Kemuliaan Yang Telah Hilang
Oleh: Syifa Muthmainnah (Santriwati Ponpes Darul Bayan Sumedang)
Pada 11 Mei 2024 lalu, kejadian nahas menimpa rombongan pelajar SMK lingga kencana Depok. Bus yang ditumpangi rombongan tersebut mengalami kecelakaan di kecamatan Ciater, kabupaten Subang, Jawa barat, hingga menewaskan 11 korban.
Peristiwa ini ramai jadi perbincangan netizen di media sosial, banyak netizen beranggapan bahwa peristiwa ini adalah kesalahan guru. Duh, lagi-lagi guru yang disalahkan, padahal peristiwa ini adalah qadarullah karena musibah ini terjadi di luar kendali manusia.
Ngomong-ngomong tentang guru, gimana sih keadaan para guru di zaman sekarang?
Guru adalah orang yang selalu mau membagi ilmunya kepada muridnya. Dengan adanya guru, kita bisa membaca, menulis dan mengetahui banyak ilmu, bukankah itu pekerjaan yang mulia? Walau terlihat mulia, namun kebanyakan nasib guru tidak semulia gelarnya.
Belum lagi, nasib guru yang harus mengurusi murid yang mempunyai perilaku yang cenderung lebih berani kepada gurunya. Bahkan ada yang berani merendahkan, mencela, hingga berani melakukan tindakan-tindakan fisik kepada gurunya.
Pada September 2023 lalu, terdapat seorang murid madrasah Aliyah (MA) kabupaten Demak, Jawa tengah, membacok gurunya menggunakan senjata tajam saat sedang ujian. Sementara sebulan setelahnya, terdapat seorang murid SMA kecamatan dusun selatan Kalimantan Tengah, menantang gurunya berkelahi usai disuruh merapikan seragam sekolahnya. Menyedihkan sekali bukan?!
Belum lagi nasib guru yang harus memenuhi kebutuhan keluarganya, terutama bagi guru honorer yang gajinya hanya sekitar 300 ribu rupiah. Walaupun ada gaji yang lebih tinggi dan tunjangan sertifikasi yang hanya berlaku bagi guru PNS.
Adab menuntut ilmu
Dalam Islam, menuntut ilmu tidak hanya datang, duduk, dan diam tapi ada aturan mainnya. Bukan sekedar aturan main yang dikeluarkan lembaga pendidikan formal, lebih dari itu, aturan yang lahir dari keimanan. Sehingga proses menuntut ilmu penuh keberkahan untuk muridnya, gurunya dan juga untuk ilmunya. Aturan ini tertuang dalam sejumlah adab menuntut ilmu.
Sayangnya, pada akhir zaman ini adab mencari ilmu sering diabaikan. Hubungan antara murid dan guru tak ubahnya seperti penjual dan pembeli. Si murid merasa sudah memgeluarkan banyak uang untuk bayar SPP dan gedung sekolah dengan nominal yang lumayan bikin kantong bolong. Sehingga penghargaan terhadap proses belajar cuman alakadarnya saja. Padahal kalo kita bercermin kepada para ulama dan cendekiawan muslim, ketaatan terhadap adab menuntut ilmu yang menunjang keberhasilan mereka dalam belajar dan berkarya. Karena itu, perlakuan murid pada sang guru sangat terjaga adabnya. Gak heran kalo para ulama dan cendekiawan muslim tumbuh dan menjadi tokoh-tokoh Islam yang dikenal karena ketinggian ilmunya.
Demikianlah pentingnya adab dalam menuntut ilmu, ambillah ilmu yang hendak kita miliki sebanyak-banyaknya, namun janganlah kita melupakan adabnya.
Merindukan kemuliaan
Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia disisi Allah SWT lantaran guru dengan ilmu yang dimilikinya, mereka bisa menjadikan anak didiknya cerdas secara akademis dan terbangun kepribadian Islamnya. Gak heran kalo pemerintahan Islam sangat menghargai profesi guru. Tak sekedar mengalungi gelar pahlawan tanpa tanda jasa, tapi negara Islam juga menjamin kesejahteraan hidupnya, tanpa membedakan apakah ia guru PNS atau honorer, sama mulianya.
Sejarah mencatat, bahwa guru dalam negara Islam mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara, berupa pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari ad-Dimasyqi, dar al-Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak, dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar per orang yang setara dengan 63,75 gram emas. Sehingga dalam naungan negara Islam, selain mendapat gaji yang begitu besar, para guru juga mendapatkan kemudahan untuk mengakses sarana dan prasarana demi meningkatkan kualitas mengajarnya. Hal ini tentu akan membuat guru bisa fokus untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak SDM yang berkualitas yang dibutuhkan negara untuk membangun peradaban yang agung dan mulia. Wallahu a'lam... []


Posting Komentar untuk "Kemuliaan Yang Telah Hilang"