Muslimah, Jadilah Pelaksana Syariat Allah!
Menjadi seorang muslimah adalah kebanggaan. Allah turunkan aturan (syariat Islam) ditujukan kepada manusia yang berakal, baligh dan waras. Oleh sebab itu, orang gila tidak wajib menjalankan syari'at, begitu juga dengan anak-anak belum diwajibkan menjalankan syari'at. Pun orang yang hilang akal, misalnya orang tidur, pingsan, atau pasien koma, mereka semua tidak dituntut melaksanakan syariat.
Islam adalah akidah dan syari'at. Konsekuensi saat seseorang menolak akidah atau syariat maka menjadikan seorang tersebut kafir. Demikian pula apabila menerima akidah, namun tidak melaksanakan syariat dikategorikan muslim yang durhaka dan berpotensi mendapat hukuman dari Allah.
Maka seorang muslim yang lalai dalam menjalankan syariat maka ia dianggap muslim yang durhaka. Ia dikenakan dosa sebagai ganjaran perbuatannya. Misalnya, muslim yang tak mau puasa padahal ia dikenakan syariat, maka ia akan mendapat ganjaran dosa karena membantah perintah Allah.
Lantas apakah syariat hanya berisi tentang larangan saja? tentu tidaklah demikian, syarat adalah aturan yang mengatur kehidupan manusia dengan Allah SWT, sesama manusia, dan dengan diri sendiri. Bisa dibayangkan jika manusia tidak ada yang mengatur maka tentu akan terjadi kacau balau.
Sebagai seorang muslim, wajib untuk taat pada semua aturan atau hukum-hukum dari Allah SWT tanpa kecuali. Dalam kehidupan ini, seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya, apalagi keyakinannya tersebut didasarkan pada dalil-dalil yang qath’i. Oleh karena itu, sudah semestinya seorang muslim yang menganut akidah Islam secara benar akan senantiasa berbuat dan bersikap selaras dengan akidah yang diyakininya. Karena jika tidak maka keimanannya perlu dipertanyakan.
Seseorang yang memeluk aqidah Islamiyah dengan sebenar-benarnya akan menjadikan aqidah tersebut sebagai landasan berpikir, berperilaku, dan berkepribadian, dan juga sebagai landasan dalam penentuan peraturan dan perundang-undangan dalam segala aspek sosial, politik, ekonomi, dan budaya, baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun bernegara.
Dengan demikian, konsekuensi bagi seorang Muslimah yang telah menganut akidah Islam tidak lain adalah menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikir dan bertindak. Yakni menilai segala fakta dari sudut pandang yang didasarkan pada akidah Islam. Menjadika dunia yang fana ini adalah tempat menanam bagi kehidupan akhirat, sehingga segala perbuatan tidak boleh melanggar ketentuan agama. Dalam Al-Qur'an sudah ditegaskan bahwa Allah SWT sudah menjelaskan apa yang menjadi tujuan hidup manusia dunia ini yang tertuang dalam TQS. Adz-Dzariyat :56
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku"
Dan Allah SWT juga telah menegaskan dalam QS. Al-Mu'minuun : 115
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"
Untuk mengetahui mana yang merupakan perintah dan larangan Allah SWT, maka ditempuh dengan cara belajar. Belajar dan mencari ilmu sangat penting bagi umat manusia. Dan untuk memilah antara baik dan buruk membutuhkan ilmu. Namun mengetahui kebaikan dan keburukan tidak cukup untuk mendorong seseorang untuk mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk kecuali dengan petunjuk Allah SWT.
Allah SWT akan memperlakukan adil setiap amalan yang dikerjakan umat manusia selama di dunia. Baik berupa amalan baik ataupun amalan buruk. Jika orientasinya adalah akhirat maka semua perbuatan di dunia kelak pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagaimana yang terdapat dalam QS.Al-Muddadstsir ayat 38 .
"Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya"
Maka dalam berbuat baik wajib bersegera dan tidak perlu menunggu ataupun menunda-nunda. Dan jikapun kebaikan yang dilakukan mungkin saja tidak mendapat perhatian dan mudah dilupakan tapi selama itu memberi manfaat teruslah menebar kebaikan. Karena sesungguhnya kehidupan di dunia ini tidak ada yang abadi. Dunia bukanlah tempat tinggal tetapi tempat yang akan kita tinggalkan, oleh karena itu berupaya mencari bekal sebanyak-banyaknya. Menanam kebaikan, menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.
Beberapa standar tidak syar'i yang digunakan oleh manusia diantaranya; asas manfaat, perasaan, pendapat orang banyak, serta undang-undang non syar'i. Apakah standar tersebut akan memberi kepastian. Apakah pasti berdampak baik, dalam jangka pendek, jangka panjang, maupun jangka panjang sekali? Tentulah tidak.
Bahwa sesungguhnya Islam telah menetapkan bagi manusia suatu tolak ukur atau standar untuk menilai segala sesuatu, sehingga dapat diketahui mana perbuatan yang terpuji (baik) yang harus segera dilaksanakan dan mana perbuatan tercela (buruk) yang harus segera ditinggalkan.
Islam memiliki standar atau tolak ukur yang bersifat pasti untuk menilai baik-buruknya sesuatu. Tolak ukur tersebut adalah hukum syara' yakni aturan-aturan Allah SWT yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan bukan akal dan hawa nafsu manusia. Sehingga apabila syara' menilai perbuatan tersebut terpuji (baik), maka itulah terpuji (baik) sedangkan apabila syara' menilai suatu perbuatan tercela (buruk) maka itulah tercela (buruk).
Tolak ukur ini bersifat abadi dan tidak berubah selama-lamanya. Karena itu perbuatan yang terpuji (baik) menurut syara' seperti jujur, menepati janji, berbuat baik kepada orang tua, melaksanakan jual beli dengan jalan yang halal, dan lain-lain tidak akan berubah menjadi perbuatan yang tercela (buruk). Demikian juga suatu perbuatan yang menurut syara' tercela (buruk) seperti dusta, ingkar janji, manipulasi, korupsi, memakan harta riba dan lain-lain tidak akan berubah menjadi perbuatan terpuji (baik). Jadi apa yang dinyatakan terpuji oleh syara' akan terpuji selamanya, begitu juga apa yang dicela oleh syariat, selamanya akan tetap tercela.
Dengan demikian, manusia akan dapat menjalani kehidupan di muka bumi ini dengan berada di atas jalan yang lurus (benar). Sebaliknya jika manusia menjadikan akal dan hawa nafsu untuk menentukan perbuatan terpuji (baik) dan perbuatan yang tercela (buruk), atau dengan kata lain membuat berbagai peraturan yang bertentangan dengan aturan yang diturunkan Allah SWT sehingga mereka berjalan di atas jalan yang salah, maka yang akan didapatkannya hanyalah kesengsaraan, kekacauan, kerusakan, kegelisahan, dan berbagai bencana yang silih berganti. Allah SWT berfirman:
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."(TQS. Ar Ruum 41)
Maka, sesuatu dinilai baik atau buruk dilihat dari aspek ridha-tidaknya Allah SWT terhadap sesuatu tersebut. Jika Allah SWT meridhai sesuatu, berarti sesuatu itu baik. Sebaliknya, jika Allah SWT murka terhadap sesuatu, berarti sesuatu itu buruk.
Semoga kit menjadikan diri kita sebagi muslimah yang taat dan bersegera dalam menyambut setiap perintah Allah. Tanpa tapi dan tanpa nanti. Wallahu'alam bi shawwab.(reper/baim)

Posting Komentar untuk "Muslimah, Jadilah Pelaksana Syariat Allah!"