Belajar Daring Bikin Anak Stres?
Oleh: Mahrita Julia Hapsari, M.Pd. (Praktisi Pendidikan)
Semua sektor di negeri ini telah terdampak corona. Tak terkecuali dunia pendidikan. Beberapa pemerintah daerah telah mengeluarkan regulasi untuk merumahkan para siswa. Dalam rangka social distancing, pembelajaran daring pun menjadi alternatif.
Tanggapan datang dari KPAI. Hasil keluhan para orang tua yang mendampingi anaknya belajar di rumah. Pembelajaran daring membuat anak stress. Karena belajar di rumah hanya untuk mengerjakan tugas-tugas dan menjawab sejumlah soal. Tanpa mengukur perbandingan logis antara tugas dengan rentang waktu yang disediakan untuk menyelesaikan tugas.
Mengupas dari laporan KPAI tersebut, dapat kita analisis beberapa faktor yang mempengaruhi kelancaran pembelajaran daring.
Pertama, guru. Sebagai pihak utama dalam pembelajaran di kelas. Tak ada guru, kelas kosong dan tak ada proses belajar mengajar. Demikian juga dengan belajar daring. Guru juga memegang peranan utama.
Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo menilai pembelajaran daring sudab tepat. Namun, diperlukan kreatifitas guru untuk mengemas pembelajaran agar efektif dan menarik (tirto.id, 16/03/2020).
Sama dengan di kelas. belajar daring justru menjadi tantangan bagi guru. Bagaimana siswa paham dan tujuan pembelajaran tercapai dengan cara daring. Artinya, siswa bisa memahami materi perlajaran secara mandiri, tanpa kehadiran guru secara nyata. Apakah berupa materi, soal latihan, atau unjuk kerja. Semua tergantung kreatifitas guru.
Kedua, siswa. Jika di kelas, guru bisa secara langsung bertatap muka. Mengingatkan siswa ketika perhatiannya teralih dari belajar. Namun ketika belajar daring, siswa harus memiliki kesadaran penuh untuk belajar mandiri.
Mempelajari bahan belajar, mengerjakan tugas dan mengirimkan tugas secara online. Semua memerlukan rasa tanggung jawab pada diri siswa. Ini salah satu sisi baik dari pembelajaran online. Bahkan jika diadakan ujian daring di rumah, ini akan menguji kejujuran siswa.
Ketiga, sarana dan prasarana. sangat diperlukan untuk kelancaran belajar daring. Smartphone, kuota internet, dan kekuatan jaringan operator, menjadi perangkat wajib dalam belajar daring.
Smartphone bukan lagi kebutuhan sekunder ataupun tersier. Namun sudah menjadi kebutuhan penting masyarakat di era revolusi industri 4.0. Karena banyak hal yang mengharuskan kehadiran smartphone, misal belajar daring.
Akan tetapi, lebarnya jurang kesenjangan ekonomi, telah menciptakan kemiskinan yang tersistem. Ada yang benar-benar sangat miskin. Jangankan untuk membeli smartphone, untuk makan sehari-hari saja susah.
Keempat, orang tua. Belajar daring di rumah, perlu pendampingan orang tua. Agar tugas-tugas bisa diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Utamanya usia SD, orang tua bisa membantu mengerjakan tugas.
Sedangkan untuk usia SMP dan SMA bisa dengan menemaninya sambil mengawasi keseriusannya mengerjakan tugas. Agar anak bisa fokus. Karena rasa bosan terkadang mendera, membuat anak membuka aplikasi selain yang berhubungan dengan tugas.
Orang tua juga memiliki kewajiban untuk menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar. Jika biasanya orang tua bertemu anak di pagi dan sore hari, karena setengah harian anak-anak ada di sekolahan. Kini, seharian mereka ada di rumah.
Belajar di rumah telah mengembalikan anak pada Al-Madrastul Ula, ibunya. Dan di tengah tugas rumah tangga yang tak ada habisnya, kini bertambah menjadi pengawas belajar. Tentu tak ringan, karena tugas ini semula dititipkan ke sekolah.
Banyak para ibu yang tergagap menemani si anak belajar di rumah. Antara ingin membantu dan tuntutan tugas yang lain, melahirkan sikap yang kurang sabar. Akhirnya, suara tinggi dan bentakan pun menemani anak sepanjang belajar di rumah. Tak jarang akhirnya anak berpikir, nyaman belajar di sekolah daripada di rumah.
Kelima, negara. Porsi peran terbanyak, untuk kesuksesan belajar daring, ada pada negara. Dengan kebijakannya yang bersifat mengikat dan luas, belajar daring akan efektif.
Terjaringnya 55 pelajar Sukabumi di bioskop saat social distancing. Merupakan salah satu kekuatan negara untuk bisa memaksa warganya tinggal di rumah. Sekaligus memastikan para orang tua menjalankan fungsinya dalam mendampingi belajar di rumah.
Negara juga mampu menyediakan sarana dan prasarana untuk belajar daring. Mulai dari smartphone, kuota hingga aplikasi pembelajaran daring. Semua disediakan secara gratis.
Negara juga bisa meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar. Baik secara online maupun offline. Agar pembelajaran yang dilakukan guru lebih bermutu. Dan tujuan pendidikan untuk memanusiakan manusia menjadi tercapai.
Negara juga bisa mencetak orang tua yang siap dengan tanggung jawabnya mendidik anak-anaknya. Dalam rangka mengantarkan mereka menjadi hamba Allah, suatu gelar tertinggi dari manusia. Negara akan menyiapkan sekolah calon orang tua. Menyiapkan lapangan pekerjaan bagi laki-laki dengan kerja dan gaji yang manusiawi. Menjamin tercukupinya kebutuhan pokok tiap individu rakyat. Menyediakan layanan fasilitas publik secara manusiawi dan gratis.
Negara mampu mengatur sosial masyarakat untuk kesuksesan belajar daring. Lebih jauh lagi, dalam rangka menjaga ketakwaan individu dan masyarakat. Negara bisa menutup bioskop dan tempat hiburan malam.
Negara bisa mengatur siaran televisi dan konten-konten di dunia maya. Menjaga generasi dari tayangan, konten, dan aplikasi yang merusak akalnya. Apabila siaran televisi digunakan untuk pembelajaran, jelas sangat efektif. Orang tua juga bisa ikut melihat dan belajar. Sedangkan internet, bisa digunakan untuk pelaporan tugasnya.
Pertanyaan selanjutnya, negara seperti apakah itu? Itulah negara Islam yang menerapkan syariat Islam kaffah. Penerapan Islam kaffah akan menjamin terpeliharanya akal, jiwa, harta, kehormatan, keturunan, agama, keamanan, dan negara. Jika delapan hal tersebut terpelihara, maka seluruh tugas manusia di dunia ini akan terasa ringan. Termasuk belajar daring. Wallahu a'lam (reper/oky)


Posting Komentar untuk "Belajar Daring Bikin Anak Stres? "