Bahaya Virus si "Merah Jambu"
Oleh: Nur Istiqomah
Wabah penyakit dari virus Corona kini semakin parah dengan bertambahnya korban jiwa. Virus ini menular pada semua kalangan , baik perempuan ataupun lelaki. Namun , ada virus yang lebih berbahaya. Apakah virus itu?? Yah.. Virus si Merah Jambu ( bukan virus yang terjangkit pada buah jambu ya 😁 ).
“Virus si merah jambu” adalah nama lain dari CINTA. Si merah jambu adalah semacam istilah yang menggambarkan kondisi dimana ada seseorang yang special yang mengisi ruang hati kita. yang mana orang tersebut belum berstatus halal bagi kita atau yang sering kita kenal saat ini yaitu istilah PACARAN. Aktifitas ini sudah merebah dimana-mana dikalangan remaja maupun pelajar. Ternyata banyak sekali yang terserang virus ini, sampai-sampai virus ini bisa menghancurkan hati mereka yang sedang merasakannya.
Diawali dari sebuah perkenalan kemudian jalani PeDeKaTe"chattingan via whatsapp , BBMan , Line , smsan, telponan, VC" setelah itu TTM "jaga kesehatan yah, jangan lupa makan, selamat tidur dan mimpi indah" sampai berlanjut PACARAN. Selama aktivitas PACARAN yang bertahan hingga bertahun-tahun apakah yakin hanya pegangan tangan? Hanya cowok tidak normal yang ketika lama berPACARAN hanya sekedar pegang tangan, si "dia" pasti ingin lebih dari itu bahkan bisa sampai aktivitas diatas ranjang layaknya pasangan suami istri. Keperawanan sang wanita akhirnya ternodai atas dasar pengorbanan CINTA. Preeettt.
Islam tidak pernah melarang siapapun untuk jatuh cinta, karena segala yang ada dalam dunia ini merupakan cerminan cinta Allah yang Maha Mencintai, mencintai makhlukNya sehingga Allah jadikan alam semesta ini dengan kesempurnaan dan sebaik-baiknya penciptaan. Namun bagaimana dengan perasaan cinta kepada lawan jenis yang sering kali melanda hati manusia???
Tidak ada larangan, dan itulah fitrah manusia. Bahkan Fatimah putri kesayangan Nabi Muhammad pun telah jatuh cinta kepada Ali bin Abi Thalib saat pertama kali bertemu. Juga Zulaikha yang tergila-gila pada Nabi Yusuf karena pesona ketampanan Nabi Yusuf yang luar biasa. Maka dari itu fenomena cinta ini merupakan hal yang naluriyah, saya tegaskan kembali bahwa adanya perasaan cinta dalam diri manusia itulah yang naluriyah. Akan tetapi tidak jarang orang yang salah dalam menindak lanjuti perasaan naluriyah ini sehingga kemuliaan cinta yang awalnya bersifat manusiawi kini berubah menjadi hewani.
Fenomenanya, ketertarikan dengan lawan jenis ini dilanjutkan dengan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Bahkan bagi mereka yang menjalaninya menganggap bahwa PACARAN hukumnya sah-sah saja dan manusiawi. Padahal kan, enggak!
Kembali pada perintah yang jelas tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an, bahwasanya Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 32)
Dalam ayat ini memang tidak secara langsung menegaskan bahwa PACARAN itu dilarang, namun pada realitas yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari PACARAN merupakan pintu gerbang yang paling mudah untuk memasuki jurang perzinahan. Maka sangatlah pantas jika PACARAN dikategorikan sebagai implementasi perzinahan, bahkan menurut teori psikoseksual PACARAN merupakan salah satu bentuk pelampiasan seksual.
Ini berarti pengkategorian PACARAN sebagai salah satu bentuk perzinahan telah dibenarkan oleh teori-teori yang ada, karena faktanya orang yang menjalani PACARAN sangat jarang terhindar dari aktivitas: saling bersentuhan, saling memandang, berkhalwat (berdua-duan), bermanja-manja / melembutkan suara bagi perempuan. Padahal dalil-dalil yang melarang aktivitas-aktivitas di atas sudah cukup jelas.
Apapun alasan yang dibuat manusia, tetaplah segala sesuatu yang dilarang Allah itu berarti hukumnya haram dan mengandung banyak mudharat. Ada yang beralasan, “kami berpacaran semata-mata karena ingin saling mengingatkan, dan mengajak kepada kebaikan. Mengingatkan shalat, qiyamul lail bersama, ngaji sama-sama, itu kan positif!”
Ya, aktivitasnya memang positif, tapi niatnya sudah berbeda. Rajin shalat karena pacar, rajin ngaji karena pacar, qiyamul lail karena pacar, bukan karena Allah. Lalu kalau sudah putus sama pacar, akankah ibadah ini akan bertahan? 95% tentu tidak, ibadah ini lambat laun akan menurun, musnah dan bisa jadi seseorang ini justru akan lebih buruk dari sebelumnya. Ko bisa? Sangat bisa, karena segala sesuatu yang dilakukan bukan karena Dzat yang Maha Kekal, sifatnya tidak kekal. Ia akan pudar sedikit demi sedikit karena merasa kehilangan factor pendorong ibadahnya, lantas dalam kurun waktu tertentu semangat ibadah ini akan hilang sama sekali. Maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengatakan bahwa PACARAN itu positif.
Jadi sahabat sekalian , yang sedang jalani aktivitas PACARAN. Akhiri hubungan terlarang ini, yang sudah jelas sangat merugikan masa depan kita. Udah Putusin Ajah.. (reper/rmn)


Posting Komentar untuk "Bahaya Virus si "Merah Jambu""