Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alhamdulillah, 2 Adikku Mualaf


Oleh: Ustadz Moh. Arifin (Mubaligh Malang)

Saat itu,  al faqir diamanahi Kyai di majal dakwah yang baru, sebuah lahan dakwah yang benar benar real, dukhul mujtama', benar benar terjun ke masyarakat. Karena bertahun tahun al faqir ngaji dan belajar dakwah di kampus.

Setelah beberapa waktu menyiapkan mental, ilmu, konsultasi, minta doa, membangun sinergi dengan shilaturrohmi ke jama'ah dan masyarakat sekitar. Bismillah, mulai ketemu cara mengetuk hati masyarakat.

Jadwal hutbah dibeberapa masjid di sekitar mulai ada, bahkan kami juga bisa ngadakan Kajian Kitab secara rutin di masjid, kajian bahasa arab, ulumul hadist dan kajian tafsir tematik di tempat al faqir dan teman teman direspon positif oleh masyarakat sekitar.

Hingga akhirnya, datanglah seorang jama'ah datang untuk konsultasi. Beliau berkata, "Ustadz, Alhamdulillah, sejak kehadiran njenengan bersama kader njenengan,  saya jadi semangat hidup dan semangat berdakwah, buletin dakwah selalu kutawarkan dan kusebar ke beberapa masjid sekitar sambil shilaturrohmi ke Takmir."

Al faqir pun tersenyum dan membenarkan dalam hati, bahwa antum adalah jama'ah yang luar biasa,  semangat, berani, keras khas arema asli, dan ana iri karena antum cuma lulusan STM. He he he... senyum lagi bertanda tambah bahagia.

"Begini Ustadz, ..."

Beliau memulai bercerita sambil menghela nafas dalam dalam.

"Saya ini 4 bersaudara, laki laki semua. Tapi... Yang membuat saya sedih,..." Beliau berhenti sejenak. Lalu melanjutkan ceritanya.

"Ibu saya muslimah, bapak saya kristen, bagaimana ini? Kan haram,  kan ibu saya zina terus? Lalu saya dan adik saya muslim, 2 adik saya lagi krist*n karena sudah ada kesepakatan antara ayah dan ibu tentang pembagian memeluk agama bagi kami sebagai anak-anaknya."

Ana kaget luar biasa, ana bingung mau menjawab mulai dari mana?

Lalu ana berusaha tersenyum sambil mempersilahkan beliau untuk minum air putih yang ana sediakan.

"Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, Mas ini kesempatan langka bagi antum untuk mendapatkan surga dan juga kesempatan  mengajak keluarga antum masuk surga." Ucapku pada beliau

Lalu al Faqir mengutip hadist,

من دل على خير

 فله مثل اجر فاعله

"Mas, Rasulullah bersabda,  Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan, maka bagimya pahala seperti pelakunya. Tapi Mas, yang terpenting sabar, pelan-pelan, jangan membantah dan berkata kasar ke Ayah, tunjukkan akhlak anak muslim itu baik." Ucap Al faqir memberikan nasehat

Saat itu, beliau hanya bisa terdiam dan menundukkan pandangan. Dan al faqir pun kemudian bertanya, "Mas, bolehkah besok sore setelah ana pulang mengajar mampir ke rumah antum?"

Beliau pun menjawab sambali senyum,  "Silahkan Tadz, dengan senang hati.  Tapi jangan kaget ya, kalo ketemu Ayah Ibu ku dan kondisi rumahku?"

Ana pun terkekeh.. "He he he antum bisa saja." Tak berapa lama kemudian, beliaupun pamit pulang.

Sore yang ditunggupun tiba, sepanjang jalan ana berdoa sambil berfikir, apa pilihan kata kata yang tepat ketika ketemu orang tuanya. Sebelum tiba di rumahnya, ana mampir ke toko buah untuk oleh-oleh keluarganya.

Pintupun ana kethuk dan kuucapkan salam. Beliapun membuka pintu,
Cipika cipiki lalu duduk dan meja sudah ada teh hangat dan pisang goreng. Ketika pandanganku kuarah di dinding bagian atas depanku, ana kaget bukan kepalang, Astaghfirullah patung salib begitu besar tergantung.

Belum hilang kaget ana, muncul seorang ibu yang rambutnya sudah mulai memutih yang hanya menggunakan baju lengan pendek dan rok pendek.

Tidak lama kemudian, ibunda berucap, " Oooo... Njenengan to Ustadz Arifin,  saya sering dapat cerita dari anak anak tentang njenengan.  Lalu sang ibu memanggil, Bes.. Ebes... ( sapaan Ayah di daerah Malang) iniloh ada Ustadz Arifin. "

Hati ana deg deg kan, lalu keluarlah Ayahnya, bersalaman dengan ana tapi tanpa senyum, malah berkata sambil berdiri, "Pak tolong tidak usah macam-macam, ini sudah kesepakatan, tidak usah mengajak saya dan adik adiknya masuk Islam."

Lalu ayah masuk rumah, kami pun menundukkan pandangan dan pura-pura tidak ada masalah, agar ibu tidak tambah malu.

Beberapa hari kemudian, beliapun datang lagi ke rumah ana, "Tadz ini ada kabar gembira sekaligus duka."

"He he he... Maksudnya gimana Mas?" Tanyaku terheran-heran

"Begini Tadz, adik saya yang nomor 3 telah bersahadat. Alhamdulillah..tapi ketika adik saya sholat dhuhur kemarin,  ketahuan Ayah, dikira adik, Ayah tidur,  ketika Ayah masuk kamar kami dan lihat Adik sholat, Ayah marah besar dan berkata. Apa ini komat kamit,  jungkat jungkit...sejak kapan ini?"

"Kamu ya mas yang mempengaruhi!" Kata ayah sambil menatap wajahku,  menujuk nunjuk. Lalu Ayahpun berteriak, "Ibuuu... Ini siapa yang tanggung jawab..."

Setelah itu, Ayahpun terus marah sambil mengancam bla bla bla...

******

Beberapa bulan kemudian, beliaupun datang lagi dengan wajah sumringah dan membawa oleh oleh makanan untuk kami.

"Ustaaadz... Alhamdulillah Ustadz,  adikku yang terakhir juga sudah masuk Islam, matur suwun Ustadz atas doa,  dukungan dam nasihat selama ini." Kata beliau pada Al faqir

Dan beberapa tahun kemudian ketika Al Faqir sudah pindah tempat, dapat kabar, dari 4 bersaudara itu telah menjadi muslim semua. Dan hebatnya yang 3 pemuda itu telah masuk dalam barisan dakwah. Subhanallah...

Alhamdulillah.. Semoga Beliau bersama adik-adiknya istiqomah dalam berIslam dan mensyiarkan Islam. Semoga Ibunya menjadi Muslimah yang ta'at.  Semoga Ayahnya menjadi mualaf. Aamiin yaa Robbal 'Aalamiin. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Alhamdulillah, 2 Adikku Mualaf"