Citayam Fashion Week? Remaja Semakin Krisis Indentitas
Oleh: Anastasia S. Pd.
Revitalisasi kota Jakarta memang membahana, di bawah tangan dinginnya Anies Baswedan Jakarta kian berbenah, tak hanya memanjakan mata saja, revitalisasi Jakarta menambah fasilitas umum, seperti jalan dan taman kota semakin tertata. Seperti apa yang telah disampaikan sang gubenur, bahwa selama tiga tahun lebih, 269 taman kota, 29 hutan, dan 154 jalur hijau, telah direvitalisasi. Revitalisasi diperuntukan sebagai ruang ketiga bagi warga beraktivitas di Jakarta.
"Ruang ketiga ini sejak tahun 2918 sampai 2021, kita membangun dan merevitalisasi 296 taman kota, dan 29 hutan kota, 154 jalur hijau, " ucap Anies dikutip melalui akun Youtube Anies Baswedan, Minggu (16/1). Dengan demikian DKI Jakarta telah menata sejumlah trotoar di Jakarta dengan mengusung konsep ramah terhadap seluruh kalangan masyarakat atau pengguna jalan (Complete Street). Tak terkecuali untuk kawasan Sudirman dan Taman MRT Dukuh Atas, yang tak lepas dari revitalisasinya Anies Baswedan, yang saat ini kawasan tersebut tengah menjadi incaran remaja-remaja yang datang dari wilayah penyangga ibu kota, seperti Ciyatam, Bekasi, Depok dan Bogor.
Nongkrong ala remaja Tik-Tok pun semakin viral ketika muncul saat ini, di mana tempat tersebut semakin ramai dikunjungi muda-mudi yang sengaja beradu outfit atau sekedar membuat konten di kawasan tersebut. Adalah Apis panggilan akrab Hafidz yang sibuk menata rambut pirangnya untuk tampil maksimal, tak lupa Apis pun memàkai pakaian sekeren mungkin supaya lebih percaya diri. Ritual menggunakan skincare wajah pun tak luput dari aktivitas yang harus dilakoni sebelum nongkrong di kawasan MRT Dukuh Atas.
Apis mengaku untuk bisa memakai pakaian tersebut dia harus metode kocek sebesar Rp 1 juta. Apis berujar " saya ngelihat teman-teman di sini (Sudirman) bajunya pada keren-kten gitu, saya jadi kepengen, " kata Apis seperti dikutip oleh Liputan6 (11/07/2022).
Apis seringkali menyisihkan uang hasil kerjanya untuk membeli beberapa pakaian yang diinginkannya. Sejumlah pekerjaan serabutan dilakukannya. Mulai dari tukang angkut barang hingga tukang parkir.
" Saya kerja jadi tukang angkut barang dari kontainer-kintainer gede China. Itu saya kumpulin gajinya bisa Rp 1 juta kalau lagi ada kontainer. Tapi udah dua minggu ini lagi enggak ada sih, " sambungnya.
" Semenjak nongkrong dan kenal teman-teman juga, aku lebih PD (percaya diri). Dulu aku pertama kali ke sini sendiri, lama-lama diajak teman kenalan dan akhirnya banyak teman. Setelah nongkrong aku ngerasa pinter gaya (fashion). " Apis menandaskan.
/Sudirman Fashion Week Lingkaran Kebebasaan Remaja/
Diakui atau tidak keberadaan muda-mudi nongkrong di kawasan Sudirman adalah sebagai simbol, bahwa pergaulan remaja di bawah sistem kapitalisme sekuler yang mengusung kebebasan pergaulan, sudah sangat memprihatikan. Munculnya muda-mudi di kawasan Sudirman adalah contoh kecilnya, berkumpulnya mereka sebagai ajang mencari pacar, dengan memakai outfit semenarik mungkin. Tak lupa mereka memamerkannya melalui konten. Remaja hilir mudik di sepanjang kawasan Sudirman, memperlihatkan antara laki-laki dan perempuan sudah tidak ada batasan, apakah sekedar kenalan, mencari pacar, nongkrong, bahkan ada yang sampai menghabiskan waktu semalam suntuk hanya sekedar bergaya dan bergaul. Mereka terjebak dengan aktivitas yang tidak bermanfaat. Padahal dari viralnya berita mereka, tak sedikit orangtua yang mengeluhkan anaknya tidak pulang berhari-hari, karena sibuk menghabiskan waktu di kawasan tersebut.
/Remaja Krisis Identitas Butuh Peran Keluarga dan Negara/
Apa yang terjadi sekarang terhadap generasi muda saat ini, diakibatnya berbagai hal, dan faktor yang paling mempengaruhi terhadap karakter anak adalah keluarga, sebagai institusi terkecil dalam negara, keluarha mempunyai peran yang sangat penting. Salah satunya adalah dalam memberikan pemahaman agama sedini mungkin, agama berfungsi sebagai pondasi pertama yang akan menompang kehidupan seorang anak di masa depan.
Lingkungan keluarga yang kondusif mampu amemberikan gambaran baik kepada anak, melalui peran ibu dan ayah sebagai teladan pertama yang patut dicontoh. Tentu gambaran yang utuh itu harus datang dari aqidah Islam, karena Islam adalah sistem hidup yang sempurna, memberikan aturan main, apakah dalam beribadah atau dalam hal pergaulan yang memang saat ini sistem pergaulan Islam sudah semakin dijauhkan dari gambaran remaja, akibatnya apabila pondasi aqidah tidak diberikan sedini mungkin, generasi umat Islam semakin krisis indentitas mereka, akibatnya tingkah pola remaja cenderung melihat dari sesuatu yang salah, dan bahkan bertentangan dengan Islam. Di sisi lain mereka tidak menyadari karena hilangnya riayah dari keluarga. Peran negara pun bertanggung jawab dalam memberikan perlindungan terhadap remaja, salah satunya negara sebagai institusi yang menegakkan syariat Islam, secara otomatis negara harus mampu menjadi benteng dari virus-virus yang merusak generasi bangsa, negara harus memastikan bahwa rakyatnya aman dari segala bentuk pemahaman yang mendangkalkan aqidah umat, seperti paham kebebasaan. Apabila telah terlihat kemaksiatan maka negara tegas akan memberikan sanksi, bukan malah memberikan fasilitas yang mengantarkan pada kerusakan.
Islam tidak melihat sesuatu dari asas manfaat, sebagai mana halnya saat ini, ketika suatu kawasan viral mendatangkan pundi-pundi keuntungan tapi dipenuhi pelanggaran hukum syara seperti saat ini, maka Islam menjadikan halal dan haramnya berdasarkan syariat, itulah yang harus ditaati.
/Remaja Islam Bangkit Taat Syariat/
Dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah bersabda, “Tujuh (golongan) yang Allah naungi di hari yang tidak ada naungan melainkan naungan dari-Nya, (yaitu) pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Tuhannya…” (HR Bukhari dan Muslim)
Kutipan hadist di atas adalah bukti bahwa peran remaja/pemuda sangat istimewa apabila pemuda itu taat kepada Allah. Dalam sejarahnya dakwah Rosulullah tidak lepas dari peran pemuda yang mampu memberikan kontribusi yang luar biasa. di antaranya Mushab bin Umair (24 tahun), Ibnu Umar (13 tahun), Saad bin Abi Waqas (17 tahun), Ibnu Abbas (13 tahun), mereka adalah pemuda yang tidak terlena oleh indahnya dunia, hari-hari mereka diisi oleh semangat menyalakan cahaya Islam agar mampu menerangi bumi. Remaja yang dilahirkan dari peradaban Islam adalah mereka yang taat kepada Allah, karena ketaatannya kepada syariat Islam bangkit menjadi peradaban yang agung dan menjadi kiblat dunia. Hidup meraka adalah contoh kebaikan untuk generasi kita di masa datang. Ujung tombak semangat pemuda Islam ialah sebagai penjaga kehormatan kaum muslim yang siap berkorban untuk Rabb-Nya. Wallahu'Alam. []


Posting Komentar untuk "Citayam Fashion Week? Remaja Semakin Krisis Indentitas"