Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Diteruskan, Ekploitasi Kemiskinan demi Cuan dan Pencitraan

 Oleh: Mochamad Efendi 




Exploitasi kemiskinan agar viral, dapat perhatian sehingga mengalirlah  bantuan sungguh bukan sikap terpuji untuk dilakukan. Kita diajarkan dalam Islam untuk tidak meminta-meminta, tapi jika bisa membantu sesama bukan karena riya' ingin dapat sanjungan atau pujian dari manusia. Disekitar kita banyak yang membutuhkan, dan tidak perlu menunggu viral saat ingin membantu. Membantu dengan ikhlas agar bernilai ibadah, bukan berharap terkenal dengan kebaikan yang dilakukan. Pencitraan, kebaikan semu dan menipu, hanya untuk dapat pengakuan dari manusia tidak ada nilai dihadapan Allah SWT. Rugi, jika apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan tujuan hidup kita, beribadah kepada Allah SWT.


Berjalan 16 KM agar bisa sekolah dilakukan ternyata hanya settingan agar mendapatkan simpati dan bantuan.  Ternyata konten-konten, mengeksploitasi kemiskinan dibuat agar mendapat simpati dan cuan. Dan semua itu ternyata telah menginspirasi yang lain untuk melakukan hal yang sama. Padahal perbuatan ini termasuk mengemis online yang tidak terpuji untuk dilakukan. 


Gaes, jangan suka mengeksploitasi kemiskinan diri dan mengiba atas ketidakberdayaan kita demi cuan. Buatlah konten yang menginspirasi untuk berbuat kebaikan, bukan mengemis online demi cuan. Jadilah orang perduli dan peka dengan sekitar, bukan berebut memiskinkan diri demi dapat  bantuan. Cukuplah Allah Yang Maha Tahu atas segala sesuatu dan tempat untuk memohon dan meminta. Melakukan usaha maksimal dan terus berdoa agar layak mendapatkan nikmatNya, tidak hanya di dunia tapi juga akhirat.  Terus bersabar  dalam hidup ini dengan menjadikan Islam sebagai solusi fundamental untuk seluruh masalah adalah pilihan tepat agar tidak termasuk orang-orang yang merugi. Teruslah berbuat kebaikan dengan landasan iman dan taqwa. 


Bersyukur atas nikmat, bukan berkeluh kesah adalah pilihan tepat agar terus mendapatkan nikmatNya. Dalam al-Qur'an, Surat Ibrahim ayat 7 Allah SWT. berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” Bersyukur adalah pilihan tepat agar mendapatkan tambahan nikmat. Sebaliknya, berkeluh kesah dengan mengeksploitasi kemiskinan diri di sosial media agar mendapat bantuan  hanya akan mendatangkan adzab yang pedih, karena mengingkari nikmat yang sudah kita dapat yang sebenarnya tidak terhitung jumlahnya.


Mengeksploitasi kemiskinan agar mendapatkan cuan tidak layak untuk diteruskan. Semua orang bisa berbuat baik pada sesama dan tidak perlu menunggu viral.   Perduli pada saudara disekitar dan membantu mereka dengan apa yang kita punya. Jangan menunggu viral, baru tergerak hati untuk membantu hanya untuk pencitraan. Bila perlu tidak perlu orang tahu bahwa kita datang membantu dan mengulurkan tangan kita untuk meringankan beban saudara kita. Membantu tidak harus dengan uang yang terkadang kita tidak mampu untuk melakukannya. Usaha kita untuk meringankan beban saudara kita dalam menyelesaikan masalah sungguh akan bernilai ibadah jika kita lakukan semua itu untuk menggapai ridhoNya. 


Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Adi ibn Hatim bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah neraka walaupun dengan bersedekah sebelah butir kurma, maka siapa saja yang tidak mendapatkannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan kata-kata yang baik.” 


Ikhlas adalah inti dari amalan ibadah, bukan besarnya atau banyaknya amalan yang kita kerjakan, jika semua itu hanya untuk diviralkan agar mendapatkan pengakuan banyak orang. Setiap orang bisa bersedekah meskipun hanya dengan kata-kata yang baik. Jika semua itu dilakukan ikhlas karena ingin menggapai ridhoNya, sungguh akan bernilai ibadah yang akan mengantarkan surgaNya, sebaik-baik tempat kembali.


Jangan diteruskan eksploitasi kemiskinan agar mendapatkan perhatian dan cuan. Kewajiban negara untuk mengentaskan kemiskinan dan menjamin kesejahteraan rakyatnya, bukan memeliharanya dan dijadikan bahan untuk pencitraan. Memberi perhatian, bantuan tapi tidak menyelesaikan akar permasalahan, selama sistem kapitalisme yang diterapkan. Kapitalisme hanya berpihak pada pemilik modal dan menguntungkan segelintir orang. Bantuan diberikan hanya untuk pencitraan agar terkesan baik dan perhatian, tapi tidak menyelesaikan akar permasalahan Korupsi jalan terus, utang luar negeri terus bertambah, sementara sumber kekayaan alam diserahkan ke swasta asing, sementara kebutuhan dasar rakyat ridak diurusi negara. Rakyat yang dalam kemiskinan terus dibebani pajak dan berbagai pungutan liar yang tidak jelas peruntukannya. 


Saatnya mencampakkan sistem kapitalis yang tidak berpihak dengan rakyat. Islam akan menjamin kebutuhan dasar rakyat dan juga penyediaan lapangan kerja agar rakyat bisa berdaya dan hidup sejahtera. Kemiskinan tidak boleh dipelihara tapi harus hapuskan dengan pengelolaan sumber daya alam yang melimpah oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat. Sistem Islam akan menghapus kemiskinan karena negara perduli dan mengurusi rakyatnya, bukan mengeksploitasi kemiskinan demi pencitraan.






Posting Komentar untuk "Jangan Diteruskan, Ekploitasi Kemiskinan demi Cuan dan Pencitraan"