Cemerlangnya Akal Imam Abu Hanifah Menuntun pada Misi yang Lurus
Oleh: Astriani Ayu Lestari
Imam Abu Hanifah, memiliki nama lengkap Nu’man bin Tsabit bin Zautha lahir pada tahun 699 M di kota Kuffah, Imam Abu Hanifah lahir dari keturunan Persia dan ayahnya adalah seorang pedagang kain sutra yang cukup termashur saat itu. Beliau termasuk generasi tabi’in karena sempat bertemu dengan beberapa sahabat Rasullullah SAW. Imam Abu Hanifah adalah salah satu peletak dasar ilmu fikih yang terlenal dengan akalnya yang cemerlang. Beliau adalah imam ahli Ra’yi, yang mampu mendayagunakan akalnya dalam memutuskan hukum-hukum fikih, tanpa meninggalkan nash Al-Quran dan Hadist.
Kecemerlangan akal imam Abu Hanifah, sudah telihat sejak beliau kecil. Imam Abu Hanifah sedari kecil sudah hafal Al-Quran. Beliau giat mengulang-ulang hafalannya. Namun mendalami ilmu agama tidaklah menjadi prioritasnya utamanya. Imam Abu Hanifah lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdagang.
Pada suatu ketika, Imam Abu Hanifah sedang berbincang dengan sahabatnya. Imam As-Sya’bi yang melihat Imam Abu Hanifah kecil memiliki firasat atas kecerdasan yang diperlihatkan imam Abu Hanifah yang berbeda dengan kemampuan anak seusianya. Lantas Imam As-Sya’bi berkata kepada beliau “Wahai Nu’man, janganlah engkau sia-siakan waktumu hanya dengan berniaga dengan mengejar dunia. Tapi hendaklah engkau mempelajari ilmu Allah dari Al-Quran dan sunnah, karena dengan begitu engkau akan memberikan manfaat lebih kepada manusia.”. Nasihat tulus tersebut ternyata sangat membekas pada Imam Abu Hanifah, sehingga membuat Imam Abu Hanifah tergerak untuk belajar ilmu agama.
Imam Abu Hanifah kemudian beguru kepada Imam As-Sya’bi. Sepeninggal Imam As-Sya’bi, beliau kemudian berguru kepada Imam Hammad bin Abi Sulaiman selama 18 tahun. Karena kefaqihannya, Imam Hammad bin Abi Sulaiman mengamanahkan Imam Abu Hanifah untuk melanjutkan majelisnya sepeninggal beliau. Setelah itu, beliau terus mepelajari ilmu agama. Bahkan tercatat bahwa guru imam Abu Hanifah mencapai 4.000 orang. Hal ini tidaklah mengherankan karena saat musim haji dan umrah, beliau memanfaatkan waktu tersebut untuk mempelajari ilmu di Makkah dan Madinah karena pada waktu tersebut para Ulama dari seluruh penjuru negeri berkumpul di dua kota tersebut.
Dengan tempaan ilmu dari guru-guru yang memberikannya pemahaman dalam beragama, kecemerlangan akal Imam Abu Hanifah mampu mematahkan berbagai pertanyaan yang harus dihadapinya. Salah satunya mematahkan pemahaman orang-orang atheis. Pada suatu hari, datanglah orang-orang atheis menemui Imam Abu Hanifah. Mereka berkata “Wahai Abu Hanifah, kami tidak percaya bahwa Allah yang telah mengatur alam semesta, karena kami tidak mampu melihatnya, tidak mampu merasakannya, maka Allah itu tidak ada.” Maka imam Abu Hanifah menjawab “Sebentar, aku sedang mendapatkan kabar yang luar biasa. Ada sebuah kapal bermuatan barang perniagaan yang berharga, Kapal berlayar dari sebuah Pelabuhan di Barat, menuju sebuah Pelabuhan di Timur. Di perjalanan kapal ini dilanda badai yang luar biasa, sehingga kapal ini terombang ambing di lautan.
Namun pada akhirnya kapal ini sampai ke tujuan. Yang aneh adalah kapal ini tidak ada nahkodanya. Orang atheis menjawab “Bagaimana mungkin?”. Lantas Imam Abu Hanifah Menjawab “Apakah kalian percaya dengan apa yang aku katakan tadi?”. Orang atheis “Kami tidak percaya. Mengapa ada kapal tanda nahkoda tapi bisa sampai ke tujuan”. Imam Abu Hanifah kemudian berkata “Kalian lebih aneh. Kalian tidak percaya ada kapal tanpa nahkoda yang terombang-ambing tapi sampai ke tujuan. Tapi kalian tidak percaya bahwa alam semesta dengan segala keteraturan dan kesempurnaannya tidak ada yang mengaturnya. Ini sungguh suatu hal yang sangat aneh.”
Hikmah yang bisa dipetik dari kisah Imam Abu Hanifah adalah, kita sebagai seorang muslim mungkin seringkali merasa tidak memiliki passion untuk mempelajari agama Allah. Tapi dengan anugerah akal yang dikaruakan Allah, yakinilah bahwa mempelajari agama Allah dari Al-Quran dan Sunnah akan memberikan manfaat yang lebih banyak bagi umat manusia, yakni kemaslahatan dunia dan akhirat. Jadi selayaknya kita harus melecutkan semangat bahwa misi hidup yang harus dikejar adalah memperjuangkan agama Allah. Tidak penting passion kita apa, tapi misi yang lurus sejatinya yang harus diperjuangkan.(reper/az)


Posting Komentar untuk "Cemerlangnya Akal Imam Abu Hanifah Menuntun pada Misi yang Lurus"