Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bukan Dalih, Tapi Dalil untuk Menghukumi Sesuatu


 Oleh: Mochamad Efendi


Seringnya mencari pembenaran atas apa yang dianggap benar, dengan berdalih bukan dilandaskan pada dalil hukum Syara', membuat umat ini berpecah belah, sulit untuk bersatu. Pembenaran atas apa  yang dianggap benar, padahal bisa jadi apa yang disampaikan salah karena tidak sesuai bahkan bertentangan dengan hukum dari Pencipta Manusia. Seringnya berfikir pragmatis dan hanya menggunakan logika manusia yang lemah dan perasaan untuk membenarkan sesuatu, qumat terjebak pada perdebatan yang hanya menghabiskan energi. Padahal, kalau kita mau kembali pada ajaran Islam secara kaffah, insyaallah ada titik temu atas perbedaan yang membuat kita bersatu menjadi umat yang akan merubah peradaban yang lebih baik dengan Islam.


Seringnya kita berdalih hanya akan menjauhkan kita dari ajaran Islam. Mencari pembenar apa yang sesuai dengan keinginan. Karena tidak mau berhijab, sebagai contoh, merasa tidak nyaman dan menghargai kearifan lokal agar tidak disalahkan dengan keputusannya, padahal berhijab adalah kewajiban bukan pilihan ataupun gaya hidup muslimah. Atau karena alasan toleransi dan ingin dianggap moderat, kemudian, ikut-ikutan mengucapkan selamat, dan ikut berbahagia  merayakan hari raya agama lain. Padahal, kita tahu dalam Islam toleransi diajarkan dalam al-Qur'an surat al-Kafirun. Cukuplah tidak menggangu perayaan agama lain, tapi tidak usah ikut merayakan dan juga ikut menjaga tempat ibadah mereka yang berbeda keyakinan. 


"Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku." Tidak perlu mencampur aduk keyakinan, kebenaran dan kebathilan. Dan masih banyak lagi hal-hal yang dianggap benar tapi bukan dilandaskan pada dalil hukum Syara', tapi lebih pada dalih untuk mencari pembenaran apa yang sesuai dengan keinginan dan kepentingan. 


Gaes, marilah kita menggunakan Islam sebagai landasan berfikir, bukan yang lain, bersumber hanya dari pemikiran manusia yang lemah dan banyak salah. Sering kita menganggap sesuatu benar padahal salah. Ataupun sebaliknya, kita membenci sesuatu dan kita anggap salah, padahal itulah kebenaran hakiki. Allah mengingatkan kita dalam al-Qur'an, surat al-Baqarah ayat  2016, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."


Gaes, kita tidak boleh takabur dan merasa benar dengan mencari dalih pembenaran, tapi semua harus dikembalikan pada Allah dan RasulNya, saat ada perbedaan. Kitapun harus rela dan menerima kebenaran jika memang ada dalilnya yang bersumber dari al-Qur'an dan hadist. Gaes, marilah kita saling menasehati dengan dalil, kebenaran Islam bukan dalil yang mengedepankan nafsu dan pemikiran kita. Saling menasehati seperti yang diperintahkan dalam surat al-Asr agar kita tidak merugi. Allah bersumpah demi waktu, "Sungguh, manusia berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."


Gaes, pemikiran banyak orang tidak selalu benar, tapi semua harus dikembalikan pada dalil yang benar. Sebagai contoh, menganggap harga mati selain Islam adalah tidak benar. Saat kita mati baru kita menyadari bahwa hanya Islam harga mati. Atau contoh lain, sebagian umat Islam enggan berislam kaffah, bahkan mereka alergi saat mendengar seruan untuk berislam kaffah, padahal kita tahu, berislam kaffah adalah perintah Allah seperti yang diperintahkan dalam al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 208, "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."


Gaes, jelas kita tidak boleh hanya berdalih, mencari pembenaran agar bisa menjadi pemenang dalam berdebat. Kita juga tidak perlu mencari pengakuan manusia bahwa apa yang kita lakukan benar. Cukuplah Allah SWT yang menjadi saksi bahwa kebaikan yang kita lakukan untuk mendapatkan ridhoNya. Jadi jika dalilnya benar sesuai dengan al-Qur'an dan al-hadist, tidak usah ragu untuk melangkah, meskipun nyinyiran, cibiran dan tuduhan buruk dari manusia kita dapatkan. Kita melangkah karena Allah agar hidup ini indah dan berkah.


Gaes, jangan selalu berdalih untuk mendapatkan pembenaran dan  pengakuan dari mamusia, tapi gunakan dalil yang benar agar mendapatkan ridho dari Pencipta manusia. Banyak kasus dalam hidup ini menjadi rumit dan sulit terungkap karena mereka yang harusnya menjadi penegak hukum, tidak mampu menyampaikan kebenaran, tapi mereka berdalih dengan merekayasa fakta dan mencari pembenaran agar mendapatkan pengakuan dan dukungan manusia. Tapi mereka lupa bahwa Allah Maha Tahu atas segala sesuatu dan apa yang mereka lakukan baik yang ditampakkan maupun yang disembunyikan. 


Gaes, berdalillah dengan hukum Syara' dan apa saja yang diajarkan dalam Islam yang lurus dan mulia, bukan berdalih untuk mendapatkan pembenaran dan pengakuan manusia agar kamu selalu mendapatkan petunjukNya. Berjalan dan melangkahkan kaki sesuai dengan tujuan hidup adalah kunci kebahagian hakiki. Dengan selalu  berdalih, akan menjauhkan kita dari hidayahNya. Hidup akan indah dan berkah dalam hidayahNya, lalu untuk apa berdalih. []

Posting Komentar untuk "Bukan Dalih, Tapi Dalil untuk Menghukumi Sesuatu"