Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Problematika Kehidupan


Oleh: Heni Melisa

Pemberitaan virus corona saat ini yang marak di seluruh dunia, telah memakan korban. Diawali (yang katanya) dari kelelawar yang dijadikan santapan masyarakat China di Wuhan, berdasarkan penelitian ternyata mengandung virus corona. Makanan yang dilarang dikonsumsi bagi umat Islam tersebut menyebabkan penularan yang menakutkan.

Suasana mencekam, keluar rumah corona mengintai sedangkan berdiam diri di rumah kelaparan menghampiri. Kehidupan terasa sempit, bukan hanya karena virus. Ketahanan keluarga juga menjadi benteng yang lemah saat ini.
Bagaimana tidak?

Baru-baru ini diberitakan seorang anak perempuan (15 tahun) mengaku puas telah membunuh anak laki-laki (5 tahun) di rumahnya. Patut dipertanyakan, seperti apa pola asuh di keluarga, sehingga bisa menjadikan anak tersebut melakukan perbuatan tersebut.

Belum lagi tuntutan kesetaraan jender yang dilakukan kaum feminis yang mendorong kaum perempuan keluar dari fitrahnya. Tak ayal, aktivitas para hawa lebih banyak di luar rumah. Padahal kriminalitas nengancamnya. Tidak hanya begal motor, kini marak pembegalan payudara yang dilakukan kepada kaum perempuan, juga menjadi salah satu problem yang harus diselesaikan.

Bagaimana kerusakan ini bisa terjadi?

Kehidupan sekuler, memisahkan kehidupan dari agama merupakan kehidupan yang diterapkan saat ini menyebabkan masyarakat hanya memusatkan kehidupan dunia. Hal ini disebabkan, dalam keseharian aturan Allah dilupakan. Umat melupakan uqdatul kubro (tiga simpul besar) dalam kehidupan.

Pertama, darimana manusia berasal. Kedua, untuk apa hidup didunia. Ketiga,  kemana kita pergi setelah kematian.

Kehidupan dunia merupakan kehidupan sementara yang harus diisi dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul, sebagai bekal kampung akhirat. Kehidupan dunia merupakan kehidupan yang penuh dengan perhiasan dan kesenangan dunia yang membuat umat lalai sehingga melupakan kehidupan. Padahal akhirat lebih baik daripada dunia.

Sesuai dengan QS. Ali Imran ayat 14 yang artinya "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Perhiasan dan kesenangan dunia berupa wanita, anak-anak dan Harta. Perhiasan dunia terbaik adalah wanita sholihah. Perhiasan dunia terburuk adalah wanita tholihah (tidak sholihah). Wanita sebagai tiang negara

Adapun anak-anak menjadi penawar hati, eksistensinya diharapkan sebagai penerus keturunan  yang baik dan shalih serta menjadi simpanan membantu orang tuanya kelak di akhirat. Anak-anak juga bisa menjadi cobaan. Firman Allah dalam Surah  al  Anfaal ayat 28 yang artinya "Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar"

Harta melimpah dapat menyebabkan manusia lupa akhirat karena dimudahkan dengan kesenangan dunia. Kemudahan dalam menikmati makanan, minuman, rumah, safar dan transportasi, melenakan kehidupan.

Tetapi Allah memberi kenikmatan hakiki di akhirat yang ada di surga berupa sungai yang mengalir dibawahnya. Istri-istri yang suci. Keridlaan Allah SWT.

Al-Quran mengkonfirmasikan betapa akhirat lebih baik daripada dunia. Kehidupan akhirat adalah kehidupan sejati, sedangkan kehidupan dunia merupakan kehidupan yang penuh tipuan " Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan"(TQS. Ali Imran ayat 185).

Dan Allah SWT berfirman dalam surah Luqman ayat 33 yang artinya " Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah."

Kesenangan dunia dibandingkan dengan akhirat hampir tidak berarti apa-apa. Rasul SAW bersabda "Demi Allah, Tiadalah perbandingan dunia dengan akhirat melainkan seperti perumpamaan seorang diantara kamu sekalian yang memasukkan jari-jarinya didalam lautan, maka coba perhatikan apa yang dapat ia peroleh (HR Muslim).

Kehidupan di dunia hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Bukan kehidupan sebenarnya. Tidak layak dijadikan tujuan. Sementara kehidupan akhirat adalah kehidupan sejati. " Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (TQS. Al An'am :32.). (reper/im)

Posting Komentar untuk "Problematika Kehidupan"