Aku dan Korean Wave
Oleh: Fina Fatimah
Dita Karang, sebuah nama yang akhir-akhir ini viral di jagat maya karena ia merupakan orang Indonesia yang berhasil menjadi Idola baru bagi para K-Popers dengan memulai debut di girlsbandnya bernama The Secret Number. Budaya korea atau korean wave memang sudah sangat menjamur dikalangan kita para remaja. Sehingga akan terlihat keren ketika ada seseorang yang memiliki kewarganegaraan Indonesia dan mampu menjadi Idol Korea.
/Dulu/
Dulu, dikala masih mengenakan seragam putih biru, kerudung putih “geblus”, muka masih polos. Saat itu, aku adalah seorang bocah yang sudah mengetahui dunia per-kpop-an. Dimulai dari kdrama yang aku tonton dari SD kelas 6 hingga mengenal dunia K-pop nya. Bahkan aku lebih tahu tanggal lahir idol kpop dibanding tanggal-tanggal dalam pelajaran sejarah. Saat itu juga aku suka menulis. Namun yang aku tulis tentang hallyu (korean wave) yang tentu halu.
Sebuah hallyusinasi, yang membuat kita benar-benar berhalusinasi dengan apa yang kita sukai seputar Korea. Gelombang hallyu sudah menyerangku saat aku masih belia. Dita Karang pun menyukai Kpop dan mulai belajar menari saat ia masih SD, masih sama-sama belia. Maka, apa yang ia pilih di masa lalu sangat konsisten dengan kenyataan hari ini. Saat SD sudah menyukai Kpop dengan belajar menari dan terjun langsung untuk serius menjadi Idol, lulus SMA kuliah seni di Amerika dan setelah lulus kuliah melanjutkan menjadi trainee (sebutan bagi orang yang sedang menjalani pelatihan sebelum debut menjadi Idol Grup) di Korea. Dikutip dari youtube Ustadz Fuadh Naim yang saat itu juga mengenal Dita Karang, karena pernah menjadi produser video dance cover pertama seorang Dita Karang. Ustadz Fuadh Naim sudah sangat dikenal sebagai Youtuber dan Trainer Komunitas Yuk Ngaji yang memiliki masa lalu penggemar Kpop. Sehingga sekarang ia sering membahas all about Korea dengan pandangan Islami tentunya.
Kembali lagi dengan ku yang sama-sama belia namun sudah suka Kpop dan itu hanya sekedar suka tidak seperti Dita yang berniat terjun langsung menjadi Idol dan tergabung dalam sebuah manajemen. Jika aku benar-benar menceritakan aib ku seperti ustadz fuadh naim yang menceritakannya juga, diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi semuanya. Aku pernah menjadi seseorang yang sangat menyukai Kpop selama 7 tahun, dan tentu tidak dipungkiri rasa suka itu sulit hilang, karena sudah terekam dalam memori selama itu tentu sudah berubah menjadi kebiasaan yang terbiasa. Aku sangat konsisten untuk menyukai All About Korea selama 7 tahun.
/Hijrah/
Sampai suatu saat, aku benar-benar merasa dinasehati dengan keberadaan buku Ustadz Fuadh Naim yang berjudul Pernah Tenggelam. Namun, bukan maksud mempromosikan buku ini, hanya saja tadi, kita akan sama-sama mencari jalan yang sama untuk tujuan yang dirasa sama. Ustadz mantan Kpopers, aku juga, dan sama-sama ingin hijrah. Tentu dengan rasa malu untuk mengakui bahwa aku dulu seorang kpopers namun ku harap dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.
Bahwa pilihan-pilihan kita hari ini akan menentukan diri kita di masa depan.
Melihat Dita Karang yang konsisten dengan pilihannya untuk tetap menyukai Kpop dan terjun langsung untuk belajar menjadi seorang Idol, maka jadilah ia sekarang yang sudah menjadi Idol Korea. Maka jika aku terus konsisten menyukai all about Korea tanpa arah yang jelas tentu aku akan menambah yang awalnya hanya 7 tahun, bisa lebih dari 7 tahun untuk menghabiskan waktuku tanpa arah.
Aku akhirnya mengerti bahwa hijrah bukan sekedar membawa diriku sendiri, karena setelah hijrah, ada yang harus aku tunaikan bernama dakwah. Maka jika mereka konsisten dengan “dakwah alias ajakan” ke arah Korean Wave sehingga bisa membuat orang-orang berhalusinasi dengan dunia.
Maka aku yang saat ini pun ingin serius dengan hidup yang memiliki arah tidak banyak membuang waktuku untuk sekedar mendengar lagu dan menonton drama Korea, tapi bagaimana akhirnya aku tetap bisa suka Korea dengan tujuan memfutuhat (membebaskan) Korea dengan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.
Maka tidak apa-apa jika kita belajar bahasa hangul, bukan untuk menghafal lirik lagu Kpop atau menonton drama tanpa subtitle. Kita belajar bahasa mereka untuk suatu saat berdakwah disana agar mereka, agar kita mampu mengenalkan Islam kepada Korea. Tidak apa-apa jika kita belajar makan menggunakan sumpit, agar kita mampu berbaur dengan masyarakat Korea sehingga Islam lebih mudah masuk kedalam diri mereka jika kita mencoba mengikuti kebiasaan mereka yang masih dibolehkan oleh syariat.
Pesan untuk Mantan Kpopers
Pelajaran untuk kita mantan kpopers, saat kita berubah haluan untuk taat hanya pada Allah saja, maka buanglah yang bertentangan dengan syariat seperti halnya mengidolakan manusia hingga mampu menangis hanya karena seorang Idol, itu sudah sangat berlebihan saat kita meletakkan kecintaan kita kepada makhluk.
Konsistenlah, tetap tidak berubah-ubah untuk menjadikan Allah cukup bagi kita, maka apa yang kita sukai akan berubah sebagaimana kita memikirkan apakah Allah suka dengan apa yang kita pikirkan, katakan dan lakukan. Kita memikirkan Allah yang memiliki diri kita, yang sewaktu-waktu dengan mudah meminta kita untuk pulang kembali pada Nya. Kita tidak ingin saat kita pulang kepada Allah, kita masih menyukai makhluk Allah yang lain yang tidak bisa menolong kita saat hari persaksian.
Maka jadikanlah apa yang kita suka, sesuai dengan apa yang Allah suka. Dan bervisi besar bahwa dunia ini hanya mampu terbebas dari gelombang hallyu dengan Islam bukan dengan yang lain. Karena Islam memiliki kejelasan arah untuk menuntun kita dalam mengarungi kehidupan dunia, ada syariat yang berasal dari Allah yang mengerti kita sebagai makhluk Nya yang hanya menjadikan popularitas dan kemewahan dunia hanya ilusi. Maka pilihlah apa yang disukai Allah untuk menjadikan syariat sebagai standar kehidupan kita, sehingga kita konsisten untuk menebarkan Islam dan terlibat didalamnya, agar Islam segera tegak di bumi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu'alam bish shawab. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Aku dan Korean Wave"