Frugal Living, Solusi atau Sensasi?
Oleh: Alfina Burhan
Istilah Frugal Living menjadi trend di semester ke dua tahun ini. Secara harfiah makna frugal artinya ‘hemat’, sementara living artinya ‘hidup’. Maka bisa disimpulkan frugal living adalah gaya hidup hemat.
Gaya hidup frugal living seperti ini kerap dicap pelit oleh sebagian orang. Padahal, faktanya, keduanya sangat berbeda karena orang yang menjalani gaya hidup pelit membelanjakan uangnya untuk membeli barang murah dengan kualitas yang buruk. Sementara, frugal living membeli barang yang memang harganya kadang terbilang cukup mahal, akan tetapi kualitas dari barang tersebut sangatlah baik sehingga bisa digunakan untuk jangka waktu yang lama.
Saat ini opini hidup dengan gaya frugal living sedang digencarkan terutama pada masyarakat umum, khususnya pemuda yang memiliki pola hidup konsumtif. Misalnya membeli produk handphone terbaru karena mengikuti idola, mengikuti trend fashion, berburu makanan atau kulineran yang lagi viral, ataupun yang lainnya.
Jika menilik dari tujuan frugal living, maka gaya hidup hemat seperti ini bukanlah hal buruk bagi para generasi muda ataupun masyarakat secara umum. Namun sayangnya frugal living saat ini dianjurkan untuk rakyat jelata, tidak untuk para orang kaya Indonesia.
Sederhananya kita tidak boros menggunakan uang. Belanja seperlunya. Tapi bukan berarti kita tidak boleh membeli kebutuhan dengan kualitas bagus dengan harga yang lebih mahal. Karena bisa jadi dengan begitu jauh lebih hemat.
Bijak Membelanjakan Harta
Dalam Islam harta kepemilikan itu dibagi menjadi 3, yaitu: kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Kepemilikan individu sudah jelas itu adalah milik pribadi. Sedangkan kepemilikan umum, maka akan dikelola oleh negara untuk digunakan memenuhi kebutuhan rakyatnya.
Dalam mengelola kepemilikan umum inilah yang sering disalahgunakan oleh oknum pemimpin. Kepemilikan umum yang berubah sumber daya alam (SDA) banyak yang ijin kelolanya dimiliki swasta bahkan asing. Yang ujung-ujungnya negara hanya mendapatkan bagi hasil yang sangat kecil. Bahkan hasil yang kecil itu tidak pure turun untuk kebutuhan rakyat, tapi justru lebih banyak yang masuk kantong pribadi.
Sehingga tidak aneh jika kehidupan para pejabat negara tersebut sangat lebih baik dari rakyat umumnya. Flexing menjadi membudaya dikalangan pejabat dan keluarganya.
Miris memang jika frugal living - hidup hemat ini digencarkan tapi justru para pejabat dan keluarganya flexing dan menghamburkan uang. Yang notabene uang tersebut didapatkan dari kepemilikan umum yang harusnya menjadi milik rakyat.
Kasus seperti ini, harusnya juga menjadi perhatian negara. Para pejabat harus diaudit, jika memang mereka berfoya-foya dengan uang negara harus siap dengan segala sanksinya.
Kemudian mengembalikan pengelolaan SDA pada tempatnya. Setelah itu menggunakan hasilnya untuk memenuhi kepentingan rakyat. Bukan hanya memaksa rakyat untuk hidup hemat dengan dalih frugal living.
Karena bagaimanapun memenuhi kebutuhan rakyat adalah tugas negara. Memastikan kepala per kepala terpenuhi kebutuhannya, tanpa terkecuali. Sehingga frugal living bukan menjadi jargon untuk memaksa rakyat hidup hemat sebagai dalih ketidak mampuan pemimpin memenuhi kebutuhan rakyatnya.[]


Posting Komentar untuk "Frugal Living, Solusi atau Sensasi? "