Karena Dakwah, Menulispun Jadi Menyenangkan...
Oleh: Mochamad Efendi
Pemuda pendiam yang tidak suka berinteraksi apalagi berbagi pemikiran ataupun perasaan dengan orang lain. Dia tidak punya banyak teman dan lebih suka untuk menyendiri, berteman dengan bayangannya sendiri. Sampai pada akhirnya seorang teman datang membawa kebenaran Islam dan dengan sabar memberikan pemahaman untuk mau membuka diri meniti jalan dakwah dan berislam secara kaffah.
Perlahan dia mulai membuka diri untuk menjadi pribadi yang baik, tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga bagi yang lain. Dia harus memaksa dirinya berinteraksi karena tuntutan dakwah meskipun dia menyadari tidak pandai bergaul dan mengkomunikasikan isi kepalanya, tapi dia juga mengerti bahwa dakwah adalah kewajiban. Awalnya terpaksa, tapi perlahan dia mulai berani menuangkan ide -ide islami lewat tulisan meskipun tsaqofah keislamannya masih dangkal dan masih perlu banyak belajar.
Dia mulai memberanikan diri untuk merangkai kata-kata dalam sebuah tulisan atas dorongan teman-temannya dalam satu komunitas dakwah di kampus. Atas saran temannya, dia kirimkan hasil karya tulisan opininya ke media lokal di Malang. Sungguh, diluar dugaan tulisannya dipublikasikan dan dibaca banyak orang. Dia mulai cinta menulis dan menyadari punya kemampuan. Tapi, sayang disaat harus meningalkan kota Malang dan berpisah dengan teman-temannya yang inspiratif dan tidak lelah menyemangati untuk terus menulis, ghiroh menulis mulai menurun dan perlahan mulai menghilang.
Beruntunglah dia bertemu dengan komunitas penulis garis bawah yang tidak lelah memberikan jempolnya dan apresiasi atas posting tulisan yang dibuat. Dia bertamah suka dan mulai menikmati setiap waktunya untuk menulis. Bersama komunitas garis bawah, dia bukan hanya penulis biasa tapi penulis mabdai yang siap menginspirasi umat dengan ide-ide Islami yang bersumber dari ajaran Islam yang lurus dan mulia. Dia senang melakukanya meskipun tidak dapat imbalan berupa materi, tapi dia yakin ada imbalan yang lebih besar dari sekedar materi. Ketentraman dan kepuasan hati dan tentunya kebahagiaan yang hakiki saat bisa melakukan satu kebaikan tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga orang lain. Dan yang lebih penting lagi adalah saat Allah ridho dengan kebaikan yang kita lakukan, sungguh itu adalah kebahagian yang sesungguhnya melebihi dari materi yang kita akan dapatkan.
Dia menyadari tidak semua tulisan mendapatkan respon positif, bahkan terkadang hujatan dari orang-orang yang tidak sepakat. Tapi, dia menulis bukan hanya untuk menghibur pembaca, yang terpenting menyampaikan ajaran Islam yang lurus untuk mencari ridho Allah. Dia tahu resiko menyampaikan kebenaran bisa jadi dimusuhi orang-orang yang membenci dan tidak suka dengan ide Islami yang disampaikan karena kebenaran tidak selamanya diakui kebanyakan orang. Sering apa yang dianggap kebanyakan orang sebagai satu kebenaran, ternyata bukan satu kebenaran bahkan bisa jadi bertentangan dengan kebenaran hakiki, ajaran Islam yang lurus dan mulia. (reper/yuni)


Posting Komentar untuk "Karena Dakwah, Menulispun Jadi Menyenangkan..."