Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemuda Pengubah Peradaban

Oleh: Ita Mumtaz


Hai kalian para remaja milenial. Apa kabarmu hari ini? Pasti lagi semangat kan. Karena masa remaja adalah masa yang istimewa. Memiliki energi penuh, ibarat sebuah gadget, full battery. Benar apa yang dikatakan oleh seorang ulama, bahwa seorang pemuda bagaikan matahari yang bersinar tepat Pukul 12 Siang, dimana matahari sedang dalam panas dan teriknya yang sangat. Yaitu panas membakar. Iyes, karena semangat seorang pemuda itu senantiasa menyala-nyala. Bak gelombang air laut yang tak pernah berhenti. 


Namun rasa ingin tahunya pun besar, suka penasaran, mencoba hal-hal baru hingga demen membebek, mengikut saja kemana arus mengalir. Labil banget kan dengarnya. Tapi memang begitulah adanya. 


Apalagi di era digital hari ini. Seolah kehidupan remaja itu tak bisa dipisahkan 24 jam dengan si gawai. Ketika sedang makan, tidak lupa posting. Apalagi jika lagi jalan-jalan. Wah, sebuah momen yang sangat sayang untuk dilewatkan, wajib diunggah di Instagram atau tik tok. 


Jalan hidup yang ditempuh pun seolah tak jauh-jauh dari tuntunan medsos. Jika tidak mau dikatakan gak kekinian, gak asyik, gak gaul, ya harus update yang lagi viral, lalu dikuti. Padahal konten-konten yang tersebar di jagat maya itu hampir semua didominasi oleh hal-hal unfaedah, hura-hura, dan kesenangan sesaat. Seperti berjoget di tik-tok, konten uwu pacaran, umbar aurat, mengejar sang artis idola dan beragam sensasi lainnya. 


Sesaat, dalam hitungan detik, konten-konten unfaedah pun menyebar lalu viral. Entah berapa banyak pasang mata yang menonton sekaligus menghabiskan kuota data untuk sesuatu yang negatif dan tidak layak dilakukan oleh generasi muslim. Semua ini tentu memberikan pengaruh buruk bagi pembentukan jiwa dan karakter generasi muda.


Dalam sistem kapitalis yang menggunakan asas sekuler, yaitu pemisahan aturan agama dari kehidupan, setiap orang bebas berbuat apa saja tanpa memperhatikan batasan syariat. Termasuk bebas membuat konten sampah demi mencari kepuasan jasmani semata.


Segala cara akan dilakukan oleh remaja, asal bisa viral dan terkenal. Misal melakukan hal-hal aneh,  mengundang kontroversi bahkan mengorbankan teman demi tercipta konten "prank." Semuanya demi apa coba, jika tidak mengejar likers dan followers, agar dikata hebat sejagat. 


Itulah, seakan tujuan hidupnya hanya untuk mengejar kesenangan semu semata. Aturan Islam yang lengkap dan sempurna hanya dipilih dan dipilah sesuka hatinya. Shalat lima waktu bisa jadi dilakukan, tapi maksiat tetap jalan. Demi meraih eksistensi dan harga diri, rela menukar akhirat dengan dunia.


Selama suasana sekulerisme masih mewarnai negeri ini, maka para remaja akan menjadi generasi labil dan rapuh. Mereka selalu ikutan yang lagi viral, tergiur dengan segala tawaran kesenangan dunia yang sebenarnya semu. Jadilah generasi bucin dan alay yang jauh dari idealisme. Dikira hidup adalah tentang kesenangan dan limpahan materi. Padahal sejatinya kehidupan ini adalah perjuangan dan pengorbanan.   


Jika demikian faktanya remaja sekarang, mau dibawa ke mana nasib negeri ini? Sesungguhnya bangsa ini tidak akan mampu bangkit di tangan para pemuda yang rapuh.


Lantas bagaimana kiprah pemuda dalam mengubah peradaban? Sejarah telah membuktikan betapa pemuda adalah penentu baik dan buruknya sebuah peradaban. Tercatat dalam tinta emas, peran pemuda dalam kebangkitan Islam sangat besar. Penakluk benteng Konstantinopel di Romawi adalah seorang pemuda di bawah umur 24 tahun, yaitu Sulthan Muhammad Al-Fatih.


Sebelumnya, seorang panglima muda berusia 25 tahun, Thariq bin Ziyad juga sukses membuka penyebaran Islam ke negeri Matador setelah menaklukkan 100.000 pasukan Spanyol pimpinan Raja Rhoderik.


Demikian pula di masa sahabat Rasulullah kita mengenal Usamah bin Zaid yang dalam usia belia, yakni 18 tahun, mampu menjadi panglima perang terhebat sepanjang masa. 

Ali bin Thalib, di usia yang masih kecil rela menggantikan posisi tidur Rasulullah di rumahnya saat diancam bunuh oleh orang-orang kafir Quraisy.


Mereka adalah sosok pemuda Islam yang berhasil menunjukkan pada dunia, bahwa pemuda pun mampu berkontribusi dalam kebaikan.


Sebagai remaja muslimah, sangat layak bagi kita meneladani figur para sahabat Rasulullah. Betapa mereka adalah sosok cerdas, sehingga rela memanfaatkan usia belianya dengan kegiatan positif, yaitu berdakwah dan membela Islam demi meraih kemuliaan dunia akhirat. 


Kita semua memiliki potensi yang sama seperti mereka. Pesan Rasulullah Saw, gunakanlah masa mudamu sebelum masa tuamu. So, kita harus mulai bergerak. Karena mager dan berdiam diri hanya akan membekukan hati dan memasung potensi diri.


Sebagai langkah awal, luangkan waktu untuk mengenal Islam dengan cara belajar dan mengkajinya bersama teman-teman shalihah yang senantiasa mengingatkan dalam ketaatan. Sehingga ilmu dan wawasan kita semakin bertambah. Mata hati kita pun akan terbuka melihat kondisi umat Islam yang kian terpuruk. Sehingga akan tergugah dan semangat untuk turut berkiprah dalam memperbaiki negeri ini. 


Karena kita tahu pasti, bahwa Islam bukan agama ritual belaka, yang meluku tentang shalat dan zakat. Tapi Islam adalah solusi bagi setiap problem yang merintangi langkah kita. Semua aktivitas mulai bangun tidur hingga membangun negara diatur oleh Islam.


Mari kita temukan tujuan hidup, hingga menjadi remaja yang berprinsip Islam kuat dan bervisi akhirat. Istiqomah dalam ketaatan bukan berarti kudet, kurang gaul dan tenggelam dalam kunonya zaman. Justru kita harus menjadi remaja yang paling update, terdepan mengikuti perkembangan dan informasi kekinian. Lalu kita sikapi dengan idealisme Islam yang dimiliki.


Kita pun akan lebih semangat memanfaatkan media sosial untuk share kebaikan, membuat konten dakwah demi menunjukkan kepada teman-teman tentang indahnya Islam.


Sebab kita tahu setiap detik yang kita lalui sangatlah berharga, karena Allah akan memberikan balasan pada setiap kebaikan yang ditorehkan dengan Surga-Nya. Sebagaimana pesan dari Imam Syafi’i yang mengatakan, “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki lmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan).” 


So, yuk berproses menjadi generasi Islam yang tangguh layaknya para pemuda hebat teladan kita. Dengan begitu, kita akan pantas mendapatkan cinta dan surga Allah. 

Wallahu a'lam bish-shawwab. (reper/baim)

 

Posting Komentar untuk "Pemuda Pengubah Peradaban"