ya kita itu jadi orang baik yang senantiasa perbaiki diri, kita juga mesti menyerukan kebaikan. Kerusakan di depan mata ini, gak akan auto baik kalau kita ga menyampaikan kebenaran. Kita pun gak akan bisa taat totalitas kalau bukan hukum Allah yang jadi pedoman.
Disini pentingnya kita merenungi bagaimana dakwah Rasulullah SAW. Bahwa beliau ketika membina para sahabat, tidak hanya membentuk syakhsiyyah (kepribadian) Islam tapi juga militansi untuk menyeru kebaikan. Pasca Abu bakar as Shiddiq masuk Islam, maka beliau menyerukan tokoh Makkah lainnya untuk masuk Islam. Jadi, poinnya perbaiki diri dan berdakwah. Siap? In syaa Allah siap ya karena dakwah itu kebutuhan dan kewajiban. Semangat! (reper/baim)


Posting Komentar untuk "Hijrahku, Bukanlah Hijrah Biasa"