Sirine Kematian
Oleh : Zhiya Kelana (Aktivis Muslimah Remaja Aceh)
Setiap pagi dia berbunyi setelah solat subuh, sayup-sayup terdengar suaranya yang samar-samar tidak jelas dibawa angin. Berita itu dari kampung sebelah, kemudian sirine kedua terdengar lagi sama seperti tadi kampung yang lain lagi. Mengapa sampai bisa terdengar ke daerah rumahku, karena pada saat itu sebagian manusia masih terlelap dalam tidurnya. Mereka tidak tahu apakah akan terbangun lagi ataukah tidak dalam lelapnya. Kadang alarm yang disetel pun tak terdengar lagi dikalahkan oleh mimpi.
Sirene kematian harusnya mengingatkan kita bahwa hidup itu hanya sementara, tidak ada yang abadi. Dan apa yang telah kita persiapkan untuk menghadapi hari itu? sudahkah kita berbuat baik dihari sebelumnya? sudahkah kita memaafkan mereka yang melukai kita? Sudahkah kita melunasi utang yang kita punya, sehingga akan memudahkan jalan kita. Semua pertanyaan itu muncul dalam fikiran. Kemudian apakah kita mati dalam keadaan seperti apa? Dalam ketaatankah atau sebaliknya?
Ternyata mati itu tak melulu soal usia tua, yang muda pun bisa mati juga. Dan tak melulu dalam kondisi sakit yang menjadi asbabnya, bisa jadi dalam kondisi sehat pula. Bahkan ada yang sedang tertawa bahagia, ada pula sedang dalam kondisi biasa. Ada yang sedang terduduk, berdiri, tertidur bahkan sujud. Lalu bagaimana nanti kita?
Semua itu adalah pelajaran bagi kita bagaimana kita mempersiapkannya. Kita telalu terlena dangan kehidupan ini, yang membawa kita ke arus yang kadang tak mampu kita kontrol sendiri. Pada saat itu kita butuh jamaah, karena hanya merekalah yang menjadi pengingat bagi kita, yang akan mendoakan kita dan mendukung langkah kita dalam menuju ketaatan kepada-Nya.
Kita terbiasa hidup enak, makan enak tapi lupa bagaimana mempersiapkan kematian yang enak. Dan mana mungkin mati itu enak, sampai orang Barat pun berlomba membuat sebuah teknologi agar bisa hidup panjang umur dan awet muda. Mereka menolak takdir atas kematian dan tua yang itu pasti telah dijanjikan Allah kepada setiap manusia.
Masa depan kita adalah kematian, bukan yang lainnya. Karena itulah bagi seorang muslim diingatkan untuk selalu mengingat kematian, agar dia bersiap kapan saja dengan amalan yang dimilikinya. Seperti kisah Umar bin Khatab yang disetiap malamnya merenungi perbuatannya dihari itu, menggali sebuah kuburan dalam rumahnya. Dia menangisi dirinya takut telah berbuat zalim kepada rakyatnya. Itulah cara umar mengingat kematian.
Ketakutan umat akhir zaman adalah kematian, seolah mereka ingin terus hidup disepanjang masa. Padahal bagi yang berumur lebih dari 100 tahun saja, hal yang paling mereka rindukan adalah kematian, karena kenikmatan hidup telah dicabut Allah. Mereka melihat kematian demi kematian datang silih berganti namun tak kunjung sadarkan diri. Wallahu’alam []


Posting Komentar untuk "Sirine Kematian"