Anak Durhaka Zaman Now
Oleh: Kartiara Rizkina M S. Sosio (Aktivis Muslimah Aceh)
Guys.. Pernah dengar cerita malin kundang gak, Atau cerita batu menangis. Cerita rakyat tentang anak yang durhaka terhadap ibunya. Cerita rakyat ini mungkin sangat familiar saat kecil-kecil dulu, sehingga dulu kita takut sekali untuk menjadi batu seperti Malin Kundang apabila durhaka terhadap orang tua.
Tapi guys, bukan hanya cerita rakyat, di kehidupan nyatapun ternyata juga ada cerita-cerita anak yang durhaka. Faktanya banyak kasus anak yang melaporkan orang tuanya karena persoalan harta, ada juga kasus orang tua yang di buang oleh anaknya sendiri. Misalnya seperti kasus yang terjadi di wilayah Kecamatan Meuraxa, kota Banda Aceh, seorang pria lansia diperkirakan berumur 80 tahun dengan postur kurus, lemah, nafas terengah-engah, dan tangan membengkak, yang akhirnya meninggal.
Menurut Misra Yana, ketika mereka tiba di lokasi tak jauh dari pinggiran Jalan Sultan Iskandar Muda, sebelum meninggal pria lansia tersebut sempat berkomunikasi meski sangat kepayahan. Dia mengaku dibuang oleh anak-anaknya ke lokasi itu sehari sebelumnya (serambinews 3/4/2020)
Kok bisa ya? Apa gak takut jadi Malin Kundang?
Ya bisa aja, fenomena anak durhaka memang sering terjadi dalam sistem kapitalis sekuler, sebab orientasi kehidupannya didasarkan pada asas materi dan untung rugi. Sehingga apabila ada orang tua yang sudah lansia maka dianggap sebagai beban dan merugikan. Sistem kapitalis sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan menciptakan keluarga yang tidak dilandasi ketaatan, kasih sayang, menghormati, bahkan peduli, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah salallahu alaihi wawassalam
Itu satu sisi cerita, tapi disisi lain justru situasi yang memaksa seorang anak menitipkan orangtuanya sendiri ke panti jompo di karenakan kemiskinan, seperti dalam kasus seorang ibu bernama Trimah, 65 tahun, warga Magelang, Jawa Tengah, dititipkan ke sebuah panti jompo, Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, Jawa Timur. Dalam wawancara dengan tvOne, Minggu, 31 Oktober 2021, ia mengatakan alasan dia dititipkan ke panti jompo adalah karena anak-anaknya tidak mampu membiayai orang tua (viva.co.id 31/10/2021)
Sobat, kita juga perlu sadari negara dengan sistem kapitalis sekuler telah tampak tidak mampu menjadi pengurus dan penjaga umat. Negara gagal menciptakan keluarga yang harmonis dan menjalani fungsinya sebagai benteng perlindungan dan tempat kembali yang paling diidamkan.
Justru lepas tangannya negara atas kekuatan keluarga malah memunculkan krisis multidimensi diantaranya yaitu kemiskinan. Situasi kemiskinan ini memaksa anak harus menitipkan orang tuanya yang sudah lansia ke panti jompo untuk mengurangi tekanan hidup.
Dari sistem ini dihasilkan anak durhaka yg mati fitrah krn tiadanya pemahaman ttg memuliakan orang tua dan akibat kerasnya tekanan hidup.
Islam punya cara tersendiri untuk membentuk sebuah keluarga yaitu dengan ketakwaan individu, dimana itu akan menjadi pengontrol utama dalam sebuah keluarga. Keluarga yang dibina tanpa ilmu dan hanya berdasarkan nafsu akan mengakibatkan kehancuran seperti saat ini, karena itu diperlukan sebuah visi dan misi yang kemudian menjadi kemudi dalam berumah tangga yaitu iman dan takwa.
Selain itu negara sebagai penyokong terhadap berjalannya fungsi keluarga. Baik mengatasi kemiskinan, memberikan pendidikan Islam agar terciptanya individu yang berilmu dan bertakwa, juga menciptakan lingkungan yang islami yaitu dengan menerapkan hukum Islam di tengah-tengah masyarakat. Karena tanpa negara yang menerapkan hukum, maka solusi apapun tidak akan ada habisnya. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Anak Durhaka Zaman Now"