Curhat di Media Sosial, Apakah Solusi Masalah?
Oleh: Mochamad Efendi
Curhatan di media sosial banyak dilakukan, hanya ingin viral dan terkenal. Mereka rela berbagi urusan pribadi pada banyak orang. Memang, membagi masalah pada orang lain bisa mengurangi beban, dan terkadang menguatkan kita, sehingga mengantarkan pada solusi. Itu jika kita curhatnya pada orang yang tepat, yang mampu memahami kita. Namun, tidak semua orang mampu memahami dan memberi solusi. Tidak sedikit mereka hanya bisa menyalahkan, dan suka membully. Bukan solusi yang kita dapat, tapi masalah menjadi tambah sulit. Gaes, jika mau curhat harus pada orang yang tepat, jangan kesembarangan orang apalagi jika curhatan disampaikan di media sosial. Bukan solusi yang kita dapat, tapi masalah kita bertambah berat.
Masalah pribadi jangan dijadikan konsumsi banyak orang di media sosial. Ada yang suka dan ada yang benci, bukan membuat masalah terselesaikan, malah bisa membuatnya lebih rumit. Untuk apa berbagi, masalah di media sosial. Mau viral, terkenal tidak harus mengumbar masalah pribadi. Apalagi, dalam masalah kita, mungkin ada aib orang lain yang tidak boleh diketahui orang lain.
Jadi gaes, jika mau berbagi, jadikan masalahmu ide manarik untuk dijadikan satu tulisan. Tidak perlu menyebutkan pelaku sebenarnya atau bahkan tidak bijak untuk mengumbar aibmu sendiri di media sosial. Jadikan masalah yang ada disekitar kita bahkan apa yang kita alami sebaga ide menarik untuk ditulis. Kemudian, berikan solusi islami atas masalah yang kau tulis. Siapa tahu ada yang terinspirasi sehingga bisa membantu orang lain untuk memecahkan masalahnya. Dan bisa jadi ada yang tercerahkan pemahamannya dan mau berubah menjadi lebih baik setelah membaca tulisan kita.
Bukan masalah yang kita bagi, tapi solusi Islami yang bisa membawa pencerahan pada pemahaman seseorang. Jika jelas solusinya dalam Islam, kenapa harus pakai curhat di sosial media? Sebagai contoh, berhijab itu adalah kewajiban, gak perlu curhat pada orang lain, saa ada yang nyinyir atau tidak suka dengan keputusan berhijab. Dan bahkan karena komentar negatif dari netizen mampu menghentikan keputusan yang baik untuk melakukan kewajiban. Harusnya disampaikan pada netizen agar mereka sadar bahwa keputusan berhijab adalah sesuatu yang sudah benar. Menjalankan kewajiban ataupun melakukan kebaikan sebagai seorang muslim, pasti akan mendapatkan tantangan dan ujian, yang semua itu tidak boleh membuat kita kedor bahkan sampai berhenti. Nyinyiran, hujatan harusnya dijadikan ujian yang bisa menempa kita untuk terus meningkatkan keimanan kita sehingga kita layak mendapatkan kemuliaan, menjadi pribadi yang bertaqwa.
Jika kita berbuat karena manusia dengan mendengarkan komentar netizen, kita akan menjadi orang bingung yang tidak mempunyai prinsip dan tujuan dalam hidup. Kita akan mudah diombang-ambingkan keadaan, lingkungan dan apa kata orang. Dengan Islam, harusnya kita warnai pemikiran umat, bukan malah kita yang diwarnai pemikiran-pemikiran sesat; sekularisme, kapitalisme dan sosialisme.
Contoh lain curhatan di media sosial, seorang mahasiswa yang tidak bisa bayar kuliah karena ayahnya keberatan membiayai biaya kuliahnya. Dengan curhat ke sosial media, apa mungkin ada yang membayar uang kuliahnya. Paling-paling hanya ungkapan simpati tapi tidak memberikan solusi. Bahkan secara tidak disadari, dia sudah membuka aib bapaknya sendiri yang sudah tidak mau membayar uang kuliahnya. Hujatan bisa jadi terlontar pada orang tua yang sudah merawat dan membiayainya sejak kecil. Hanya karena tidak mau membiayai kuliah, langsung saja di sampaikan di sosial media dalam bentuk curhatan.
Dan rupanya curhatan di sosial media bisa membuat seseorang bisa viral dan terkenal, tapi sayang jika harus mengumbar aib diri sendiri dan keluarga. Gaes, tidak semua hal bisa dibagi di sosial media. Urusan keluarga harusnya menjadi urusan pribadi yang tidak boleh diumbar dan diketahui banyak orang. Sering pertengkaran antar keluarga atau teman dekat diawali oleh curhatan di sosial media. Permasalahan yang harus bisa diselesaikan secara internal tanpa melibatkan banyak orang, malah menjadi besar dan sulit diselesaikan karena masalah sudah diketahui oleh netizen.
Gaes, masalah adalah hiasan kehidupan. Kisah cerita akan menarik karena ada konflik kecil yang mewarnai perjalan hidupmu. Setiap masalah harus segera diselesaikan, tidak perlu melibatkan banyak orang lain yang tidak ada hubungannya dengan masalah kita. Bangun komunikasi yang baik dengan mereka yang kita bermasalah. Selesaikan dengan kepala dingin tanpa ada emosi, saling memahami agar bisa ditemukan solusi terbaik. Semakin banyak orang yang terlibat akan membuat masalah semakin rumit. Oleh, karena itu jangan berbagi masalah di media sosial, karena netizen tidak akan bisa memberikan solusi, tapi malah menambah masalah.
Gaes, baiknya kalau punya masalah menghadap pada Yang Maha Kuasa. Ambil air wudhu dan sholat, kemudian, sampaikan semua mesalah yang menjadi beban dalam hidup. Insyaallah, beban masalah akan menjadi ringan dan solusi juga akan segera datang. Dan masalah yang kita hadapi akan menjadi ujian dalam hidup yang membuat diri menjadi naik tingkat dan hebat. Seperti halnya saat di sekolah, ujian diperlukan agar kita bisa layak untuk naik kelas ke jenjang yang lebih tinggi. Yakinlah, kita akan mampu menghadapi setiap masalah dalam hidup, karena Allah tidak akan memberikan beban masalah diluar batas kemampuan hambaNya. Yang terpenting kita harus terus optimis dan berfikir positif setiap datang masalah dalam hidup kita. Jangan putus asa dan teruslah berharap rahmatNya, insyaallah hidup akan terasa indah dan masalah menjadi mudah terasi. Semoga Allah SWT. Mengangkat derajat kita disetiap ujian berupa masalah yang menghampiri hidup kita. Mendekatkan kepada Allah dan terus tingkatkan ketaqwaan adalah solusi terbaik untuk semua masalah bukan curhat di media sosial. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Curhat di Media Sosial, Apakah Solusi Masalah?"