Bukan Cinderela Tapi Solehah
Oleh: Cut Zhiya Kelana, S.Pd (Aktivis Peduli Remaja Aceh)
Apa sih kira-kira bayangan kita kalo mendengar kisah cinderela? Gadis upik abu yang teraniaya dan kemudian dipinang sang pangeran, benar gak! Seperti itulah kira-kira ya, bayangan para kaum hawa yang selalu ingin menikah dengan sang pangeran berkuda putih, tapi ini Cuma sebuah kisah basi tapi cukup laris jadi tontonan remaja saat ini. Yang akhirnya membuat hayalan mereka semakin meninggi bahwa kemungkinan hal itu bisa aja terjadi.
Menikah adalah impian banyak kaum jomblo, pastinya pernikahan adalah sebuah ikatan yang direstui dimata agama. Yang mencegah kita untuk berzina dan mampu untuk mengendalikan nafsu. Namun pernikahan tak semudah bayangan, konon lagi jika kita telusuri dibanyak wilayah ada berbagai macam adat yang membuat semakin sulit untuk menuju sebuah pernikahan. Sehingga hal-hal aneh pun bisa terjadi ketika syahwat ini tak terpenuhi, dari nikah sama manusia yang harusnya fitrahnya gitu, malah beralih kepada hewan, benda mati dan yang gaib.
Pernikahan impian banyak kaum hawa itu seperti apa? Seperti yang sengaja media hembuskan, lelaki idaman, kaya raya, tampan, atletis, pintar dll. Nah...ketika hal itu tak terwujud maka akan terjadi pembullyan. Hembusan angin kapitalis ini bagai racun yang membuat kaum hawa mengikutinya. Didukung oleh banyaknya tontonan nyaris hampir sama semua alur ceritanya adalah tereskpos seperti itu, upik abu jadi ratu. Drakor salah satunya, hingga mimpi untuk bisa menikah dengan salah satu dari mereka.
Kenyataannya tidak seperti itu kawan, memang syarat pernikahan itu ada 4 faktor yang harus diperhatikan, kekayaan, keturunan, tampan namun yang lebih penting adalah agamanya. Ini yang sering terlupakan oleh para kaum hawa, mereka lebih rela mewujudkan mimpinya menjadi cinderela dengan sepatu kaca dari pada menjadi sebaik-baiknya wanita soleha yang diibaratkan seperti perhiasan dunia. Yang artinya perhiasan manapun pasti kalah cantik dengan wanita yang bergelar soleha.
Udah akhiri saja mimpi indah untuk jadi cinderela, itu hanya gambaran palsu dari kapitalisme. Yang jelas mengiming-imingkan kebahagiaan semu. Percaya deh, yang kalian lihat itu tak seindah ketika mejalaninya kelak. Mungkin sebagian iya mampu mewujudkan itu dan bertahan, namun pada akhirnya mereka hanya menemui kekosongan hati. Tidak tenang bahkan selalu harus waspada, yang nanti takut dirampoklah, suaminya selingkuhlah dll. Karena itu baiknya kembali menuju jalan yang sesuai tuntunan syariat. Menjadikan diri dengan predikat solehah yang dicemburui bidadari syurga. Syarat nikah jangan ditambah dengan alasan klise memperbaiki keturunan, karena keturunan yang baik hanya lahir dari orang tua yang soleh juga. Pilihan kita saat ini menentukan masa depan nantinya, mau akhir yang bahagia bukan sad ending. Buang jauh mimpi cinderela dengan sepatu kaca dilamar pangeran berkuda putih, tapi tanamlah bahwa kita menginginkan lelaki terbaik yang akan mengenggam tangan kita menuju jannahnya. Wallahu a’lam
(reper/baim)


Posting Komentar untuk "Bukan Cinderela Tapi Solehah"