Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Memutuskan Sesuatu ketika Sedang Emosi


 Oleh: Mochamad Efendi


Memutuskan sesuatu ketika emosi sering menghasilkan keputusan yang salah. Bahkan kata-kata yang terucap bisa melukai dan meninggalkan dendam dan kebencian.  Berkata dan berbuat tanpa melalui proses berfikir sering berakhir dengan penyesalan. Tenanglah dan berfikir yang jernih sebelum menghasilkan keputusan. Apalagi jika seorang pemimpin , tidak boleh main-main, karena  hasil keputusannya bisa berdampak pada orang banyak yang dipimpinnya. Jangan keburu memutuskan sesuatu, tapi pikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan. 


Jika keputusan emosional diambil oleh seorang pemimpin suatu negeri, banyak rakyat bisa kehilangan pekerjaan padahal kebijakannya tidak bisa menurunkan harga barang yang terlanjur membumbung tinggi. Banyak orang terdzalimi dan kehilangan hak mereka sebagai rakyat untuk merasa aman dan hidup sejahtera, karena keputusan yang diambil dalam kondisi emosi. Seorang pemimpin tidak boleh mengambil satu keputusan saat emosi tapi harus berfikir jernih, hati yang tenang dan mempertimbangkan dengan matang dampak yang mungkin ditimbulkan dari keputusannya. Dan setiap keputusannya pasti akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan sebaik-baik dan seadil-adil hakim, al-Khalik. Dan sungguh, berat baginya jika tidak bisa mengambil kebijakan yang benar hanya karena sedang emosi. 


Seorang bos, tidak boleh mudah mem-PHK karyawannya ketika sedang emosi.  Belum tentu, dia bisa cari pegawai sebagus yang dia PHK. Hanya kesalahan kecil, padahal pengabdiannya sudah lama jangan mudah main pecat. Begitu pula karyawan jangan mudah untuk meninggalkan pekerjaan hanya karena tersinggung dan emosi sesaat. Belum tentu setelah keluar, bisa mendapatkan pekerjaan baru yang lebih bagus. Mencari pekerjaan tidaklah mudah, jadi jangan mengikuti emosi dan perasaan hati dengan meninggalkan pekerjaan yang sudah bertahun-tahun kita tekuni. Bersabar dan bersyukur atas apa yang sudah kita terima, yakinlah akan ditambah nikmat. 


Jika seorang guru emosi dalam mengambil keputusan, akan menghasilkan satu tindakan yang merusak  jiwa peserta didik. Hukuman yang tidak mendidik dilakukan karena landasan emosi dan kemarahan hanya menyakiti dan meninggalkan luka di hati pada peserta didik, tapi tidak membawa perubahan perilaku untuk menjadi lebih baik. Apa yang dilakukan dalam proses mendidik harus membawa kesadaran untuk berubah dari perilaku yang buruk menjadi lebih baik, bukan menyakiti yang hanya membuat luka dihati. Bahkan, pengalaman buruk karena perilaku guru yang suka emosi bisa membekas pada jiwa seorang anak yang dibawa sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, seorang guru tidak boleh emosi saat mengambil keputusan dan mengambil satu tindakan pada peserta didiknya.


Seorang penegak hukum akan bersikap tidak adil dalam memutuskan kasus saat sedang emosi. Salah tangkap, dan salah prosedur hingga menelan korban jiwa karena lebih mengedepankan emosi. Apalagi mereka memegang senjata sangat berbahaya jika mudah marah dan tidak mampu mengendalikan diri. Seorang hakim juga akan memutuskan kasus hukum dengan tidak adil karena dorongan emosi atau sakit hati. Orang tidak bersalah didakwa bersalah karena menuruti emosi diri. Sungguh, celaka seorang hakim yang tidak mampu memutuskan secara adil kasus hukum yang ditangani karena ada yang akan terdzalimi atas keputusannya yang diam saat sedang emosi.  


Orang tua, jangan emosi saat menghadapi putra-putrimu yang mungkin sedikit nakal dan menjengkelkan. Ketika, emosi menguasai diri lebih baik berdiam diri jangan ambil satu tindakan yang bisa jadi berlebihan dan bisa berdampak buruk pada anak kita. Bukan perubahan tapi dendam dan kebencian yang tertinggal di hati mereka dan akan dibawa terus sepanjang hidup. Harusnya kita pahamkan mereka dengan kata-kata penuh hikmah yang mampu menyentuh pemahamannya agar mau berubah. Bukan menciptakan ketakutan yamg mana mereka berbuat baik saat ada orang tua disamping mereka. Tentunya, harapan kita kesadaran mereka untuk berbuat banyak kebaikan sesuai dengan ajaran Islam yang lurus dan mulia tumbuh dalam jiwa mereka. Kesadaran untuk hijrah dan berislam secara kaffah yang akan menjadikan anak-anak kita menjadi pribadi bertaqwa sehingga mereka bisa selamat di dunia dan akhirat.


Siapa saja, termasuk kamu gaes, sebaiknya diam saat emosi. Cobalah menahan diri untuk tidak memutuskan sesuatu. Tunggu reda kemarahan dan  emosimu, bila perlu ambil air wudhu dan sholatlah agar kemarahan segera sirna dan emosi kembali terkendali. Baru setelah itu, kamu bisa berfikir jernih untuk mengambil keputusan yang terbaik. Saat kita sedang emosi, lisan tidak terkendali dan cenderung berbuat yang salah. Saat emosi reda dan baru kau menyesal dan menyadari bahwa apa yang kau lakukan saat emosi tidaklah patut untuk dilakukan. 


Karena emosi, hubungan kekeluargaan bisa  renggang. Temanpun akan menjauh karena kamu suka emosi. Keakraban dengan tetangga juga akan terganggu karena emosimu yang tidak terkendali. Oleh karena itu gaes, tahan diri dan tidak melakukan sesuatu ketika sedang emosi. Segara istighfar saat menyadari emosi sudah mulai menguasai diri. Segera ambil air wudhu dan jadikan sholat dan sabar sebagai solusi Islami. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Jangan Memutuskan Sesuatu ketika Sedang Emosi"