Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi Pejuang Dakwah di Era Milenial


Oleh: Hanin Jayyid (Siswi Ma’had Darul Bayan Sumedang)

Di era serba canggih ini, teknologi terus menunjukkan perkembangannya dari hari ke hari. Semua informasi dari berbagai sumber sangat mudah didapat, tiggal usap layar smartphone, berbagai berita mudah ditemukan.

But, jangan seneng dulu, di era digital saat ini terkadang bisa mendatangkan keuntungan atau sebaliknya mendatangkan kerugian. Ibarat “statusmu adalah harimaumu”. Gak berlebihan jika ada yang mengatakan hal seperti tadi, karena status yang nangkring di beranda bisa menyadarkan manusia, bisa juga memenjarakan raga.

Masih ingat dengan Asma Dewi yang tersandera karena statusnya di medsos menyinggung penguasa? Juga ustadz Felix Siauw, ustadz kondang yang dipersekusi karena konten dakwahnya yang “keras” pada kedzaliman dan kemaksiatan yang merajalela. Belum lagi banyaknya informasi yang beredar, tidak menutup kemungkinan ada saja opini yang bisa menyesatkan.

Media sosial atau yang biasa kita sebut medsos adalah media yang tak bertuan. Lebih dari 16 Milyar pengguna facebook dan 60 Milyar pertukaran antara pengguna whatsapp. Menjadikan medsos bak berlian yang diperebutkan. Hal ini sangat dimanfaatkan oleh banyak orang, tak terkecuali para pengemban dakwah, dia bisa menggunakan jarinya untuk sebarkan kebaikan di sosial media, menjungkir balikkan opini-opini yang dibuat media mainstream hanya untuk pencitraan.

So, manfaatkanlah media sosial dengan baik! Karena media hari ini telah dikuasai oleh para kapital, yang seenaknya mengganti berita, memutar balikkan fakta, membuat opini hanya untuk kepentingan mereka yang anti Islam.

Maka penting bagi kita remaja pengemban dakwah, mewarnai kehidupan medsos. Bukan mewarnai dengan berita hoax atau berita comebacknya para idol, melainkan menyamapaikan nasihat-nasihat islami, status yang berisi amar ma’ruf, berkarya dengan tulisan yang bermutu agar hijrah menjadi gelombang dahsyat yang membuat masyarakat memiliki pemahaman islam kaffah.

Sebagai remaja pengemban dakwah, kita juga harus bisa memilih mana yang bermanfaat dan memiliki nilai lebih untuk diposting, berbobot juga berpahala, seperti kisah inspiratif, semangat hijrah, nasihat islami dan lain-lain. Jangan lupa untuk like postingan yang bermanfaat dan share ilmu-ilmu islam dari fanspage dakwah. Dan yang paling penting adalah cerdas dalam memberikan argument dan komentar, tanggapi dengan sopan. No kasar, no nyinyir, apalagi bully!

Tebarkan kebaikan dengan kata. Jadikan status atau postinganmu di medsos sebagai lading pahalamu, karena dakwah gak melulu dengan ceramah! Yuk Ngaji! Yuk Dakwah Gaul! (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Menjadi Pejuang Dakwah di Era Milenial"