Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bermimpi Besar


Oleh: Rizka HS (SMA Bina Insan Mandiri)

Pernah bermimpi sekolah setinggi-tingginya. Salah? Tidak juga. Terlebih, dewasa ini orang yang berkependidikan tinggi selalu mendapatkan tempat istimewa di tengah-tengah masyarakat. Seperti seorang sarjana, jika ia berada di tengah-tengah masyarakat. Maka ia akan begitu rupa di hormati dan diperhatikan. Perlakuan berbeda akan kita temui jika ada seseorang yang tidak pernah lulus bangku sekolah. Ia akan dianggap biasa-biasa saja, bahkan mungkin tidak akan pernah mendapat perhatian masyarakat. Berpendidikan dianggap memiliki derajat yang cukup tinggi. Seolah-olah orang yang sudah sekolah tinggi saja yang terhomat. Hm... apakah seperti itu hakikinya kehormatan seseorang?

TK (2 th), SD (6th), SMP (3th), SMA (3th), dan di PTN rata-rata 4 tahun jika dia hanya mengambil S1. Begitulah standard kebanyakan orang yang ada sekarang. Namun apakah hanya itu saja yang pantas ditempuh? apalagi identitas kita sebagai seorang muslim?

Pernah mendengar istilah Uluwul Himmah minal Iman?
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahualaihi wasallam bersabda: seandainya hari kiamat akan tiba besok, sedang dalam genggaman kita ada biji yang ingin kita tanam, maka Rasulullah shallallahualaihi wasallam memerintahkan kita untuk tetap menanamnya. Ini menunjukkan bahwa kita harus memiliki semangat dan tekad yang kuat dalam segala hal sekalipun kemungkinan  yang ada untuk mencapainya sangat kecil.

Dan hadist tersebut bekaitan dengan ‘Uluwul Himmah, dan kita wajib mempelajari itu karena itu salah satu yang Rasulullah ajarkan. Apa itu Uluwul Himmah? secara bahasa uluw artinya: tinggi dan himmah artinya semangat, tekad (ambisi), motivasi. Sehingga uluwwul himmah dapat dimaknai sebagai motivasi, semangat, atau tekad yang tinggi atau kuat.

Para ulama sudah memaparkan pengertian Uluwul Himmah, salah satunya Imam Ibnul Qoyyim yang menyatakan: Jiwa ini tidak akan berhenti sebelum sampai pada Allah taala, dan tidak bisa diganti dengan sesuatu selain Allah, dan tidak rela dengan pengganti selain Allah, dan tidak akan menjual bagian dari ketenangannya dan kebahagaiaannya untuk dekat dengan Allah, senang dengan Allah dan tenteram dengan Allah dengan kenikmatan-kenikmatan yang bersifat hina dan sementara. Kenikmatan yang dimaksud adalah dekat dengan Allah.

Nah, lalu apa hubungannya dengan hakikinya penghormatan seseorang?

Jadi, percuma saja jika kita punya mimpi sekolah tinggi hingga S3 sekalipun, jika ujung - ujungnya tidak ada penerapan yang dilakukan karena Allah, untuk menolong agama Allah, untuk mengikuti ajaran Rasul dan banyak hal yang dilakukan untuk mendekatkan diri pada Allah Sang Pencipta.

Jika kita punya orientasi tinggi untuk sekolah tinggi maka motivasi atau tekad tinggi untuk mendekatkan diri kepada Allah harus jauh lebih tinggi. Karena itu akan menentramkan hati, dan sebuah ilmu itu ujungnya adalah amal, dan amallah yang akan menentukan kehidupan kekal kita kelak yakni, surga atau neraka.

Dan apakah semangat mimpi besar kita sudah berorientasi untuk kehidupan kita yang abadi kelak? Atau malah masih jauh dari Allah dan berakibat dosa? Ah, semoga saja tidak. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Bermimpi Besar"