Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ga Punya Ayang, Selow Aja...

Oleh: Thya Uswanas (Muslimah Papua Barat)


Beberapa waktu terakhir dunia per tik tokan viral dengan video-video yang menggambarkan betapa menyedihkan kehidupan anak muda ketika “gak punya ayang”, hal ini bukan sesuatu yang  baru dikalangan para remaja saat ini yang mana sangat dekat dengan pandangan-pandangan kebebasan dalam mengekspresikan cintanya. Lalu bagaimana pandangan islam tentang cinta? 


Potensi ketertarikan pada lawan jenis merupakan insting biologis (garizah) yang dibawa sejak lahir. Potensi ini mulai aktual ketika hormon seksual diproduksi oleh tubuh di usia baliqh yang ditandai dengan perubahan fisik dan psikis. Kecederungan ini adalah karunia Allah kepada manusia dalam rangka melanjutkan kehidupan ummat manusia.


Dalam sudut pandang Islam, jika seorang anak telah sampai pada taraf  kematangan (muturation) secara seksual disebut baliqh. Masa baliqh ini adalah ketika seseorang telah sampai pada taklif   dan yang telah mencapainya disebut mukallaf,  yaitu orang tersebut telah dibebankan kewajiban syar’i kepadanya. Mulai saat itu seorang anak  disebut dewasa karena ia  harus mempertanggungjawabkan   setiap amal perbuatannya kepada Allah.  Apabila ia berbuat baik  maka akan  diganjar dengan pahala, sebaliknya jika  berbuat salah, maka ia akan mendapat balasannya di dunia maupun di akhirat.


Islam  memberi lampu hijau  untuk melakukan pernikahan setelah masa baligh ini. Selain karena sudah masa taklif, ia dianggap sudah mampu berpikir matang dan dapat  membedakan   baik dan buruk.  Pernikahan untuk menjaga diri dari perbuatan zina atau seks bebas merupakan hal yang dipandang baik dalam ajaran Islam.


Dalam hadist disebutkan : “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian telah memiliki kesanggupan berumah tangga maka hendaklah ia menikah, karena hal itu dapat embatasi pandangan  dan memelihara kehormatan, akan tetapi jika ia belum mampu melakukannya maka hendaklah ia berpuasa karena hal itu dapat menjadi perisai (HR.Bukhari Muslim)

Kata pemuda / syabaab dalam hadist tersebut diartikan sebagai seorang yang sudah mencapai usia baliqh dan belum mencapai 30 tahun (Abdurrahman,Ad-Dibaaj:8). Kematangan secara seksual memang menimbulkan dorongan syahwat untuk beraktifitas yang mengarah kepada kegiatan reproduksi. Hal inilah yang mendorong manusia menuju kehinaan apabila hasrat tersebut disalurkan secara bebas tanpa melalui pernikahan yang sah. Jika  sang pemuda tersebut belum mampu menikah maka Islam menganjurkan untuk  memperbanyak  puasa (tidak makan dan minum) serta  menahan diri  dari hal-hal yang mengarahkan kepada rangsangan syahwat.


Di jelaskan Dalam al-qur’an surah an-nisa’: 28.  Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukan bahwa manusia pada dasarnya lemah terhadap godaan seksual dan  tidak ada sesuatu yang paling lemah yang dimiliki oleh manusia kecuali urusan seksual.


Kelemahan tersebut dimaknai sebagai problem manusia yang memiliki potensi untuk melampiaskan nafsu seksualnya secara tidak sah dengan dalih ketertarikan dan cinta kepada lawan jenisnya. Dalam sejarah juga ditemui berbagai macam penyimpangan perilaku manusia karena tidak mampu menahan nafsu seksualnya. Wajar jika al-qur’an mengatur sedemikian rupa masalah cinta dan seksualitas ini sesuai dengan fitrah manusia. Betapapun besarnya dorongan syahwat dan gejolak cinta dalam diri manusia, Islam tetap mengharamkan  hubungan percintaan diluar pernikahan.


Sesungguhnya ruang lingkup cinta dalam Islam sangatlah luas jika dibandingkan dengan cinta syahwat yang terbatas fisik dan materi. Islam juga telah memberi solusi terhadap penyaluran cinta ketika seorang anak mulai baliqh. Islam menghendaki manusia untuk saling mengenal,  saling menolong dan melengkapi, tujuannya tak lain  adalah menuju  ketakwaan. Bukan berkenalan dan bergaul tanpa batasan syariat sehingga para pemuda  muslim salah  dalam memaknai cinta dan  terjebak dalam cinta terlarang.  Tentunya hal tersebut sangat bertentangan dengan figur para pemuda pada masa kejayaan Islam  yang  telah  berjuang  dengan jiwa dan raga untuk Islam karena terdorong oleh rasa cinta  yang mendalam kepada  Allah dan Rasulullah.


Lalu, bagaimana agar kita tetap selow walau gak punya ayang?


1. Selalu Mengingat Allah SWT


Cara menahan cinta yang pertama ialah dengan menguatkan hati dan selalu berupaya mengingat Allah sebagai bentuk cinta sejati dalam islam . Sebab dengan melakukan hal ini, maka kita akan merasa bahwa Allah selalu mengawasi dan melindungi kita di manapun kita berada. Sebab ketika kita mengingatNya maka kita akan merasa diingatkan dan segera di jauhkan dari perbuatan maksiat. Seperti yang tertera dalam firman Allah SWT dalam QS Yusuf ayat 24 : 


كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ


“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf-pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih...


2. Memelihara Pandangan 


Meredam cinta yang berlebihan juga dapat dilakukan dengan memelihara pandangan. Sebab dengan memelihara pandangan kita akan dapat terhindar dari godaan yang datang melalui pamdamgan mata. Syetan menggoda manusia dari sudut manapun juga. Pandangan merupakan salah satu cara syetan untuk memgoda dan membangkitkan hasrat cinta yang berlebih. Allah SWT juga mengingatkan hal ini dalam firmanNya dalam QS An-Nur ayat 30 yang artinya : 


Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. 


3. Jangan Mencintai Dengan Berlebihan


Sesungguhnya sesuatu yang berlebihan tidak disukai oleh Allah SWT dan Rasulnya. Apalagi memcintai sesama manusia atau lawan jenis secara berlebihan. Maka kita akan merasa hancur saat kehilangan orang tersebut. Begitu pula dengan cinta sebaiknya cinta yang berlebihan hanya di berikan kepada Allah SWT dan bukan kepada manusia. Perasaan cinta yang berlebih akan bermuara pada rasa ingin memiliki. Oleh sebab itu, rasa jangan biarkan rasa memiliki menguasai diri sahabat. Maka jika sampai hal ini terjadi berarti sahabat tidak bisa menahan rasa cinta yang berlebih tadi. Sebisa mungkin redam rasa ingin memiliki agar hasrat cinta yang berlebih juga akan ikut teredam.


4. Berpuasa


Berpuasa juga merupakan cara untuk meredam rasa cinta yang berlebihan. Sebab Allah SWT memerintahlan bagi mereka yang ingin meredam hawa nafsunya untuk melakukan puasa. Puasa juga merupakan cara untuk membentengi diri hasrat dan hawa nafsu yang bisa membawa manusia kedalam kemaksiatan.

“Wahai para pemuda, apabila siapa diantara kalian yang telah memiliki ba’ah (kemampuan) maka menikahlah, kerena menikah itu menjaga pandangan dan kemaluan. Bagi yang belum mampu maka puasalah, karena puasa itu sebagai pelindung.” (HR Muttafaqun ‘alaih).


5. Menanamkan Kesadaran Bahwa Cinta 


Tertinggi Hanya Layak Untuk Allah SWT

Manusia harus menyadari bahwa segala sesuatu di alam merupakam milik Allah SWT. Begitupula dengan manusia yang lain. Oleh karena itu tidak pantas jika sampai anda mencintai manusia lain secara berlebihan. Cinta yang hakiki hanya layak diberikan kepada Allah SWT seperti yang tertera dalam firman Allah SWT dalam QS Ali Imran ayat 31 yang artinya : 

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


6. Memfokuskan Perasaan Kepada Hal yang Positif dan Bermanfaat


Cara menahan cinta berlebihan yang terakhir adalah dengan memfokuskan rasa cinta tersebit ke hal lain yang yang lebih positif. Misalnya dengan lebih fokus beribadah atau juga dengan menyalurkannya dan memberikann rasa cinta kepada anak Yatim piatu yang jelas lebih membituhkannya. Tentunya hal ini menjadi kegiatan yang bermanfaat dan sekaligus mendatangkan kebaikan yang berlimpah.


7. Cinta dan Kebahagian Dunia Bersifat Sementara


Sadari juga bahwa cinta dan kebahagian dunia sifatnya hanyalah sementara. Sehingga tidak akan ada yang abadi kecuali bagi mereka yang sholeh. Oleh sebab itu, tentunya sia-sia jika anda sampai secara berlebihan mencintai seseorang. Seperti yang tertera dalam firman Allah SWT dalam QS Al Jatsiyah ayat 24 yang artinya : “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja." (reper/baim)

 

Posting Komentar untuk "Ga Punya Ayang, Selow Aja..."