Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Galau, Salah Nggak Sih?

Oleh: Sarmiwati


Remaja zaman now atau dikenal dengan remaja milenial punya gaya yang sangat berbeda dengan remaja dahulu kala, dan itu tentu di pengaruhi oleh berbagai aspek seperti ketersedian fasilitas yang modern, sarana serta teknologi canggih yang berbeda  sekali dengan masa dahulu. 


Namun tentu itu semua merupakan sebuah alasan mengapa remaja milenial seharusnya bisa menghasilkan prestasi dan keadaan lebih baik dari remaja zaman dulu. Akan tetapi yang terjadi malah keadaan sebaliknya dimana fakta remaja zaman sekarang malah menjadi remaja yang gemar tersandung dengan kegalauan yang tidak berujung dan tidak  bermanfaat. 


Galau adalah suatu perasaan gelisah, tidak nyaman, sedih, nyesel, binggung dan sederetan kawan kawanya yang lain. sebenarnya kegalauan bukanlah sesuatu yang salah pada seoarang manusia khususnya yaitu para remaja yang sedang dalam masa pencarian jati diri atau masa dimana mereka sedang ingin-inginya untuk mencoba sesuatu yang baru. Namun fenomena ini punya efek negatif dan positif tergatung dari bagaimana galau itu mempengaruhi kehidupan seorang remaja itu sendiri, karena  biasanya seseorang yang sedang dalam kegalauan akan menyibukkan diri dengan kegalauan itu. 


Sebagaimana kegalauan remaja milenial saat ini seputaran fashion misalnya, maka keseharian mereka akan disibukkan untuk memperhatikan fashion- fashion terkini dan berusaha semaksimal mungkin mengikutinya tanpa tahu ujung akhir perkembangan fashion tersebut yang mereka pikirkan adalah bagaimana memuaskan diri dengan tampil sesuai fashion yang sedang trending.


Tidak hanya itu kegalauan yang tidak kalah  menyibukkan remaja adalah seputaran percintaan, Bagi remaja dengan pergaulan bebas mereka akan merasa resah dan gelisah jika mereka belum mempunyai “doi” yang bisa dipamerkan kepada teman-temannya dan untuk itu mereka melakukan segala hal untuk merealisasikannya keinginan mereka. Tidak jauh berbeda terkadang remaja dengan pergaulan yang sudah terjaga juga terkadang terjerat akan fenomena ini, mungkin yang membedakanya adalah jika remaja dengan pergaulan bebas berusaha medapatkan si “doi” lewat pacaran, remaja dengan pergaulan yang sudah terjaga akan di sibukkan dengan kegalauan untuk mendapatkan pasangan yang halal yang terkadang malah membuat remaja itu tenggelam dalam permasalahan dirinya sendiri dan akhirnya enggan untuk memikirkan yang lain.


Sungguh sangat disayangkan sebenanya jika hal itu terus berlangsung yang akhirnya akan menciptakan remaja yang individualisme (memikirkan diri sendiri) dan apatis (tidak mau tahu) terhadap perkembangan dunia di luar dirinya khususnya perkembangan agamanya. Yang mana seharusnya remaja adalah mutiara ummat yang nantinya mereka akan menjadi agen perubahan di tengah-tengah masyarakat, dan ditangan- tangan mereka akan tiba masanya diserahkan tanggung jawab mengurusi masyarakat banyak. 


Namun bagaimana jadinya jika mereka yang di serahkan urusan mengurusi urusan ummat, tapi sibuk mengurusi permasalahan diri mereka sendiri. Namun tentu yang menjadi permasalahan bukanlah hadirnya sifat galau pada diri remaja itu sendiri karena sebenarnya galau akan sangat baik ketika kita tempatkan pada posisi yang baik, seperti kegalauan kita terhadap amalan/ibadah yang kita lakukan apakah dengan itu sudah cukup untuk mencuri Ridha-Nya penguasa alam semesta ini? Apakah ibadah kita sudah mampu menutupi dosa-dosa yang pernah kita lakukan? Atau apakah ibadah-ibadah yang kita lakukan sudah akan pasti diterima oleh-Nya yang terkadang kita lakukan karena terpaksa, tergesa-gesa, dan mengambil batas minimal dalam menunaikannya kewajiban atau perintah dari-Nya.


Tentu kegalauan yang seperti itu sangat dibutuhkan agar setiap harinya remaja akan berlomba-lomba dalam memantaskan diri menjadi seorang hamba yang akan memperoleh Ridha dari penguasa alam semesta yaitu Allah SWT. (reper/az)

 

Posting Komentar untuk "Galau, Salah Nggak Sih?"