Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Inspirasi Dalam Belajar


 


Oleh: Al Azizy Revolusi (Founder. @koreapi.1453)


Gaes, yuk kita gali cerita di masa lalu yang bisa menjadi inspirasi kita dalam belajar, khususnya belajar ilmu agama. Berikut ini beberapa sosok ulama dan orang-orang keren di masa lalu dan gairahnya dalam mencari ilmu. Semoga aja beberapa kisah mereka, bisa memberi inspirasi dan solusi dalam belajar. 


Pertama, tentang semangat mendatangi majelis ilmu lebih awal. Adalah Syaikh Abdullah bin Hamud az-Zubaidi belajar kepada Syaikh Abu Ali al-Qaali. Abu Ali memiliki kandang ternak di samping rumahnya. Beliau mengikat tunggangannya di sana. Suatu ketika, murid beliau, Abdullah bin Hamud az-Zubaidi, tidur di kandang ternaknya agar bisa mendahului murid-murid yang lain menjumpai sang guru sebelum mereka datang. Agar bisa mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin sebelum orang berdatangan. Allah mentakdirkan Abu Ali keluar dari rumahnya sebelum terbit fajar. Nah, az-Zubaidi mengetahui hal tersebut dan langsung berdiri mengikutinya di kegelapan malam. Merasa dirinya dibuntuti oleh seseorang dan khawatir kalau itu seorang pencuri yang ingin mencelakai dirinya, Abu Ali berteriak, “Celaka, siapa Anda?”. Kemudian az-Zubaidi berkata, “Aku muridmu, az-Zubaidi”. Abu Ali berkata, “Sejak kapan Anda membuntuti saya? Demi Allah tidak ada di muka bumi ini orang yang lebih tahu tentang ilmu nahwu selain Anda, maka pergilah tinggalkan saya” (Inaabatur Ruwat ‘ala Anbain Nuhaat, al-Qifthi, 2/119).


Selain kisah di atas, ada juga kisahnya Ibnu Jandal al-Qurthubi. Beliau berkata, saya pernah belajar pada Ibnu Mujahid. Suatu hari saya mendatanginya sebelum fajar agar saya bisa duduk lebih dekat dengannya. Ketika saya sampai di gerbang pintu yang menghubungkan ke majelisnya, saya dapati pintu itu tertutup dan saya kesulitan membukanya. Saya berkata dalam hati, “Subhaanallah, saya sudah datang sepagi ini tapi tetap saja tidak bisa duduk di dekatnya?”. Kemudian saya melihat sebuah terowongan di samping rumahnya. Saya membuka dan masuk ke dalamnya. (Itu adalah sebuah terowongan di dalam tanah, saya masuk agar bisa sampai ke ujung terowongan hingga keluar darinya menuju ke majelis ilmu). Ketika sampai di pertengahan terowongan yang semakin menyempit, saya tidak bisa keluar ataupun kembali. Maka saya mencoba melebarkan terowongan selebar-lebarnya agar bisa keluar. Pakaian saya terkoyak, dinding terowongan membekas di tubuh saya, dan sebagian daging badan saya terkelupas. Allah menolong saya untuk bisa keluar darinya, mendapatkan majelis Syaikh dan menghadirinya. Sementara saya dalam keadaan yang sangat memalukan seperti itu (Inaabatur Ruwat ‘ala Anbain Nuhaat, al-Qifthi, 2/363 dengan saduran).


Nah gaes, sekarang silakan introspeksi diri kita masing. Rasa-rasanya, zaman sekarang makin banyak orang malas belajar Islam. Semoga tidak denganmu.


Kedua, selain semangat dalam mendatangi majelis ilmu, juga kita perlu belajar bagaimana para ulama membelanjakan hartanya demi mendapatkan ilmu. Khalaf bin Hisyam al-Asadi berkata, “Saya mendapatkan kesulitan dalam salah satu bab di kitab nahwu. Maka saya mengeluarkan 80.000 dirham hingga saya bisa menguasainya” (Ma’rifatul Qurra’ al-Kibar, adz-Dzahabi, 1/209).


Ayah dari Yahya bin Ma’in adalah seorang sekretaris Abdullah bin Malik. Ketika wafat, beliau meninggalkan 100.000 dirham untuk Yahya. Namun Yahya bin Ma’in membelanjakan semuanya untuk belajar hadits, tidak ada yang tersisa kecuali sandal yang bisa ia pakai (Tahdzibut Tahdzib, Ibnu Hajar, 11/282).


Ali bin Ashim bercerita, “Ayahku memberiku 100.000 dirham dan berkata kepadaku: ‘pergilah (untuk belajar hadits) dan saya tidak mau melihat wajahmu kecuali kamu pulang membawa 100.000 hadits'" (Tadzkiratul Huffadz, adz-Dzahabi, 1/317).


Ketiga, kisah lainnya terkait semangat dalam mencari ilmu walau jarak yang ditempuh amatlah jauh. Abu ad-Darda radhiyallahu ’anhu mengatakan, “Seandainya saya mendapatkan satu ayat dari Al-Qur'an yang tidak saya pahami dan tidak ada seorang pun yang bisa mengajarkannya kecuali orang yang berada di Barkul Ghamad (yang jaraknya 5 malam perjalanan dari Mekkah), niscaya aku akan menjumpainya”. Sa’id bin al-Musayyab juga mengatakan, “Saya terbiasa melakukan rihlah berhari-hari untuk mendapatkan satu hadits” (Al Bidayah Wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/100). Keren!


Imam Baqi bin Makhlad melakukan rihlah dua kali: dari Mesir ke Syam (sekitar Suriah) dan dari Hijaz (sekitar Mekkah) ke Baghdad (Irak) untuk menuntut ilmu agama. Rihlah pertama selama 14 tahun dan yang kedua selama 20 tahun berturut-turut (Tadzkiratul Huffadz, 2/630).


Keempat, terkait dengan konsentrasi belajar. Imam Abu Bakar bin al-Anbari Rahimahullah melihat seorang budak wanita yang cantik lagi jelita di pasar sedang dijual. Dia tertarik kepadanya dan membelinya. Kemudian budak itu dibawa ke rumahnya.


Ibnu al-Anbari bercerita, “Saya disibukkan dengan mengkaji sebuah masalah dari beberapa masalah-masalah ilmiah. Hati saya menjadi terganggu dengan budak tadi dari mengkaji masalah-masalah tersebut. Saya menyuruh pembantu saya untuk membawa budak tersebut ke pasar dan menjualnya. Dia tidak boleh mengganggu saya dari belajar ilmu. Pembantu saya membawanya ke pasar untuk menjualnya. Budak itu berkata, “Biarkan saya berbicara dengan Ibnu al-Anbari walau sekadar dua patah kata.” Dia membawa ke saya dan berkata, “Kenapa Anda menjual saya, apakah saya memiliki catat/aib?”


Ibnu al-Anbari menjawab, “Anda tidak memiliki aib, tapi Anda mengganggu belajar saya. (yakni pikiran saya selalu teringat kepadamu)”. Ketika kabar itu sampai ke Khalifah al-Radli Billah, beliaupun berkata, “Tidak mungkin ada yang lebih manis di hati orang tersebut melebihi manisnya ilmu.”


Demikianlah para ulama kita. Semoga Allah Ta’ala membakar semangat-semangat kita untuk mempelajari agama ini, walaupun tidak bisa seperti semangatnya para ulama, setidaknya mendekati mereka. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita dalam mencari ilmu. Semangat ya, gaes! []

Posting Komentar untuk "Inspirasi Dalam Belajar "