Cinta itu Memihak
Oleh: Ustadz Abu Zaid R
Ngaku cinta belum tentu cinta. Sebab ngaku itu butuh bukti. Kalo sekedar ngaku saja maka boleh jadi kucing garong tapi ngaku singa. Sementara kancil ngaku kerbau. Karenanya ngaku cinta mesti ada buktinya.
Seorang muslim pastinya mencintai Allah, rasul dan orang mukmin. Dan bukti cinta itu yang paling sederhana adalah memihak. Artinya kalo kita ngaji cinta Islam, Allah, rasul dan kaum mukmin berarti kita mesti memihak kepada Islam, kepada Allah, rasul dan kaum mukmin.
Pada saat kita harus memilih maka kita mesti memilih islam, Allah, rasul dan kaum mukmin. Ketika penjajah yahudi laknatullahi alayhim melakukan genosida terhadap muslim palestina maka kita mesti memihak palestina. Haram hukumnya memihak penjajah. Bahkan sekedar netral alias tak memihak kepada keduanya juga haram. Wajib hukumnya memihak kepada tanah dan muslim palestina.
Ketika, di negeri ini Islam dikucilkan dengan berbagai upaya penjajah dengan isu radikalisme, kemudian diperbaharui dengan proyek moderasi beragama maka kita juga wajib memihak kepada Islam. Yakni memihak kepada Islam yang kita warisi dari Baginda Nabi Muhammad Saw. Kita wajib menolak semua ajaran baru yang diadakan dan dibuat oleh penjajah. Baik ajaran sesat sekulerisme, humanisme, pluralisme, liberalisme dll. Yang semua ajaran penjajah itu adalah ide kufur yang haram diajarkan dan wajib ditolak. Bahkan siapa saja yang menerima ide ide kufur itu maka dia telah murtad keluar dari Islam.
Oleh karena itulah fenomena tokoh tokoh muslim yang justru memihak kepada penjajah yahudi laknatullahi alayhim. Atau memihak kepada orang orang kafir ketika terjadi permusuhan antara umat Islam dan penjajah kafir. Atau menentang islam dengan menjajakan ide ide kufur buatan penjajah seperti pluralisme dll. Semua sikap itu telah membuktikan bahwa klaim cinta mereka adalah palsu. Sebab mereka justru berpihak kepada musuh Allah, rasul dan kaum mukmin.
Karena itulah tak ada jalan atau pilihan lain bagi muslim kecuali berpihak kepada Islam, Allah, rasulullah dan kaum mukmin hingga nyawa lepas dari badan.
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala:
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24).
Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab –radiyallahu ’anhu-. Lalu Umar –radhiyallahu ’anhu- berkata,
لأنت أحب إلي من كل شيء إلا من نفسي
”Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata,
لا والذي نفسي بيده حتى أكون أحب إليك من نفسك
”Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian ’Umar berkata,
فإنه الآن والله لأنت أحب إلي من نفسي
”Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata,
الآن يا عمر
”Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna).” (HR. Bukhari) [Bukhari: 86-Kitabul Iman wan Nudzur, 2-Bab Bagaimana Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersumpah]
Wallahu a'lam.[]


Posting Komentar untuk "Cinta itu Memihak"