Ta'jil Cinta
Oleh: Khairatun Rainah
Hari ini ke empat bulan Ramadan 1441 H. Waktu menunjukkan pukul 16.05 wita, aku berencana mengajak Bapak ke pasar Ramadan. Aku ingin beli ta’jil untuk menu berbuka nanti.
“Pak, kita ke pasar yuk. Rani kepengen beli ta’jil”, sambil mengerjap-ngerjapkan mata aku merayu Bapak. “Iya, ayu nak. Bapak juga mau jalan-jalan nih.” Tangan Bapak mengusap lembut ubun-ubun kepalaku.
“Yes, Alhamdulillah. Rani siap-siap dulu yak Pak”, Segera aku menyambar jilbab pink bermotif bintik-bintik merah, khimar merah hati dan kaos kaki unyu-unyu berwarna ke pink-pink an bergambar buah ceri.
“Cepat ya Nak. Bapak tunggu di teras”, Bapak berjalan sambil berbicara kepadaku.
Kami naik motor butut Supra merah zaman 2000an, motor kesayangan Bapak yang dibeli waktu kerja jadi buruh di perusahaan karet. Sepuluh menit kemudian, kami sudah menginjak keramaian pasar Ramadan. Berbagai macam sayur mayur seperti sayur karuh, sayur bening, sayur manis, kuah sop, dan lain-lain.
Osengan pari dengan campuran tempe tahu. Sayap dan ceker ayam asam manis. Soto Jawa, soto Banjar. Kue-kue juga berjejer manis minta dimakan. Kebanyakan kue tradisional yang dijual di pasar Ramadan ini. Seperti lupis berkuah gula yang telah dilarutkan, amparan tatak, bingka barandam, bingka kukus pandan. Buah dari berbagai macam jenis. Hingga bakso dan mie ayam juga ada.
“Rani, kamu mau sayur apa, Nak”, Bapak berbalik ke belakang nunggu jawabanku. “Sayur manis yang berkuah santan aja, boleh Pak?" jawabku sembari menunjuk pancinya. “Boleh, Nak. Bu, sayur manisnya semangkuk. Sayap ceker asam manisnya sepiring ya”, sambil menyerahkan uang selembar uang sepuluh ribu kepada ibu penjual.
Kami terus berjalan menuju ujung pasar Ramadan ini. Mata terus memandang kiri kanan, rasa-rasanya aku mau memakan mereka semua. Mereka semua memenjarakanku di kurungan besi sesak oleh berbagai jenis makanan.
Sampai ketika aku melihat deretan lemari kaca berisi berbagai jenis ta’jil. Di dalam lemari kaca sana, ada semangkuk warna yang menarik. Dari komposisi warna ta’jil itu, menggiurkan selera makan ku.
Jika saja aku tak ingat bahwa saat ini sedang berpuasa, mungkin aku sudah duduk di sana menyeruput santan kental dengan mutiara di atasnya.
“Kamu mau ini, Nak?" Bapak menyentuh bahuku, menyadarkan pandanganku dari lamunan. “Iya, Pak. Semangkuk aja. Nanti kita bagi jadi dua ya, Pak,” Bapak tersenyum.
“Kenapa harus dibagi dua, Nak? kita beli aja untuk dua porsi”, Bapak menoleh ke arahku. “ Gak usah, Pak. Nanti takut nggak habis. Kita juga harus berhematkan. Pak?" tanyaku setengah berbisik. Sekarang getah murah. Cuma lima ribu per kilo. Sedangkan pendapatan getahnya, cuma sekitar enam kilo sehari. Bapak biasa menjual satu minggu sekali. Pikirku sejenak.
“Tidak apa-apa, Nak. Do’akan rejeki Bapak lancar ya?” Aku tersenyum. ”Geh, Aamiin Ya Robb. Oh iya, Rani ke sana dulu ya, Pak. Mau beli air kelapa murni.” Bapak menggangguk, aku pun berjalan. Tanpa ku sadar, seorang lelaki berparas tampan, tinggi bersih dan berpeci tersenyum ke arahku. Seorang ibu juga tersenyum melihat tingkah anaknya.
“Mas, ta’jilnya satu porsi ya. Putriku mau berbuka dengan ini. Dia suka melihat komposisi warna seperti pelangi.” Kata bapak, sambil tersenyum.
“Tunggu sebentar ya, Pak. Saya bungkuskan.” Geraknya gesit mengambil mangkuk dan plastik mika bening lalu memasukkan ta’jil beserta kuahnya yang sudah terbungkus plastik ke dalamnya.
“Oh iya, Pak, kalo boleh tau, Bapak tinggal di mana?” tanya ibu penjual sambil menyunggingkan senyum ramah. Berkerudung merah dibalut jilbab biru tua. Dari raut muka beliau berumur sekitar empat puluhan.
“Tidak jauh, Bu. Dari sini membutuhkan waktu sepuluh menitan aja. Kami tinggal di desa sebelah. Rumah kami berseberangan dengan rumah ketua RT 08,” jawab Bapak tanpa sungkan.
“Boleh nanti kami berkunjung?”, tanya beliau lagi. “Silakan aja Bu. Pintu selalu terbuka kok. Kita jalin silaturahmi. Ibu sudah lama berjualan? Selalu ditemani putranya? Siapa namanya?”. Bapak melirik dan tersenyum ke arah laki-laki yang sedang membungkuskan pesanan.
“Kami jualan jika Ramadan saja Pak. Iya, kebetulan jika Ramadan anak saya pulang kampung. Namanya Roni Setiawan.” Sambil menoleh ke arah anaknya.
“Kenalkan, Pak. Saya Roni. Boleh nanti kami ke rumah ya Pak.” Roni menjulurkan tangan ke arah bapak. Bapak membalas menjulurkan tangan. “Silakan, Nak Roni. Dengan senang hati kami tunggu.” Tangan Bapak memukul kecil tangan Roni.
“ Insyaallah, Pak. nanti pasti kami berkunjung. Oh iya, tadi putri bapak ya?” sorotan mata Roni seperti orang penasaran. “Iya Nak. putri bapak satu-satunya. Namanya Rani Sekar Ayu Ningsih.”
“Masih kuliah ya Pak?" tanya Roni lagi. “Betul, semester akhir. Enam bulan lagi dia wisuda.”
“Oh. Kelihatannya dia putri yang santun dan salehah ya, Pak?” jawab roni sambil tersenyum. “Dia anak baik dan berbakti.” Ingatan Bapak melayang kepada putrinya.
“Alhamdulillah. Ini Pak, ta’jilnya.” Roni memberikan bungkusan bening ke Bapak.
“Terima kasih, Nak, Berapa ta’jilnya?” Bapak meraih dompet yang ada di saku belakang. “Gratis, Pak. Bawa aja, anggap saja sebagai hadiah perjumpaan kita.” Ucapnya tulus disertai senyumnya yang manis.
“Masyaallah. Alhamdulillah. Terima kasih ya, Nak Roni. Ibumu pasti bahagia sekali punya putra seperti kamu”, Balas Bapak sambil tertawa. “Aamiin, semoga gitu ya Bu.” Roni memandang ibunya. Tersenyum.
---------
Enam bulan berlalu…
Tok tok tok…
“Assalamu’alaikum Wr. Wb?” Ucap seorang laki-laki di depan pintu, berpakaian rapi dengan kemeja biru malam, dan celana kain di atas mata kaki. Dia berkaca mata. Dan seorang ibu berkerudung merah hati berdiri di sampingnya.
Rani lagi di kamar, melipat baju yang baru saja diambil dari jemuran. Dia melirik jam dinding, jarum panjang di angka empat lewat sepuluh menit. Dia bergegas berjilbab dan seperangkatnya.
“Wa’alaikumussalam wr. wb, silakan masuk, Pak, Ibu. Sebentar, saya panggilkan Bapak dulu ya.” Senyumnya terukir tulus ketika mempersilakan mereka masuk.
Saya kelihatan tua ya? Kok jadi dipanggil, Pak. Lelaki itu bergurau dalam hati.
Mereka masuk dan berdiri menunggu di samping kursi kayu khas Jawa. Terbuat dari kayu jati berwarna kecoklatan. Berukir bunga mawar yang besar di sandaran kursinya. Meja persegi panjang berukiran bunga melati, bagian atasnya berlapis kaca tebal. Setangkai bunga tulip biru menghiasi ruang tamu.
“Masyaallah. Lama sekali kita tidak bertemu, Nak Roni, Ibu juga.” Roni salim dan kemudian memeluk Bapak. “Silakan duduk dulu. Rani, bikinkan minum ya.” Bapak memintaku bikinkan minum.
“Bagaimana kabar Bapak?" Sudah lama saya ingin kemari. Anak saya ini loh yang ngebet pengen bertamu.”, Ibu Roni tertawa kecil. Wajah Roni menunduk menahan malu.
Bapak tersenyum. “Alhamdulillah, kami sehat, Bu. Putri saya juga sudah diwisuda tiga hari lalu di IAIN Antasari Banjarmasin. Ah, gimana dengan kalian?"
“Alhamdulillah, seperti yang Bapak lihat. Anak saya setelah lulus kuliah di Unlam satu tahun lalu, sekarang memulai usaha berjualan emas di Banjarbaru. Nah, sekarang lagi pulang kampung, mau carikan mantu buat ibunya, katanya”. Ibu Roni menggamit lengan anaknya. Roni jadi tersenyum karena ulah ibunya.
Aku berjalan ke depan, membawa nampan berisi gelas, teko berisi air teh melati. Sepiring puding coklat manis, dan puding susu rasa vanilla. “Permisi, Pak, ini minumannya.”
Ibu Roni memandangi gadis berbalut jilbab hijau daun dan kerudung senada. “Terima kasih ya, Nak Rani” ibu itu tersenyum keibuan kearahku. “Inggih, sama-sama Ibu. Silakan diminum dulu.”
Bapak menarik lenganku, meminta aku duduk di sampingnya. “Nak, ingat tidak? Ini Ibu Roni, dulu kita pernah beli ta’jil pada mereka. Waktu Ramadan lalu.” Aku memutar ingatan ke waktu Ramadan lalu.
“Lupa, Pak. Seingat Rani, Cuma ta’jilnya yang enak itu. Warna pelangi, hehe”, aku lupa karena waktu itu aku kan berjalan beli air kelapa. Bapak saja yang memesan ta’jilnya.
Roni mengambil teko dan mengisi cangkir ibunya dan juga untuknya. Kemudian menyeruput teh beberapa teguk. Begitu juga ibunya, kemudian mengambil satu irisan puding susu rasa vanilla.
Bapak terkekeh-kekeh mendengar ucapanku. “Ya sudah, tidak apa-apa jika kamu lupa. Nah itu Nak Roni, anaknya yang waktu itu ikut berjualan.” Aku manggut dan tersenyum saja. Mau apa ya mereka tiba-tiba bertamu? Ah, mungkin mau jalin silah ukhuwah. Tanyaku pada diri sendiri.
“Tidak, apa-apa, Pak. Kalau Nak Rani lupa. Karena waktu itu dia kemudian berlalu, Bapak saja yang ngobrol dengan kami.” Jawaban Ibu membuat Bapak ingat kejadian enam bulan lalu.
“Maksud kami ke sini, kami ingin kenal jauh dengan keluarga Bapak”, lanjut Ibu Roni.
Aku duduk dan mendengarkan dengan saksama. “Maksud Ibu bagaimana?” jawab Bapak kemudian.
“Maksud kami, anak saya ingin meminang Nak Rani”, lanjut Ibu sambil tersenyum penuh harap ke arahku. “Ini CV Roni, mungkin Rani belum tahu apa-apa tentang anak saya.” Ibu meletakkan CV itu di depanku. Aku ragu-ragu menyambutnya.
Bapak kemudian mengambil CV itu dan membukanya dengan saksama. “Saya menyambut baik niat Ibu dan Nak Roni. Saya berikan waktu dulu agar anak saya dapat mempelajari CV ini. Bagaimana Nak?” Bapak memegang ubun-ubunku lembut.
“Inggih, Pak”, aku merasa seperti menjadi ta’jil pelangi yang memiliki rasa beraneka ragam. Dia juga tersenyum di balik tundukkan kepalanya. Ibu Roni, matanya memancarkan kebahagian yang tak terbendung saat ini.
Satu bulan waktu kami untuk ta’arufan. Melalui Bapak, kusampaikan pertanyaan-pertanyaan yang perlu aku tegaskan. Seperti mengizinkan aku untuk tetap menuntut ilmu dan menyampaikannya kepada masyarakat meski telah menikah nanti. Dan begitu juga Roni, dia juga menyampaikan hal-hal yang ingin dia ketahui kepada Bapak. Satu poin buat dirinya, dia juga ngaji.
Hari ini, kami melangsungkan akad nikah sekaligus walimah sederhana juga infishal. Teman-teman ngajiku menjadi panitia walimahku. Ini hadiah untuk almarhumah Ibuku di surga. Yang sejak dua tahun lalu dia impikan. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Ta'jil Cinta"