Tambal Sulam Menopang Ekonomi Ditengah Wabah Corona
Oleh: A.Qurratu Aini
Desakan rakyat akhirnya terjawab, memang perlu didesak oleh sebab.
Sejarah baru sedang dalam proses oleh pencipta, dilihat jelas oleh mata.
Persiapan dan bekal tak siap nyata.
Di dunia wabah besar melanda, Tak tau kapan mereda. Adakah penopang, pelindung dan penjaga bagi kita?
Desakan yang tak seharusnya ada itu sedang menuntut kepekaan, membutuhkan pengayom untuk meredam. Kadang harus berfikir mengapa tak kunjung ada lockdown disaat wabah sampai dinegeri ini. Lambat gerak dan memang butuh desakan. Pelarangan orang masuk ke negeri ini dan akses untuk keluar negeri baru saja ditutup setelah kasus sudah mencapai 2.000 orang. Mengapa? Sebab disitu ada penghasilan negara.
Ya, ini seakan curhatan, dengarkan. Jika sepemikiran maka gerakkan.
Ada yang kemudian berkata. “Bagaimana mau lockdown?, kalangan bawah mau kerja, bukan perbanyak harta apalagi untuk tahta, sekedar menyambung hidup anak istri dan keluarga”. Kita tidak sedang membahas orang yang bandel, tak takut mati dan segala macamnya. Kita melihat dari sisi kehidupan kelas menengah kebawah. Tinggal di rumah, mau makan apa tanpa kerja?
Memang enak yang bekerja kantoran, perusahaan dan pemerintahan, fasilitas lengkap untuk tetap menyambung hidup dengan duduk bekerja dirumah. Bagaimana dengan pekerjaan yang menggunakan fisik? Mereka tetap harus keluar. Bukan cari kesempatan tapi cuma mau makan.
“Seandainnya bisa saya kerjakan/perbaiki motornya konsumen tanpa disentuh dan bisa melalui perangkat lunak Aini, saya tetap dirumah”, my father say like that everyday. Pernyataan seorang ayah yang tak pernah kuabaikan, walau beliau hanya seorang ayah beliau juga rakyat.
Social distancing, physical distancing or anything do you thing. Solusi baru setelah cuci tangan menggunakan sabun. Siapa yang mau terserang virus tersebut? Jelas tidak ada. Semua takut, arahan pemerintah berusaha diikuti untuk memulihkan kembali keadaan. Tapi mereka masih buta tentang penciptaan distancing. Tidak dengan yang satu ini, bekerja untuk makan dan tagihan tetap jadi prioritas. Once again, this is for life. Posisi mereka layaknya seperti ini “Maju kena mundur kena, keluar mati, dirumah mati.”
Apa yang lebih menakutkan dari pada itu wahai kalangan atas?
Korban berjatuhan, yang terinfeksi semakin banyak. Nah disini nih salah paham antara pemimpin dengan rakyatnya muncul. Pemerintah menyuruh rakyat untuk tetap di rumah, karena semakin banyaknya korban. Tetapi ada yang tidak patuh dan kalian wahai kalangan atas menyebut mereka bandel. Pemerintah merasa tak dihargai. Rakyat harus tetap bekerja menyambung hidup, walaupun tetap khawatir dengan virus tetap tak bisa stay at home cause no money, and today you know no free lunch. Rakyat Tidak diberi makan akhirnnya merasa tak disayangi dan dimengerti. Rakyat mencaci pemimpin, pemimpin mencibir rakyatnya. Tidak nampak rasa saling mencintai walau wabah sudah sebesar ini.
Mereka masih sibuk memperbaiki posisi masing-masing. Ego, ketika hajat tidak terpenuhi dengan baik keadaan inilah yang akan terjadi. Hajat merupakan fitrah dan harus dipenuhi oleh seorang pemimpin, baik pemimpin rumah tangga maupun pemimpin umat. Jika tidak, maka dia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.
Bingung ingin menyalahkan siapa? Jelas, saya pun awalnnya bingung.
Desakan yang saya maksud diawal tulisan ini adalah tuntutan akan tunjangan hidup rakyat selama wabah covid-19 ini. Ketika ada tuntutan untuk menciptakan distancing, mereka (pemerintah) harus ada persiapan dan bekal untuk menghadapi semua ini, yakni tunjangan untuk kelangsungan hidup rakyat. Ya, sudah banyak jenis intensif yang keluar, sudah sering kita dengar dipidato-pidato Presiden Indonesia bukan? (https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200328234911-536-487895/daftar-intensif-jokowi-redam-dampak-corona-ke-ekonomi-ri)
Walau sebanyak itu, jelas tidak dapat terlalu mendongkrak ekonomi rakyat apalagi mengatasi dampak wabah secara ekonomi. Sebab, hanya akan ada sebagian kecil rakyat yang menjadi sasaran program tersebut. Hal ini tidak adil, tidak merata, atau tidakmenyeluruh. Prasyarat berbelit pun harus dihadapi, memungkinkan sebagian rakyat tidak akan bisa mengakses dan memanfaatkan intensif golongan tersebut. Apalagi belum ada dukungan penuh dari pihak lain (perbankan) yang akan membuat program tambal sulam ini, lebih bernilai pencitraan dibanding memberi solusi.
Ini sebenarnya bentuk kegagalan rezim kapitalis. Gagal memberi solusi pemenuhan kebutuhan bagi rakyatnya. Hal ini tak lain kecuali hanyalah bentuk pencitraan untuk mempertahankan posisi dan kedudukannya. Takut digulingkan ditengah panasnya kepala rakyat yang takut virus mematikan dan juga takut mati kelaparan. Mengerikan bukan? Ini hanya permainan egoisme dan kepentingan individu.
Cukup bayangkan saja, ini masih social distancing belum lockdown. Sudah tau kan jawaban dari pertanyaan mengapa ditengah 2.000 kasus lebih belum ada lockdown? Ekonomi, yang mereka bisa lakukan hanya tambal sulam. tidak akan berhenti kasus bertambah selama orang masih keluar rumah. Tidak akan berhenti pula orang keluar rumah selama tidak ada makanan dan tunjangan hidup. Tidak akan ada tunjangan hidup untuk rakyat selama mereka masih tambal sulam dan tidak berani berhutang. Tidak akan mereka mengemis tambal sulam atau mengutang selagi penghasilan negara terus ada. Tidak akan ada penghasilan negara kalau 90% hartanya dikuasai orang lain (asing), dan selama mereka tak berani menarik hartanya kembali. Tidak akan ada harta yang berlimpah bagi negara bila pemimpin tak berani menghapus penjajahan atas kekayaan negara.
Namun tidak ada pemimpin yang berani seperti itu selama tidak bersama Allah dan bersama hukumnya yang membuat ia berani. Ya, tidak akan ada Allah dalam pemerintahan dan hukum Allah disana bila tak ada negara Islam yang kokoh. Tidak akan ada negara Islam ala manhaj kenabian ini tanpa perjuangan umat yang sadar akan negara ini, khilafah ala manhaj kenabian.
Benang yang sangat kusut. Pikiran jernih yang mampu meluruskannya kembali. Ditengah wabah yang merupakan teguran dan cobaan bagi yang beriman ini, kita tetap harus kokoh dan teguh menggenggam bara apinya. Tetap berdoa dan semangat berdakwah. Karena semua ini terjadi adalah atas izin Allah. Hal ini berarti inilah yang terbaik. Terus berdoa, "Setelah wabah adalah khilafah." Wallahu a’lam bishshawab. (reper/toriq)


Posting Komentar untuk "Tambal Sulam Menopang Ekonomi Ditengah Wabah Corona"