Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MUAK


Oleh: Khoridatul Hikmah (Pelajar di kota Sidoarjo)

"Nak. Jangan pulang dulu. Tadi Pak Lurah ngasih pengumuman, yang saudaranya diluar kota dikasih tahu biar jangan pulang. Kemarin yang dikarantina di desa, orang Jakarta, positif.." Suara di seberang sana mengabarkan.

Aku menghela nafas panjang. Sudah kutenteng tas besar di tangan, juga sebuah ransel jumbo di gendongan. Harusnya aku bersiap mencari bus di terminal kota.

"Tapi tidak ada larangan pulang kampung, kan, Bu?" jawabku.

"Pak Lurah yang melarang, Nak. Bukan Ibu tidak suka kamu pulang, ini untuk jaga-jaga. Kalaupun kamu nekad kesini, pasti disuruh kembali. Sudah ya, jangan pulang dulu"

Ibu terus-terusan mendesak. Aku pula terus-terusan memaksa membolehkan. Namun, bagaimanapun ia tak punya wewenang memasukkan orang dari luar kota ke desa, walaupun aku anaknya.
Akhirnya aku menyerah. Melepas ransel di punggungku. Kemudian mengurung diri lagi di kamar. Sempat aku dibuat dongkol dengan kebijakan Lurah itu.

Tapi sejenak kurenungkan, tidak salah. Siapa yang mau desanya menjadi sentra penyebaran virus ini? Apalagi dia adalah pihak yang nantinya menanggung. Mau tidak mau, harus sedikit berbeda dengan pemerintah negeri sendiri. Okelah, aku mengalah.
Aku melirik toples plastik bekas yang ada di atas meja. Itu simpanan uang terakhir. Hanya ada selembar uang dua puluh ribu berikut recehan yang nilainya kecil. Bapak bilang, belum bisa mengirim dalam jumlah besar. Tiap sore keliling jualan bakso, sepi. Tentunya aku tak berhak menuntut banyak.

Aku termenung lagi. Sampai kapan begini? Kalau aku pulang, setidaknya bisa nyaman disana. Tak perlu berbelit-belit mikir uang dan makan.
Susah sekali mencari kerja sampingan dalam situasi begini. Bisa saja aku jualan kue keliling asal ada modal. Kerja mandiri apa sajalah inginnya. Asal bisa bikin toples itu penuh.
Harus sebulan lagi aku bertahan dengan uang pas-pas-an?
Lama sekali aku berpikir. Mau kerja apa, makan apa, nekad pulang tidak ya? Mataku berkeliling ke segala sudut ruangan sempit ini. Uang kos, nunggak lagi?

Kurebahkan tubuhku di atas tikar tipis. Ini kasurku. Lalu kuteguk habis air di mug besar di atas meja, ini makan siangku. Nanti malam juga besok, atau bahkan besoknya lagi juga begini. Pagi makan nasi pakai kerupuk, siang-malam makan air. Masih untung, daripada yang minum air terus sampai meninggal. Berapa banyak yang begitu, yang bahkan air minumnya saja kurang layak?

Lambungku sudah perih sejak tiga hari yang lalu. Maag? Wah, jangan ditanya. Ini sudah asam lambung akut. Sampai-sampai rasa nyerinya merambat ke dada dan punggung. Seperti ditimbun batu besar rasanya, sesak!

"Tok-tok-tok!"
Seseorang mengetuk dari luar kamar kos-ku. Bergegas kubuka. Dan ternyata anak kecil sekitar umur lima tahun. Tubuhnya kurus-kering. Ingusnya belepotan. Bajunya lusuh, sobek disana-sini.

"Mbak, ada nasi?" tanyanya lugu, tatapannya penuh permohonan.
Aku termenung sekejap. Setelah sadar buru-buru kuambil toples di meja, kurogoh isinya dan kuberikan stengahnya. Kukatakan, kalau nasi tidak ada tapi ada sedikit uang. Bisa dipakai untuk beli roti 2-3 buah.

"Terima kasih" katanya berbinar.
"Ibu dimana?" tanyaku mentapnya serius.

Bocah laki-laki itu diam, kemudian buka mulut.
"Ibu lapar. Di rumah. Sakit perut katanya. Adikku menangis terus. Lalu aku pergi sendiri kesini. Maaf minta-minta, Mbak. Nanti aku ganti uangnya" Ia bercerita dan berjanji mengembalikan uangku.

Kukatakan, tidak perlu diganti. Akhirnya ia berterima kasih lagi kemudian pamit. Kupandangi terus bocah kecil itu berjalan menjauh, kakinya telanjang. Di kejauhan dia mulai berlari-lari kecil.
Aku tersenyum kecil. Berapa ratus ribu, atau mungkin berapa juta yang begitu? Semakin menderita saat pandemi. Bukan salah Yang Maha Esa memberi takdir begini, tapi harusnya yang berwenang di atas rakyat, dialah yang mau bekerja mati-matian. Tunjukkan tanda kesungguh-sungguhan mengabdi pada rakyat.

Lalu apa yang mereka lakukan sekarang? Berbelit-belit dengan kebijakan ini-itu yang semakin banyak menimbulkan problem.
Kalau mau disiplin dengan sosial distancing, itu lumayan. Tapi nyatanya banyak rakyat yang terpaksa tak bisa disiplin. Sebab mereka yang di atas tidak memebri jaminan. Makanan, bahan pokok, pekerjaan, urusan kamu sendiri! Siapa yang mau menyalahkan jika rakyat terpaksa pergi-pergi demi menyambung nyawa. Jangan tuduh-tuduh rakyat, apalagi menghina yang tak punya! Sudah, aku muak memikirkannya! (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "MUAK"