Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Move on


 Oleh: Malika Arinal Haq (Santri Ponpes Darul Bayan Sumedang) 


Pada awalnya istilah move on populer dipakai sebagai trigger bagi mereka yang ditolak atau putus cinta, karena buat yang putus cinta, buat mereka hidup itu seakan udah berhenti alias mati suri gitu. Makanya muncullah istilah penyemangat "move on" yang menandakan kalo hidup itu harus bergerak dan belanjut.


Tapi seiring waktu, istilah move on banyak digunakan secara umum buat siapa saja yang stagnan, mandeg atau galau arah hidunya, terus mereka milih buat bergerak, bangkit alias move on.


Ibaratkan masyarakat menyikapi masalah di kehidupannya, bisa dikelompokkan jadi tiga bagian, yaitu kelompok pemain, penonton dan terakhir masyarakat luar. 


Kelompok yang pertama, kelompok "pemain" adalah mereka-mereka yang sadar dan siap untuk turut serta bergerak bersama-sama untuk menyelesaikan maslahnya, bahkan mereka melatih dirinya dengan ilmu, hingga nanti ketika udah bener-bener terjun ke masyarakat bisa ngasih problem solving persoalan masyarakat, mereka-mereka inilah yang milih buat move on.


Yang kedua kelompok "penonton", atau komentator. Mereka ngeliat sih fakta kerusakan yang terjadi di tengah masyarakat, tapi mereka juga suka banget komentar, ada yang komentarnya positif atau mendukung, tapi gak sedikit juga yang sok pinter, ada juga yang layaknya suppoter fanatik. Kalo menurut mereka itu menarik mereka mendukung untuk menang, tapi giliran kalah mereka malah bikin ulah dan masalah.


Yang terakhir "masyarakat luar". Mereka gak ngeliat dan bahkan cuek dengan keadaan disekitarnya. Kalo di ibaratkan persis kayak  masyarakat di luar stadion yang sering gak ambil pusing dengan apa yang terjadi di dalam stadion. Entah apapun yang terjadi di dalam stadion, mau itu rusuh kek, menang atau kalah, mereka milih buat bodo amat dan cuek. Jangan sampe kita ada di kelompok yang kedua dan yang ketiga ini nih, yang cuman sekedar nontonin, komentar apalagi cuek dengan kondisi sekitar.


Karena move on itu menunjukan kalo kita itu care. Move on alias bergerak, tapi tentunya bukan bergerak yang emang gak tau tujuan. Kita ini harus sadar sesadar-sadarnya kalo kita ini Muslim yang artinya seluruh masalah apa aja kita harus tanya atau standarisasi pake islam. Coba kita liat deh dalam Al Qur'an atau hadits, apa Islam cuman sekedar ngatur ibadah? enggak kan? Bahkan Islam gak cuman ngatur itu aja, tapi mengatur seluruh aspek kehidupan. Coba nanti liat lagi deh, kalo perlu terjemahannya sekalian di baca, bahwa Al Qur'an dan hadits mengatur hidup manusia dari bangun tidur sampe bangun negara. Masalah ibadah sampe urusan pemerintah. Mulai dari kita bayi sampe kita mati. Semua diatur Islam secara lengkap dan menyeluruh. Maka, udah saatnya nih umat Islam menyadari kesalahan ini dengan menjadikan Islam sebagai idiologi, karena umat Islam dulu pernah berjaya, sejahtera, mulia ketika Islam dijadikan sebagai idiologi. Sekali lagi, kalo kita mau jujur, umat ini dulu pernah bangkit, pernah move on dengan idiologi Islam yang terpelihara. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Move on"