Palestina Memanggil Kita Sodara
Oleh : Zhiya Kelana, S.Kom
Berapa hari ini berita di jagat maya berseliweran betapa kejamnya zionis Israel menyerang Gaza tanpa ampun. Memang sedari dulu pun mereka terkesan sangat bar-bar, menyerang rakyat sipil, para jurnalis dan tenaga medis. Bahkan menyerang rumah sakit yang notabene tempat yang difikirkan orang gak mungkin di serang karena itu salah satu tempat untuk mengobati pasien. Namun kalian salah sodara-sodara, mereka adalah manusia paling keji yang ada dimuka bumi ini.
Dan yang lebih menyedihkan para korbannya adalah kebanyakan para wanita dan anak-anak.
Lihatlah mata ayah yang kehilangan istri, anak, ibu dan ayahnya, lihatlah ibu yang kehilangan suami dan anaknya, dan lihatlah betapa banyak anak-anak yang menjadi yatim piatu. Yang hebatnya lagi mental mereka yang tidak akan bisa ditandingi manusia manapun. Mereka siap kehilangan segalanya, karena itulah mereka tak bersedih. Dan menyakini bahwa kelak Allah akan mengganti semuanya di surga.
Bohong jika dibilang mereka tak sedih kehilangan orang yang dicintainya, bohong jika mereka tak menangisinya. Dan bohong jika mereka seolah tidak trauma, lihatlah anak kecil disana yang gemetar ketakutan, tidak menangis, bahkan suaranya pun sehingga tak terdengar. Namun mereka harus siap karena itulah Allah telah memilih mereka untuk menjadi ahli syurga. Merekalah para penjaga Al-Aqsa yang sangat dicintai umat muslim.
Dimana kita saat mereka berulang kali memanggil kita? Dengan lirih, berteriak bahkan sampai mengancam “akan ku adukan kalian pada tuhanku”. Bukankah kaum muslimin itu ibarat satu tubuh, jika yang satu sakit maka yang lain pun ikut sakit. Lalu dimana posisi kita saat ini? Kita hanya diam sambil berdoa menangisi ketidakmampuan kita untuk menolong mereka dari bombardir israel.
Yang mirisnya hati ini adalah kita mengaku muslim, namun kita takut untuk berada diposisi membela mereka. Takut kiamat akan datang, lalu kita berada disisi para pembenci Islam, mendukung zionis melakukan pembantaian kepada kaum muslim. Yang membuktikan betapa mental kita sangat rapuh, tidak siap mati dan tidak mampu menerima kenyataan bahwa kiamat itu sesuatu yang dipastikan akan datang oleh Allah.
Dan sedihnya adalah ketika kita dapati sebagian dari kaum muslim disibukkan dengan dirinya, dunianya, negaranya sehingga terlontarlah kalimat “urus saja urusanmu sendiri”. Inilah sikap apatis yang sudah berhasil diciptakan oleh negeri sekuler. Hingga kita mencintai hidup ini seolah tak pernah berakhir dan takut kematian itu datang.
Dan sikap kita menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Maka jika saat ini kita berpura tuli, sedangkan semua manusia diseluruh penjuru dunia meminta pembebasan untuk palestina. Maka muncullah kalimat “tak perlu menjadi muslim, cukup menjadi manusia saja untuk melihat kondisi palestina”. Maka dimanakah hati nurani kita? Wallahu ‘alam. []


Posting Komentar untuk "Palestina Memanggil Kita Sodara"