Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gantungkan Harap Hanya pada Allah, Pasti Menang!


 Oleh: Vivi Novribe


Menjadi generasi akhir zaman yang penuh dengan fitnah dan cobaan tentu tidaklah mudah. Zaman dimana benar dan salah semakin samar, jalan menuju kemaksiatan kiat terbuka lebar, adapun jalan menuju ketaatan terasa begitu sulit dan sempit. Sebagai generasi muda dan calon penerus, tentu wajib menyiapkan diri dengan bekal dan sandaran yang kokoh.

Sekalipun tidak disunnahkan, hampir semua yang melantunkan Al-Quran dengan membaca kalimat "Shadaqallahul 'Azhim" (Maha benar Allah yang maha Agung). Ini karena keagungan Allah jelas tergambar dari ayat-ayatNya. Melalui Al-Quran kita mengetahui betapa maha besar dan maha agung Allah sebagai pencipta dan pengatur seluruh mahluknya.


Menurut Imam al-Ghazali, makna agung dibagi menjadi dua, yakni apa yang dapat mengisi panca indra dan menyita perhatian, serta apa yang tidak dapat diliput ujung-ujungnya oleh panca indra. Contoh, gajah itu besar, mata bisa melihatnya, bumi jauh lebih besar kemudian ujungnya tidak dapat di lihat oleh ujung mata, tapi hal ini besar karena semata-mata berkenaan dengan penglihatan.

Akan tetapi Allah adalah Maha Agung, karena mata dan panca indra tidak mampu menjangkauNya dan juga akal pikiran tidak dapat sampai pada hakikat wujudNya.

Allah Maha Agung, karena akan berlutut di hadapanNya dan jiwa tersungkur gemetar menghadapiNya, serta larut dalam cinta kepadaNya. Semua wujud menjadi kecil di hadapanNya, serta selalu membutuhkan pertolonganNya dan sirna atas ketetapanNya.


Cara terbaik untuk merasakan keagungan Allah adalah dengan mendirikan sholat. Dalam salah satu gerakan sholat, yaitu ruku' para penegak sholat di anjurkan untuk membaca "subhana rabbiyal 'adzhimii wa bihamdihi."(Maha suci Allah yang Maha agung dan dengan memuji-Nya), yang di ulang sampai tiga kali. Dalam posisi ruku', kita juga merendah, membungkukkan kepala secara sempurna, demi memberi hormat sepenuhnya kepada dzat yang dihadapan kita, yakni Allah. 


Dengan sholat, kita mengakui keagungan Allah melalui perkataan dan perbuatan, bahwa kita tidak berdaya dan tidak memiliki apa-apa di hadapan Allah yang Maha Agung. Kita mengakui bahwa kita bukanlah makhluk yang layak di agungkan.


Wujud nyata kita dalam mengagungkan Allah itu terletak pada kesadaran dan kemauan kita yang tulus untuk tunduk dan patuh kepada segala perintah dan laranganNya. Kita jalankan semua perintahNya dengan ringan hati, serta kita jauhi semua laranganNya dengan ridho. Jangan sampai terbersit sedikitpun keinginan untuk membangkang, karena kita tahu bahwa hanya Dialah yang mempunyai segala keagungan.


Kita diperintahkan untuk meneladani keagungan Allah Ta'ala dalam batas-batas kemanusiaan kita, yakni dengan menjadikam diri kita memiliki kemampuan yang mumpuni dalam segala bidang kehidupan. 


Allah dengan segala kehebatanNya, telah menciptakan kehidupan diseluruh jagat raya yang manfaatnya dirasakan oleh semua makhluknya. Maka berbekal keyakinan akan bantuan kekuatan dan bimbinganNya, kita pun harus mampu menciptakan prestasi-prestasi besar yang manfaatnya bisa dirasakan oleh umat manusia. Memberikanoeran dan sumbngsih mmgisi peradaban di.masa yang akan datang. Tentu tidak cukup hanya menjadi penonton, tapi menjadi pelaku perubahan hakiki yang berdasarkan al Quran dan as Sunnah.


Allah dengan segala keagunganNya, juga telah memelihara dan mengurus kehidupan ini secara sangat luar biasa. Maka berbekal segala potensi hebat yang telah Allah titipkan, kita juga harus bisa melakukan hal-hal yang luar biasa dalam merawat amanah kehidupan ini. Potensi akal yang Allah titipkan seringkali diseru untuk tunduk dan patuh, memahami setiap peristiwa dan mengambil pelajaran darinya.

Itulah yang pernah ditorehkan oleh Rasulullah dan para Sahabat ketika berhasil membuat dunia tercengang dengan kemampuan mereka mengendalikan gerak peradaban dunia dalam waktu relatif singkat. Bahkan lahirnya peradaban Islam itu sendiri hanya dalam waktu sekitar 60 tahun saja, yakni selama masa kepemimpinann Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin.


Jika kita betul-betul bisa membangun kemampuan yang hebat dalam segala aspek, itulah bukti bahwa kita telah benar-benar mengagungkan Allah. Mengemban amanah sebagai Khalifah di bumi. Maka jadilah pribadi yang memiliki kehebatan Ilmu dan ruh ibadah menyala-nyala, mentalitas positif yang progresif, serta semangat kerja yang luar biasa. Jadilah manusia yang berkpribadian islam yang tangguh, yang selalu memiliki asa tanpa ada sedikitpun terbesit ragu.

Sebagai keluarga, jadilah keluarga hebat yang bukan hanya harmonis tapi juga betul-betul bervisi dakwah, berkultur qur'an, berkarakter ilmu dan berkualitas pemimpin yang bisa mewarnai masyarakat sekitarnya. Sebagai umat, kita juga harus menjadi umat yang berprestasi dan berdakwah, baik secara keilmuan dan teknologi, perekonomian, pertahanan, budaya positif dan lain sebagainya.


Saat ini nampaknya kita belum betul-betul berusaha meneladani keagungan dan kehebatan Allah, karena kita belum berhasil mewujudkan berbagai prestasi dan kehebatan yang bisa membuat dunia bisa takjub dan merasakan manfaat kehadiran kita. Sebaliknya kita bahkan masi dijajah peradaban barat, baik secara ekonomi dalam kungkungan Kapitalisme, maupun secara politik dalam lingkungan demokrasi liberal.


Padahal kita sesungguhnya adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk menyelamatkan peradaban dunia. Namun, karena kita kurang bersungguh-sungguh mengembangkan potensi hebat kita, jangankan menyelamatkan dunia, menjadi umat yang diperhitungkan saja kita belum berhasil. Jadi, kita dan dunia in syaa Allah akan selamat kalau kita bisa menjadi umat yang hebat, maka gantungkan harapan dan sndaran tertinggi hanya pada Rabbmu.

wallahu a'lam. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Gantungkan Harap Hanya pada Allah, Pasti Menang!"