Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dua Perisai Untuk Mewujudkan Ketaqwaan Haqiqi


Oleh: Revina Putri H

Ramadhan adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepada kita. Meskipun Ramadhan kali ini tak lagi sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi tak menjadikan bulan ini disikapi dengan biasa saja, bulan ini tetap istimewa bagaimanapun situasi dan kondisinya. Ramadhan merupakan bulan yang agung lagi penuh berkah.

Menurut para ulama berkah adalah “ziyadatul khair” artinya bertambah-tambah kebaikan, dimana kebaikan-kebaikan itu dilipatgandakan. Jika kita mengisi ramadhan ini dengan melaksanakan amalan wajib maka Allah akan lipatgandakan sebanyak 70 kali lipat, ditambah jika kita menghiasinya dengan amalan-amalan sunnah maka itu seperti melakukan amalan wajib di bulan-bulan lainnya.

Puasa menjadi amalan wajib yang Allah SWT perintahkan pada bulan Ramadhan. Puasa menurut bahasa artinya adalah menahan. Menahan dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat tertentu. Rasulullah menggambarkan puasa sebagai “junnah”. Sejalan dengan sabdanya dalam riwayat Bukhari dan Muslim.

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِم

“Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa.”

Disifati sebagai junnah (perisai), maka puasa akan membentengi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat. Membentengi dari apa? jika di dunia maka akan membentengi diri dari perbuatan-perbuatan yang cenderung pada hawa nafsu semata, perbuatan-perbuatan keji dan mungkar, seperti beberapa contoh yang digambarkan dalam hadits diatas. Sehingga hasil dari membentengi diri inilah dapat menghantarkan kita kepada ketaqwaan sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 yang merupakan tujuan dari puasa itu sendiri “..Agar kamu menjadi orang yang bertaqwa”. Selain menjadi tameng di dunia, puasa pun akan menjadi penghalang baginya dari api neraka. Hadits lain yang mengatakan. “Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman, puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya.” (H.R. Ahmad).

Dihadits lain Rasul mensifati Imamah/Khalifah juga sebagai perisai, pelindung, penghalang. Sebagaimana sabda Rasul dalam hadits nya.

 «إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

“Imam/Khalifah itu laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng.” (HR. Muslim).

Imam yang berfungsi sebagai pelindung umat dari tindakan kejahatan yang dapat mencelakainya. Fungsi imam sebagai perisai akan terlaksana jika seorang imam ini berlaku adil dan berhukum pada hukum-hukum Allah. Menerapkan syariat Allah sebagai sebuah sistem kehidupan yang akan menghantarkan pada ketaqwaan. Jika mengutip pernyataan Umar bin Abdul Aziz ra., “Takwa kepada Allah itu bukan dengan sering shaum di siang hari, sering shalat malam, atau sering melakukan kedua-duanya. Akan tetapi, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang Allah haramkan dan melaksanakan apa saja yang diwajibkan.”

Jadi, dua perisai yang dimaksud disini adalah puasa dan Imamah/Khalifah. Rasulullah menggunakan kata “perisai” ini hanya untuk 2 perkara saja yaitu untuk puasa dan imamah/khalifah. Jika puasa difungsikan sebagai perisai untuk individu kaum muslimin sedangkan Imam/Khalifah difungsikan sebagai perisai untuk seluruh umat manusia.

Sesungguhnya kita tak hanya membutuhkan perisai bagi diri kita, bukan hanya perisai bagi individu-individu kaum muslimin, justru yang sangat kita butuhkan adalah perisai untuk menjaga seluruh kaum muslimin di dunia. Hanya Imam/khalifah lah yang mampu melindungi umat, melindunginya dari intimidasi dan kejahatan yang dilakukan para kafir penjajah. Imam lah yang mampu menjaga harta dan darah seluruh umat manusia umumnya dan kaum muslimin khususnya serta dapat menghantarkan kepada ketaqwaan haqiqi. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Dua Perisai Untuk Mewujudkan Ketaqwaan Haqiqi"