ADAB MENDESKRIPSIKAN & MENYEBUT BAGINDA NABI MUHAMMAD ﷺ
Catatan Dr Irfan Abu Naveed
Perhatikan adab dalam mendeskripsikan keadaan dan menyebut baginda Nabi Muhammad ﷺ, karena ia menjadi hak Nabi Muhammad ﷺ, kewajiban syari'ah dan bagian dari penjagaan terhadap syi'ar Islam! Melanggar batasan ini, mengundang kemurkaan Allah 'Azza wa Jalla, sebagaimana kaidah balaghiyyah mengungkapkan:
لكل مقام مقال
"Untuk setiap maqam (kedudukan) itu ada maqal (tutur katanya)."
Al-Qāḍī ʿIyāḍ (w. 544 H) dalam kitab Al-Shifāʾ bi-Taʿrīf Ḥuqūq al-Muṣṭafā ﷺ, memberikan pedoman:
فصل ومما يجب على المتكلم فيما يجوز على النبي ﷺ وما لا يجوز والذاكر من حالاته ما قدمناه في الفصل قبل هذا على طريق المذاكرة والتعليم أن يلتزم في كلامه عند ذكره ﷺ وذكر تلك الأحوال الواجب من توقيره وتعظيمه ويراقب حال لسانه ولا يهمله وتظهر عليه علامات الأدب عند ذكره.
"Pasal: Di antara hal yang wajib diperhatikan oleh orang yang berbicara mengenai perkara-perkara yang boleh dan tidak boleh dinisbatkan kepada Nabi ﷺ, serta oleh orang yang menyebut keadaan-keadaan beliau ﷺ sebagaimana telah kami kemukakan pada pasal sebelumnya dalam rangka saling mengingatkan dan mengajarkan, adalah bahwa ketika berbicara tentang Nabi ﷺ dan menyebut keadaan-keadaan tersebut, ia harus senantiasa menjaga dalam perkataannyaو penghormatan dan pengagungan yang wajib diberikan kepada beliau ﷺ. Ia juga harus memperhatikan keadaan lisannya dan tidak mengabaikannya. Hendaknya tampak pada dirinya tanda-tanda adab ketika menyebut beliau ﷺ."
فإذا ذكر ما قاساه من الشدائد ظهر عليه الإشفاق والارتماض والغيظ على عدوه ومودة الفداء للنبي ﷺ لو قدر عليه والنصرة لو أمكنته
"Apabila ia menyebut berbagai kesulitan dan penderitaan yang dialami Nabi ﷺ, hendaknya tampak pada dirinya rasa iba dan keprihatinan, kemarahan terhadap musuh beliau, serta keinginan untuk menebus Nabi ﷺ apabila ia mampu melakukannya, dan keinginan untuk memberikan pertolongan apabila hal itu memungkinkan baginya."
وإذا أخذ في أبواب العصمة وتكلم على مجاري أعماله وأقواله ﷺ تحرى أحسن اللفظ وأدب العبارة ما أمكنه واجتنب بشيع ذلك وهجر من العبارة ما يقبح كلفظة الجهل والكذب والمعصية
"Apabila ia mulai membahas perkara-perkara kemaksuman dan berbicara mengenai berbagai perbuatan dan perkataan Nabi ﷺ, hendaknya ia berusaha memilih lafaz yang paling baik dan ungkapan yang paling beradab semampunya, dan hendaknya menghindari ungkapan yang buruk dan meninggalkan ungkapan yang tidak pantas, seperti kata ‘ketidaktahuan’, ‘kebohongan’, dan ‘kemaksiatan’."
Al-Qāḍī ʿIyāḍ kemudian memberikan alasan normatif:
فهذا من حق توقيره ﷺ وما يجب له من تعزيز وإعظام.
“Hal demikian merupakan bagian dari hak penghormatan terhadap beliau ﷺ, serta bagian dari pemuliaan dan pengagungan yang wajib diberikan kepada beliau ﷺ.”
Dari sini dapat dirumuskan bahwa adab al-ʿibārah menurut al-Qāḍī ʿIyāḍ bukan sekadar persoalan estetika bahasa. Pemilihan kata ketika membicarakan Nabi ﷺ memiliki dimensi etis: bahasa harus memperlihatkan tawqīr, taʿẓīm, dan taḥarrī aḥsan al-lafẓ. Maka diksi semisal "memburu" mengandung unsur penistaan, dan penyematan nama mulia "Muhammad" kepada para pelaku kriminal mengandung tashghir (perendahan), para pelaku ini wajib bertaubat, dan umara wajib bertindak!
صلوا على نبينا محمد ﷺ


Posting Komentar untuk "ADAB MENDESKRIPSIKAN & MENYEBUT BAGINDA NABI MUHAMMAD ﷺ"