Doa Untuk Pahlawan Medis
Oleh: Abdullah Makhrus*
Siapa yang hari ini berjuang di garda depan melawan Covid-19? Mungkin kita semua sepakat. Merekalah para medis. Mereka hari ini dan sejak wabah korona menyebar di seantero negeri ini telah berjuang, mengeluarkan segala daya dan upaya guna membantu menyelamatkan nyawa manusia melawan dahsyatnya serbuan wabah korona.
Lelah ataupun rasa sakit yaang mereka rasakan karena tiap hari membantu pasien mungkin mereka abaikan demi nilai kemanusiaan. Semua yang bekerja tanpa lelah diantaranya dokter, perawat, office boy, maupun tim kesehatan dan kementrian kesehatan telah berupaya mengerahkan energi terbaiknya.
Kita yang terus mengamati pergerakan naiknya jumlah pasien dari semula pasien yang di temukan di awal maret 2020 mungkin merasa ngeri juga. Dua pasien pertama yang terinfeksi virus korona diumumkan kepada publik (2/3). Indonesia menjadi negara ke-65 yang melaporkan kasus Covid-19 (jawapos.co.id)
Kini, jumlah pasien yang positif terinfeksi Virus Corona (Covid-19) di Indonesia per 7 April 2020 jadi 2.738 orang. Dari jumlah itu, 221 orang di antaranya meninggal dunia dan 204 pasien dinyatakan sembuh.(cnnindonesia.com)
Kita berharap, tidak menjadi orang yang menambah daftar pasien yang terpapar virus ini dengan terus berupaya sekuat tenaga menjaga diri dan keluarga kita. Mari kita bantu mengurangi pekerjaan tim medis dengan menjadi pribadi yang sehat agar tim medis makin semangat.
Mulailah dengan rajin mencuci tangan, kenakan masker, hindari bersentuhan, jangan sentuh area wajah. Perhatikan etika bersin dan batuk, hindari berbagi barang pribadi, bersihkan perabot rumah, physical distancing atau jaga jarak antar sesama saat diluar rumah. Selalu mencuci bahan makanan, tingkatkan imunitas tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat dan halal serta berolah raga.
Sedangkan solusi jalan langit yang juga nampaknya jangan pula diabaikan. Mari kita ingat, bisa jadi masalah hari ini datang, karena Allah itu rindu pada doa kawan-kawan sekalian. Pernah mendengar kisah tukang bubur naik haji kan? Pernah juga membaca dengan kisah seorang tukang roti yg ingin bertemu dengan seorang imam besar Imam Bin Hambal?
Termasuk kisah seorang nenek yang cucunya sakit dan bisa sembuh dengan bantuan seorang dokter yang jaaauuuhhh dari desanya. Tapi Subhanallaah... dokter tersebut, bi idznillah (dengan izin Allah) bisa sampai di dusun terpencil melalui sebuah pola skenario dari Allah.
Inilah yang saya sebut dengan miracle alias keajaiban dari Allah. Mari coba fokuskan diri kita hari ini dan seterusnya hanya kepada Allah. Sadarkah kita bahwa selama ini kita terlalu sering membicarakan-Nya, tapi jarang berbicara padaNya.
Di sini saya coba berbicara dengan Anda, misalkan saya tanya, siapa yang mau umroh? Saya yakin, rata-rata pasti akan tunjuk tangan tapi bisa jadi ada yang tidak. Betul apa tidak? Atau begini misalnya saya pulang ke rumah dengan membawa dua makanan ringan atau jajanan di tangan saya. Terus, pada saat sampai di rumah, saya melihat dua anak saya dua-duanya lagi main game di gawai mereka. Ketika sampai depan rumah, saya teriak, "Siapa yg mau jajan?"
Anak pertama segera lari meninggalkan gamenya (padahal lagi seru-serunya) kemudian menghampiri saya. Sedangkan anak yang kedua, sambil tetap main game cuma berkata “Mauuu taruh saja jajan itu di meja Ayah”.
Nah, kira-kira saya lebih senang memberi ke siapa? Ke anak yang pertama atau kedua? Tentu saya akan lebih memilih memberi jajanan pada anak yang pertama yang antusias, kan? Betul ya? Sahabatku yang saya cintai karena Allah. Jangan-jangan... doa kita selama ini seperti itu. Kita berdoa antara perlu dan tidak perlu?
Oke, kembali pertanyaan awal tadi saat saaya bertanya tunjuk tangan siapa yang mau umroh. Saya tanya kembali "Apakah teman-teman berdoa dengan antusias minta umroh setiap salat? Ataukah cuma hanya ingin saja tapi tidak pernah minta secara rutin setiap bada salat dengan didasari niat yang kuat?
Nah, kembali ke bahasan awal. Doa, ini mungkin salah satu ikhtiar langit yang perlu kita lakukan disaat wabah melanda di negeri kita. Kita dan keluarga pasti ingin diselamatkan Allah dari wabah ini bukan? Pertanyaannya sudahkah kita berdoa sungguh-sungguh? Sudahkah kita mendoakan orang lain? Kepada petugas medis dan semua timnya?
Ingatkah kita akan hadis nabi ini?
Ummu Darda’ pun mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”
: “إن دعوة المرء المسلم مستجابة لأخيه بظهر الغيب، عند رأسه ملك موكل، كلما دعا لأخيه بخير، قال: آمين، ولك بمثل”. قال: فلقيت أبا الدرداء في السوق، فقال مثل ذلك، يأثر عن النبي صلى الله عليه وسلم.
“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”
Ketika kita ingin diselamatkan oleh Allah dari wabah ini. Maka perbanyaklah doa untukmu dan saudara-saudaramu, guru,murid, teman kerja, tetangga termasuk petugas medis dan semua tim kesehatan. Mari kita doakan agar mereka semua diberikan kesehatan dan Dindarkan dari tertular saat mereka merawat pasien korona yang masih bertambah.
Semoga jihad dan ikhtiar mereka dibalas kebaikan dan surgaNya. Teriring doa yang sama buat teman-teman dan keluarga semua di grup ini. Semoga Allah kabulkan doa kita semua. (reper/baim)
*) Abdullah Makhrus adalah guru kelas 6 SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo sekaligus Kepala Sekolah Center Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Muhammadiyah Sidoarjo


Posting Komentar untuk "Doa Untuk Pahlawan Medis"