Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Karena Abu-Abu Tidak Sama dengan Bijaksana


 Oleh: Nahida Ilma (Mahasiswa)


“Aku tu nggak menentang, tapi juga nggak mendukung”

Pernah nggak sih denger kata-kata kayak gitu? Kata-kata yang terdengar seolah-olah sangat bijak karena dinilai mampu menghargai. Bersikap tidak berpihak atau netral dalam menilai setiap perbedaan sebagai suatu keragaman pendapat dan ekspresi seseorang. Dapat lebih akrab di zaman sekarang dengan istilah lainnya yakni open minded. 


Tentang open minded sendiri banyak banget artikel yang bisa kita temukan di internet yang secara gamblang ngebahas tentang apa itu open minded. Mulai dari definisi, manfaat, karakteristik bahkan caranya pun ada, paket lengkap. Makin kesini, open minded biasanya menjadi istilah untuk dalih orang-orang buat mentolerir atau menormalisasi apa-apa yang ada disekitarnya. "Tidak mendukung atau menentang, hanya memberi ruang atas keberbedaan", tagline toleransi berkedok dalih open minded.


So, gais sebenernya bersikap open minded buat memposisikan tidak berpihak itu boleh nggak sih? Tentunya sebagai seorang muslim hal ini bakal dijawab tegas sama hukum atau peraturan Sang Pencipta. Sebagai seorang muslim, tegas sebenernya kita udah punya buku panduan paket komplit tentang gimana seharusnya kita bersikap. Disana dijelaskan klo hitam dan putih adalah 2 hal yang jelas-jelas berbeda, serta nggak ada ceritanya jadi abu-abu. 


“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil”. (QS. At-Tariq: 13)


Logika kalau kita bersikap abu-abu atau menjadi paling toleran menormalisasi dengan dalih "memberikan ruang" sedikit banyak secara rasionalisasi akan tetap berujung pada kebablasan mentolerir segala hal, termasuk kemaksiatan baik kecil atau besar yang udah jelas-jelas disebutkan dalam Al-Qur’an menjadi larangan. Berkaca pada zaman sekarang, kerasa nggak sih kalau identitas kita sebagai muslim makin hari di tengah gempuran globalisasi, digitalisasi ini jadi nggak jelas? Dengan dalih menyuarakan ke-open minded-an secara nggak langsung mereka memiliki keinginan kalau kita pun sebagai muslim harus menghargai apa yang menjadi pilihan mereka, dan menutup mata dengan memberikan ruang yang menjadi konsep janggal open minded atau ke-abu-abu-an itu sendiri. Kita jadi seakan-akan makin lupa diri kita ini siapa. 


Jauh sebelum menyandang berbagai identitas di kehidupan sosial ini, kita udah punya identitas yang perlu banget untuk dipertanggungjawabkan, yaitu hamba Allah. 


Identitas kita sebagai hamba Allah, menuntun kita untuk terikat dengan aturan Allah. Sehingga kita bertemu dan berpisah karena Allah, mencitai dan membenci karena Allah serta bersikap tegas dan lemah lembut karena Allah sebagaimana yang ditulis dalam Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah. 


Secara bahasa, bijaksana bisa diartikan dengan selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya). Sebagai seorang muslim kita juga dituntun untuk selalu berfikir sebelum bertindak supaya setiap tindakan yang kita ambil nggak berdasarkan perasaan doang. Nah, wahyu hadir sebagai petunjuk arah supaya berfikir kita bisa menghantarkan pada bijaksana yang sesungguhnya. Bukan Allah dan peraturanNya yang harus menyesuaikan dengan sifat manusia, tapi kita sebagai manusia atau hambaNya lah yang harus senantiasa menjaga dan menyesuaikan diri kepada nilai hakiki peraturanNya. Waallahu a’lam bish ash-showab. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Karena Abu-Abu Tidak Sama dengan Bijaksana"