Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hidup Hanya Sebentar, Kenapa Ingkar Terhadap Aturan Allah?

Oleh: Mochamad Efendi


Dalam sebuah kisah terjadi percakapan antara Nabi Nuh as dengan seorang wanita yang menangisi kematian anaknya, yang usianya 300 tahun. Untuk menghibur wanita tersebut, beliau menyampaikan bahwa nanti ada satu masa yang rata-rata usia mereka  tidak melebihi 60 tahun. Dan itu benar terjadi pada saat ini, usia yang sangat singkat dibandingkan dengan umat nabi Nuh as. Di usia yang singkat ini, sudah seharusnya kita mempersiapkan diri untuk bekal akhirat dengan memperbanyak ibadah dan taat kepada Allah SWT.,  serta menjauhi kemaksiatan. 


Tidak seharusnya kita terlalu mencintai dunia dengan melupakan kampung akhirat. Tidak puas mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, padahal semua itu tidak akan bisa mengekalkan kita hidup di dunia, dan tidak lama lagi semua itu akan ditinggalkan. Untuk apa rumah megah, investasi tanah, dan simpanan uang maupun perhiasan, jika semua itu tidak digunakan dan dimanfaatkan untuk kehidupan di dunia dan bekal kita nanti di akhirat. Sungguh, rugi tiba-tiba saja ajal datang menjemput dan tidak semua yang dimiliki  menjadi rezekinya selama hidup, karena semua hanya dikumpulkan dan dihitung-hitung saja. 


Geas, hidup yang sebentar ini jangan dijadikan tujuan. Dunia adalah ujian yang harus disiapkan agar layak untuk mendapatkan surgaNya, sebaik-baik tempat kembali. Berfikir cerdas atas dunia yang hanya sebentar, kita harusnya semangat untuk beribadah, berbuat banyak kebaikan untuk bekal akhirat, bukan hanya memperbanyak maksiat. Untuk apa banyak harta, jika semua itu hanya menjadi penghalang untuk taat kepada Allah SWT. Untuk apa jabatan dan kehormatan, jika itu semua tidak meningkatkan ketaatan kita pada Sang Pemilik Hidup, bahkan itu semua membuat kita lupa diri atas tujuan hidup dan menggelincirkan kita ke lembah dosa. Celaka, apa yang kita banggakan selama di dunia hanya membawa kita pada seburuk-buruk tempat kembali. 


Harusnya kita bersyukur masih diberi kesempatan hidup, artinya pintu taubat  masih terbuka untuk kita. Alhamdulilah, masih diberi kesehatan dan kekuatan untuk beribadah. Istighfar dan segera bertaubat agar tidak menyesal karena hidup ini hanya sebentar, jika di bandingkan kehidupan akhirat nanti untuk selama-lamanya. Jangan lupa diri, tapi ingat tujuan hidupmu.  Hidup harus berani memilih yang benar sesuai dengan ajaran Islam yang lurus dan mulia. Tidak peduli banyak orang memusuhi kita, yakinlah Allah akan menolong kita saat kita menolong agamaNya. 


Ingatlah sebentar lagi kita akan tinggalkan dunia untuk selama-lama dan apa yang kita cintai dam banggakan. Kita tidak akan kembali kepada mereka. Rugi kan jika selama ini kita mati-matian memikirkan sesuatu yang pasti kita tinggalkan. Harusnya kita siapkan amal kebaikan yang dikaitkan dengan Islam yang bisa menjadi bekal kita nanti untuk mengarungi kehidupan sesungguhnya setelah mati. Sudah terbukti banyak orang terdekat kita pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya dan tidak akan bisa kembali lagi.  Perpisahan dengan orang terdekat kita yang dulu menghabiskan waktu bersama, sekarang sudah tidak ada lagi, kembali kepada kehidupan lain yang lebih kekal. Dan semua itu bisa terjadi pada kita, sewaktu-sewaktu.


Jika memang hidup sebentar, mengapa ingkar dan menolak diatur dengan aturan Allah. Khilafah adalan ajaran Islam yang harusnya diperjuangkan, malah dipersekusi dan dikriminalisasi. Dengan khilafah, Islam bisa diterapkan secara kaffah, lalu apa yang salah. Aturan terbaik dari Yang Maha Sempurna memberikan solusi tuntas untuk semua masalah. Ingatlah, tidak lama lagi kita tinggalkan dunia yang fana ini, kenapa tidak kita buat banyak jejak kebaikan dengan tegaknya khilafah. Jujur saja, apakah ada selain khilafah yang bisa menerapkan Islam secara kaffah. Apakah ada sistem selain khilafah yang mampu menciptakan kehidupan Islami. Jika khilafah sistem terbaik kenapa harus ditolak? 


Sebaliknya sistem kapitalis, sering membuat kita lupa diri. Bagaimana bisa memiliki bisnis menggurita dimana-mana, padahal semua yang akan dimintai pertanggung jawabannya. Pengadilan dunia mungkin bisa lepas karena menjadi bagian oligargi kekuasaan yang bisa mempermainkan hukum, tapi tidak pengadilan akhirat, sungguh berat karena sudah berlaku dzalim pada banyak orang, dan melanggar hukum Allah hanya untuk memuaskan nafsu untuk berkuasa dan mengumpulkan harta. Celaka, jika hidup yang sebentar tidak membuat kita sadar, malah menjadi budak nafsu dunia yang akan membawa ke neraka. Ngeri, limpahan kekayaan telah membuat seseorang lupa diri dengan tujuan hidupnya di dunia, yakni beribadah kepada al-Khalik.


Hidup hanya sebentar, apalagi yang usianya lebih dari 60 tahun, harusnya lebih mendekatkan diri dalam ketaaatan pada Sang Pencipta, bukan kemaksiatan apalagi berbuat dzalim pada banyak orang. Harusnya banyak berbuat baik pada orang lain di sisa usia yang sudah senja bukan malah menjadi-jadi mengumpulkan harta kekayaan, padahal tidak semua sempat dinikmati dan menjadi rizkinya, karena bisa jadi tiba-tiba jatah waktu di dunia sudah habis. Sungguh kasihan, tidak sempat menggunakan waktu untuk bertaubat dan memperbaiki diri agar layak mendapatkan surgaNya, sebaik-baik tempat kembali. Penyesalan penghuni neraka yang sia-sia, karena tidak merubah apa-apa, saat pintu taubat sudah tertutup. Mumpung masih hidup, kenapa tidak berfikir cerdas, untuk menggunakan waktu yang sebentar ini bertaubat, berubah dan hijrah karena sisa waktumu menentukan kehidupan akhiratmu yang kekal dan selama-lamanya. Jangan sampai penyesalan yang tiada akhir sebagai penghuni neraka yang sia-sia saat jatah waktu di dunia sudah berakhir dan jatah rezeki sudah habis. (reper/az)

 

Posting Komentar untuk "Hidup Hanya Sebentar, Kenapa Ingkar Terhadap Aturan Allah?"