Tawuran Bukan Mainan Asyik Bro!
Oleh: Triani Agustina
Terus berulangnya kasus tawuran serta penggunaan senjata tajam, tak sering menyebabkan korban jiwa yang berjatuhan. Faktor pendidikan sekuler, tak heran menjadi penyebab akar permasalah. Duh, apakah ini yang dimaksud dengan eksistensi kenakalan remaja?
Dilansir dari laman news.detik.com (27/2/2022) bahwa Tim Patroli Perintis Presisi Polres Metro Depok menangkap tujuh anak muda yang hendak tawuran, mereka diketahui sedang siaran langsung di media sosialnya untuk mencari lawan tawuran di Jalan Cagar Alam, Depok. Menurut Iptu Winam tim perintis merasa curiga ketika memantau akun live geng Lapendos Junior, tampak senjata tajam saat kelompok tersebut live sambil berkeliling menggunakan kendaraan roda dua.
Polisi kemudian meluncur ke lokasi kelompok tersebut sekitar pukul 03.15 WIB, tujuh ABG yang rata-rata berbonceng tiga lalu dihadang untuk diamankan ke kantor polisi. 7 remaja dapat diamankan, 3 lainnya melarikan diri meninggalkan kendaraannya. 4 senjata tajam ditemukan di badan mereka, 2 celurit dan 2 parang. Ketika dimintai keterangan, komplotan anak muda tersebut berniat tawuran karena merasa tertantang oleh komentar geng lain di Instagram.
Dari peristiwa diatas dapat diketahui bahwa tawuran, merupakan salah satu dampak pergaulan bebas. Pergaulan bebas merupakan cara berteman tanpa batas yang dilakukan seseorang, baik dalam berbicara ataupun berperilaku. Jenis pergaulan bebas juga beragam; seperti merokok, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, tawuran atau membuat kerusuhan, sering menghabiskan waktu di dunia 'malam' (semisal party, clubbing, minum alkohol dan lain sebagainya).
Mirisnya, dampak dari pergaulan bebas ini seakan sudah dianggap menjadi kenakalan remaja biasa yang sedang bermain untuk ikut ‘menghiasi’ kehidupan masyarakat saat ini. Hari demi hari bermacam-macam kasus terus bermunculan menambah daftar panjang kasus terkait pergaulan bebas, tidak ada habisnya. Lebih parahnya lagi, generasi penerus bangsa banyak terjebak didalamnya. Khususnya kasus tawuran yang semakin meresahkan warga sekitar lokasi kejadian, hingga dapat menghilangkan nyawa. Hal ini disebabkan mereka tidak hanya bela diri tangan kosong, melainkan menggunakan senjata berbahanya dan turun kejalanan untuk merusak tempat sekitar yang dilalui kelompok tawuran.
Bro, tawuran itu sejatinya bukan permainan yang asyik!
Berulangnya kasus tawuran menggunakan senjata tajam hingga memakan korban jiwa, seharusnya dapat mendorong langkah evaluasi mendasar pembangunan sistem pendidikan dalam mendidik generasi yang dimulai dari keluarga hingga lingkungan. Namun, seperti yang diketahui bahwa sistem yang masih terjadi menggunakan cara pandang yang sekulerisme dan kapitalisme. Paham ini berasal dari barat yang berhasil mengakar sekian lama menanamkan pemahaman terpisahnya agama dari kehidupan, sehingga manusia dapat bertindak sebebas-bebasnya tanpa anturan yang mengikat dan merasa bebas meskipun merugikan masyarakat. Akibatnya, mereka tumbuh dengan kematangan fisik yang tidak diimbangi dengan kematangan mental. Tawuran inilah wujud dari menunjukan eksistensi 'pendewasaan' mereka dengan tawuran antar pelajar, dengan tawuran juga mereka dapat bersenang-senang layaknya sebagai permainan yang mengasyikkan dapat menghilangkan stres. Selain itu tidak jarang kondisi ini akibat buah dari pendidikan sekuler, yakni pendidikan hanya membentuk intelektualitas saja. Sedangkan agama hanya dijadikan pelajaran tambahan, alhasil kondisi ini semakin membuat remaja tidak memahami jati diri mereka.
Berbeda sekali, pendidikan yang diatur dalam pandangan Islam. Pendidikan dalam Islam merupakan upaya sadar dan terstruktur, serta sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah di muka bumi. Itulah tujuan pendidikan Islam.
Asasnya adalah akidah Islam. Asas ini berpengaruh dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, pengembangan budaya, dan interaksi di antara semua komponen penyelenggara pendidikan.
Pendidikan berbasis sistem Islam memadukan tiga peran sentral yang berpengaruh pada proses perkembangan generasi. Pertama, keluarga. Dalam hal ini, orang tua adalah ujung tombak lahirnya bibit unggul generasi. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak.
Setiap keluarga yang menginginkan anak-anaknya cerdas dan bertakwa wajib menjadikan akidah Islam sebagai basis dalam mendidik dan membentuk kepribadian anak. Setiap anak harus dibekali keimanan dan kecintaan yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan bekal iman inilah akan terbentuk ketakwaan dalam diri mereka yang dapat mencegahnya dari berbuat maksiat.
Kedua, masyarakat. Dalam sistem Islam, perilaku masyarakat akan selalu kondusif. Jika masyarakatnya bertakwa, amar makruf nahi mungkar akan berjalan secara efektif. Dengan lingkungan masyarakat yang senantiasa mengajak pada ketaatan, suasana tersebut akan berdampak positif pada anak-anak. Tabiat dasar anak adalah meniru dan mencontoh yang mereka lihat di lingkungan masyarakat. Jika masyarakatnya baik, individu pun ikut baik.
Ketiga, negara. Tugas negara adalah menyelenggarakan pendidikan secara komprehensif. Negara wajib menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai, mulai dari kurikulum berbasis akidah Islam, sarana dan prasarana, pembiayaan pendidikan, tenaga pengajar profesional, hingga sistem gaji guru yang menyejahterakan.
Negara juga melakukan kontrol sosial dengan melakukan pengawasan atas penyelenggaraan sistem Islam Kaffah. Negara menegakkan sanksi bagi para pelanggar syariat, seperti pelaku tawuran, pezina, atau pelaku maksiat lainnya. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Tawuran Bukan Mainan Asyik Bro!"