Laki-laki Maskulin dan Perempuan Feminin itu Fitrah
Oleh: Ira Faadhilah (Revowriter dan Founder Komunitas Remaja Move On Karawang)
Dear, pastinya kita sudah tak asing lagi kan ya dengan istilah maskulin dan feminin? Menurut wikipedia, definisi dari maskulin atau maskulinitas (disebut juga kejantanan atau kedewasaan) adalah sejumlah atribut, perilaku, dan peran yang terkait dengan anak laki-laki dan pria dewasa. Sedangkan definisi dari Feminin atau femininitas dari bahasa Prancis, femininine adalah sebuah kata sifat, adjektif yang berarti "kewanitaan" atau menunjukkan sifat perempuan. Sifat-sifat yang dimaksud biasanya adalah kelembutan, kesabaran, kebaikan, dan lain-lain.
Berdasarkan uraian definisi diatas, sudah sangat jelas sekali jika kedua kata tersebut bermakna antonim. Maskulinitas adalah sifat alamiyah yang ada pada laki-laki dan feminin atau femininitas adalah sifat alamiyah yang ada pada perempuan. Artinya itu semua fitrah sesuai dengan gender atau jenis kelaminnya masing-masing. Di wikipedia, definisi gender sendiri adalah serangkaian karakteristik yang terikat kepada dan membedakan maskulinitas dan femininitas. Karakeristik tersebut dapat mencakup jenis kelamin (laki-laki, perempuan), hal yang ditentukan berdasarkan jenis kelamin (struktur sosial seperti peran gender), atau identitas gender.
Dari karakteristik sifat maskulin dan feminin tadi atau tepatnya maskulin alamiyahnya dimiliki laki-laki dan feminin alamiyahnya dimiliki perempuan sudah menjadi ketetapannya jika dalam kebutuhannya pun berbeda. Begitupun dalam peranan, hak dan kewajiban antara laki-laki dengan maskulinitasnya dan perempuan dengan femininnya juga tidaklah sama. Dalam Islam keduanya sudah sangat jelas pengaturannya dari sisi peran dan fungsinya. Mereka berbeda.
"Laki-laki tidaklah seperti perempuan." (Ali Imrân ayat 3: 36)
Lalu, bagaimana dengan fakta yang ternyata banyak juga sifat maskulinitas ada pada perempuan, begitupun sebaliknya. Laki-laki yang memiliki sifat feminin?
Faktanya, seiring berkembangnya zaman. Fitrah yang tertukar ini terbelalak dihadapan mata kita ya dear? Saat banyak perempuan dari sisi penampilannya meniru gaya maskulin laki-laki. Pun sebaliknya, banyak laki-laki yang meniru gaya feminin perempuan. Naudzubillah.
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Al-Bukhâri, no. 5885; Abu Dawud, no. 4097; Tirmidzi, no. 2991)
Upaya Mendobrak Fitrah
Di alam kapitalisme sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan), penggiat kaum feminisme dengan paham kesetaraan gendernya kian deras mengopinikan bahwa peran dan fungsi keduanya haruslah sama. Hak Asasi Manusia (HAM) yang menjadi payung hukumnya. Termasuk dari sisi gender. Laki-laki dan perempuan haruslah sama. Jadi wajar, ketika karakteristik maskulinitas idealnya dimiliki laki-laki dan karakteristik feminin idealnya dimiliki perempuan, kini bisa terbalik. Fitrah itu terkoyak karena nafsu. Seiring semakin derasnya opini kaum feminisme yang sulit dibendung di alam demokrasi saat ini dengan liberalismenya (kebebasan).
Dalam peran dan fungsinya, mereka tak henti menggaungkannya. Jika keduanya haruslah sama. Jika si maskulin (laki-laki) bisa mengayuh becak, si feminin (perempuan) pun harus bisa. Jika laki-laki bisa menduduki kursi kepemimpinan negara, perempuan pun harus bisa. Ya, karena mereka menganggap hak keduanya sama. Jadi sah-sah saja ketika seorang ibu meninggalkan anaknya demi karir. Sah-sah saja ketika ayah tak keluar rumah dan justru malah ibu yang mencari nafkah. Tak ada lagi tulang punggung dan tulang rusuk. Keduanya telah patah. Dipatahkan oleh semakin garangnya kampanye paham feminisme dengan kesetaraan gendernya. Merusak fitrah. Ya, karena anggapan peran dan fungsi yang sama tadi sehingga wajar saja gambaran seorang sutradara dalam sinetron Dunia Terbalik terasa nyata dalam kehidupan.
Dari sini, jelas sekali kampanye besar yang disokong oleh liberalisme Barat akan paham feminisme adalah menuntut kebebasan. Inilah buah busuk atas penerapan kapitalisme sekuler (memisahkan kehidupan dari agama). Arah opini seolah menawarkan madu padahal sejatinya adalah racun yang mematikan fitrah. Mendobrak kodrat Allah.
Islam Menjaga Kesucian Fitrah
Berbeda dengan Islam. Islam akan menjaga fitrah itu. Fitrah maskulin hanya untuk laki-laki dan fitrah feminin hanya untuk perempuan. Penjagaannya berupa aturan yang sangat jelas. Aturan yang sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia. Laki-laki dan perempuan tidaklah sama. Mereka berbeda. Begitupun peran dan fungsinya. Hak dan kewajibannya.
Laki-laki dan perempuan diciptakan bukan untuk bersaing. Melainkan untuk saling melengkapi. Melalui aturanNya dalam penjagaan fitrah. Keduanya diperintahkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Dengan menjalankan peran dan fungsinya masing-masing begitupun dengan menjalankan hak dan kewajibannya.
Inilah PR bersama. Dalam kacamata kapitalisme sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) dengan liberalismenya tentu akan merusak segala tatanan sendi-sendi kehidupan. Hawa nafsu manusia yang menjadikan sandaran. Sehingga wajar jika sampai mendobrak kodrat dan mengoyak fitrah. Saatnya umat Islam sadar, bahwasannya sistem saat ini rusak dan merusak. Kembali kepada aturan Islam adalah solusi tuntas menjaga fitrah ini. Dan menjadi solusi tuntas atas segala problematika yang ada. Wa'allahu alam bi showab. (reper/ar)


Posting Komentar untuk "Laki-laki Maskulin dan Perempuan Feminin itu Fitrah"