MUHASABAH DI TENGAH WABAH : SAAT MAUT SEJENGKAL LEBIH DEKAT
Oleh: Marshanda Vena (Siswi SMK Al-Irsyad Surabaya)
Setahun lebih negeri kita tercinta dirundung pandemi covid-19. Berita duka seperti menjadi makanan sehari-hari. Dilansir dari laman bnpb-inacovid19.hub.arcgis.com, per 10 juli 2021, korban meninggal akibat covid-19 yang terkonfirmasi sebanyak 776 dalam 1 minggu. Itu artinya, dalam sehari terdapat lebih dari 100 kematian. Beberapa hari yang lalu, Majelis Ulama Indonesia juga memberikan pernyataan bahwa selama pandemi covid-19 melanda Indonesia, terhitung sudah 584 ulama wafat (cnnindonesia.com).
Ada perasaan sedih yang menyeruak dalam dada. Karena wafatnya ulama merupakan tanda diangkatnya ilmu dari atas muka bumi. Seolah menjadi tamparan bagi kita semua untuk bersegera menuntut ilmu sebelum maut menjemput. Dalam kondisi saat ini dimana ajal terasa lebih dekat, maka sebenarnya kita hanya tinggal menunggu giliran. Siapkah kita? Apa bekal terbaik yang sudah kita persiapkan untuk menyambut kematian itu? Kematian yang kebanyakan manusia lari daripadanya.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa’ : 78)
Tingginya pertambahan kasus harian covid-19, layanan kesehatan yang mulai colaps mengingatkan kita semua bahwa, harga nikmat sehat hari ini begitu mahal. Harta yang siang malam dikumpulkan, ternyata tidak ada gunanya ketika nafas kian terasa sulit, namun tak ada satupun rumah sakit dengan alat bantu nafas yang kosong. Mobil mewah, rumah megah yang nyaman, hidangan makanan bak hotel bintang lima, semua tak ada artinya tatkala nikmat sehat Allah cabut, nikmat bernafas lega, nikmat indera penciuman, nikmat indera perasa Allah cabut. Keluarga, anak keturunan yang kita banggakan, istri yang cantik, suami yang menawan, semua tak mampu menjadi penolong saat sakaratul maut menjemput tubuh yang digerogoti oleh virus.
Semua hanya akan menjadi cerita, dunia yang selama ini kenikmatan dan kebahagiaannya kita anggap nyata. Begitu lemahnya akal manusia yang tak mampu memahami hakikat kehidupan tanpa petunjuk dari Rabbul Alamin. Pandemi ini harusnya menjadi nasehat bisu bagi kita semua bahwa kematian itu pasti, sesuatu yang pasti adalah dekat adanya. Dia tak mengenal si miskin atau kaya, si tua atau si muda bahkan siap ataupun tidak.
Maha Baik Allah, yang ketetapanNya senantiasa baik. Walau seluruh penduduk bumi mencelanya. Dari pandemi kita belajar, bahwa sekuat apapun kita berikhtiar, ada Allah yang Maha Tahu perkara terbaik bagi kita. Bahwa selemah apapun kita terseok, ada Allah Maha Kuat yang akan menolong. Dari pandemi kita merenung, bahwa obsesi dunia yang selama ini mungkin telah memenuhi relung hati dan pikiran, yang tanpa kita sadari telah membekukan hati, melenakan pikiran, sehingga jauh dari mengingat kematian. Cukuplah nasehat Ad-Daqqaq Rahimahullah dalam kitab At-Tadzkirah,
“Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, dia akan dimuliakan dengan tiga perkara, yaitu: (1) bersegera dalam bertaubat, (2) hati yang qanaah, (3) bersemangat melakukan ibadah. Barangsiapa yang lupa mengingat kematian, dia akan dihukum dengan tiga perkara, yaitu: (1) menunda-nunda taubat, (2) tidak rida terhadap pemberian (takdir) Allah, (3) malas beribadah.”
Maka, bersegeralah dalam bertaubat kepada Sang Maha penerima taubat sebelum kematian datang ditempat. Segerakanlah sholat, jangan menunggu saat tubuh sudah berada diliang lahat. Segerakanlah membaca Al-qur'an sebelum mata terpejamkan oleh timpahan tanah. Dan segerakanlah bersedekah sebelum tangan terlipat dan tertutup oleh kain kafan.
Semoga kematian masih cukup untuk melelehkan kebekuan hati. Semoga banyaknya kabar duka yang berlalu lalang, sibuknya ambulance dan mobil jenazah, mampu melecut diri untuk semakin menyibukkan diri dalam ketaatan. Mempersembahkan amal terbaik kepada Dia yang Maha Baik. Mempersiapkan sebanyak-banyak bekal untuk kehidupan yang abadi. Dan semoga kita semua diberikan usia yang barokah oleh Allah, Rabbul alamin. Aamiin. Wallahu alam bishawab. (reper/yuni)


Posting Komentar untuk "MUHASABAH DI TENGAH WABAH : SAAT MAUT SEJENGKAL LEBIH DEKAT"