Wajibnya berpuasa, tapi Tidak WAJIBnya menjadi TAQWA
Oleh: Rizqi Awal (Pembina komunitas hijrah, penulis buku)
Belakangan ini pembahasaan "Moderat", lebih "Toleran" dan mengunci kata "Fanatik dan Radikal" sebagai ujaran yang berbahaya dibesar-besarkan. Agar kaum muslim lebih bersifat "ke tengah" dan tidak beranggapan bahwa "islam adalah satu-satunya ajaran yang benar" maka hal ini terus digaungkan.
Menyambut bulan Suci Ramadhan, tentu tak asing bagi kita terdengar satu ayat yang populer,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
183. Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Dalam mekanisme kehidupan bernegara hari ini, Puasa adalah wajib, sementara Taqwa bukanlah keharusan. Artinya, mereka berusaha memisahkan antara kewajiban berpuasa dengan kewajiban untuk menjadi taqwa.
Kenapa demikian? Karena pada dasarnya seorang muslim diminta lebih tunduk kepada aturan Konstitusi yang dibuat kemufakatan bersama manusia, dibandingkan tunduk secara sempurna dengan aturan islam yang kaffah. Artinya seruan menjadi taqwa, adalah upaya Radikalisasi dan perlawanan terhadap hukum-hukum konstitusi yang ada.
Seruan menjadi taqwa, itu berarti melawan setiap tindakan yang mengarah kepada aktivitas ribawi, akad-akad muamalah yang batil, menolak asuransi kejiwaan dan sejenisnya dan semua rupa-rupa yang dilahirkan atas dasar kemufakatan manusia.
Seruan menjadi taqwa, berarti melawan opini tentang anggapan bahwa islam bukanlah pemilik tunggal aturan yang benar dan adil. Itulah mengapa lahir Musyawarah mufakat antar semua golongan untuk menentukan apa itu yang benar.
Seruan menjadi taqwa, bisa menandakan tindakan intoleran dan radikal, yang melawan opini-opini hasil kemufakatan manusia. Kaum muslimin harus terlibat aktif dan bergembira dengan datangnya perayaan umat agama lain, dan siapa pun yang memberikan opini berlawanan maka akan diarahkan sebagai pemilik paham "takfiri", kaum teroris dsb.
padahal ulama salaf, Ibnu Qayyim berkata, “Hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang diperintahkan atau pun perkara yang dilarang. Oleh karena itu, seseorang melakukan perintah itu karena imannya, yang diperintahkan-Nya disertai dengan pembenaran terhadap janji-jani-Nya. Dengan imannya itu pula, ia meninggalkan yang dilarang Allah dan takut terhadap ancaman-Nya."
Maka menjadi pertanyaan besar bagi kita hari ini, Apakah perlu menjadi bertaqwa, sementara manusia lebih memilih kemufakatan dengan semua agama tentang makna "benar" dan mengesampingkan kebenaran yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Sebuah renungan bagi kita semua, ketika kita tidak sadar bahwa saat ini muslim dipaksa agar tidak menjadi taat secara sempurna. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Wajibnya berpuasa, tapi Tidak WAJIBnya menjadi TAQWA"