Surat Cinta untuk Mahasiswa Aceh
Oleh: Zhiya Kelana, S.Kom (Pemerhati Generasi)
Sedih, marah, kecewa dan terluka rasanya, melihat sekumpulan mahasiswa berteriak-teriak di sebuah gedung yang ditempati muslim Rohingya di Aceh kemarin 27/11/23. Terlihat mereka sedang solat berjamaah, namun tanpa adab sekumpulan mahasiswa berteriak. Malu rasanya, sebagai muslim terbesar di dunia namun kita bersikap sangat kurang ajar jauh dari kesan seorang muslim. Apa yang terjadi sebenarnya?
Setelah mereka selesai solat, mereka diangkut paksa menggunakan truk untuk dipindahkan ke tempat lainnya. Anak-anak dan para wanita menangis, namun yang sangat mengiris hati adalah ketika coment netizen yang mendukung semua perbuatan tanpa adab oleh mahasiswa, bahkan ada yang berkomentar “baru kali ini aku melihat orang nangis tanpa airmata”. Astagfirullah betapa remuk dan hancurnya hati ini melihat para mahasiswa yang dianggap intelek tapi menjadi korban dari hoax yang digemboskan para pembenci Islam.
Ya... para mahasiswa berhasil dicuci otaknya oleh para pembenci Islam, untuk tidak menerima saudara muslimnya. Mengapa mereka tidak mencari tau fakta yang sebenarnya, bahwa muslim Rohingya sebenarnya adalah korban dari negaranya. Mereka tak akan mungkin melawan kita tanpa senjata apalagi mengambil tanah kita, mereka hanya berharap pertolongan dari saudara seakidahnya.
Kebencian apa yang membuat kalian sampai tega melakukan hal ini? Tidakkah hati manusiawi kalian terketuk melihat derita mereka. Memang, jika kita benci semua rasanya tentang mereka tidak benar. Janganlah kalian mencari dalih dan menyamakan mereka seperti yahudi yang membantai Palestina. Tidak akan pernah sama, konon lagi menyamakan mereka seperti snock grunyo yang menipu Aceh dimasa lalu.
Tidak malukah kalian kepada dunia ini? Andai rohingya datang ke palestina, maka orang palestina akan menyambutnya dengan suka cita. Kita begitu cinta pada palestina, itu terlihat bagaimana kita membelanya, tapi kenapa sebaliknya perlakuan buruk pada muslim rohingya. Mereka sama-sama korban genosida, bukan mereka tak paham makna jihad dalam Islam. Tapi itu sangat jauh berbeda, kita pun jika dalam kondisi yang sama pasti akan menyelamatkan diri kita dulu.
Semoga kalian sadar betapa salahnya yang kalian lakukan saat ini, semoga Allah masih memaafkan kalian yang berlaku buruk pada mereka. Dan takutlah kepada doa orang terzalimi yang dikabulkan tanpa hijab. Cukuplah peringatan tsunami 19 tahun lalu menjadi contoh betapa murkanya Allah kepada kita yang semakin jauh dari ajaran Islam. Wallahu’alam. []


Posting Komentar untuk "Surat Cinta untuk Mahasiswa Aceh"