Indonesia Terserah? Suka-suka Kalian Saja!
Oleh: Fatimah Azzahra, S. Pd.
Lagi, satu tenaga kesehatan dinyatakan gugur di medan juang. Perawat wanita RS Royal Surabaya, yang tengah mengandung 4 bulan meninggal terinfeksi covid 19. Sebelumnya, viral di media masa, youtuber yang dengan PD nya menganggap corona tak seheboh yang diberitakan. B aja katanya. Ia bangga tak mengenakan masker, tak cuci tangan. Sebelumnya juga, pemerintah melakukan relaksasi atau pelonggaran PSBB karena menurut data mereka, sudah terjadi penurunan angka penderita covid 19.
#IndonesiaTerserah menjadi tagar yang trending di jagat Maya. Para tenaga kesehatan kecewa, marah, kesal atas kondisi di lapangan. Di rumah sakit para nakes berjuang, walau nyawa taruhannya. Para nakes berjuang, walau harus menahan diri tak bertemu keluarga demi keselamatan yang dicinta. Lelahnya, kucuran keringatnya, bahkan nyawanya seolah tak dihargai dengan sikap yang ditampilkan pemerintah juga mereka yang ingin viral.
Sungguh, sedih hati ini. Harga yang diterima para nakes tak sebanding dengan apa yang mereka korbankan. Gaji para nakes takkan bisa membeli lelah, Cinta, dedikasi, juga nyawa. Coba bayangkan apa jadinya jika para nakes masa bodo dengan pasien covid yang ada di rumah sakit? Siapa yang akan merawat mereka? Apakah para influencer? Apakah pemerintah sudi terjun langsung? Tidak, bukan! Maka, hargai mereka.
Para nakes sudah work from heart dari dulu. Mereka tak gila hormat, tak juga gila harta. Hargai usaha mereka menyelamatkan dan merawat para pasien covid 19 dengan menjaga diri kita. Sebisa mungkin tahan keinginan diri untuk keluar rumah. Kalaupun harus keluar rumah, pastikan mematuhi social distancing. Pastikan menghindari kerumunan dan tidak berlama-lama di luar. Setelah sampai rumah, segera cuci tangan, ganti pakaian, kalau perlu mandi sekalian. Jaga diri kita, jaga keluarga kita, jaga lingkungan kita. Ini akan membantu para nakes yang saat ini kewalahan mengurusi pasien positif covid yang kian membanyak.
Dari sisi pemerintah, sudah seharusnya mengeluarkan kebijakan yang sistemik, juga sinergis. Bukannya bertolak belakang satu dan lainnya. Di satu sisi tak boleh mudik, di sisi lain moda transportasi di buka kembali. Bukankah ini sama dengan memperbolehkan mudik itu sendiri walau harus menyertakan surat keterangan sehat? Di satu sisi rakyat dihimbau di rumah saja, di sisi lain kebutuhan rakyat tak dipenuhi. Rakyat diminta mengerti dan mencari sendiri bagaimana cara memenuhi kebutuhannya tanpa keluar rumah. Mereka lupa, tak semua rakyat bisa membeli kuota pulsa. Akhirnya, rakyat lebih memilih tetap mencari nafkah di luar rumah demi sesuap nasi, walau harus mempertaruhkan nyawa jika terpapar corona.
Sungguh berbeda dengan Islam kala ia diterapkan sebagai sistem kehidupan. Islam mengajarkan kita untuk menghargai orang lain. Islam mengajarkan adab pada orang lain, termasuk pada tenaga kesehatan.
"Sesungguhnya guru dan dokter itu keduanya tidak akan memberikan nasihat jika tak dihormati. Tahanlah sakitmu jika kamu kasar terhadap dokter. Dan nikmatilah kebodohanmu jika kamu kasar terhadap gurumu."
(Al Mawardi dalam Adabu ad Dunya wa ad Din)
Islam juga menitik beratkan pada penyelamatan manusia. Karena nyawa satu manusia sangat berharga dalam Islam.
"Hilangnya dunia lebih ringan dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak" (HR. An Nasai).
Dalam Islam, negara bertanggungjawab akan pemenuhan kebutuhan rakyatnya. Darimana? Allah telah memberikan sumber daya alam yang luar biasa melimpah di negeri kita. Hasil pengelolaan sumber daya alam akan bisa memenuhi kebutuhan rakyat. Kalaulah kas negara sedang kosong, negara akan meminjam harta para hartawan. Jika belum terpenuhi juga, negara akan meminta pemerintah daerah menyumbangkan bantuan dari daerahnya masing-masing. Sebagaimana yang pernah terjadi pada masa pemerintahan Amirul mu'minin, Umar bin khatab.
Islam sudah terbukti berjaya saat diterapkan. Karena ia datang dari Rabb semesta alam. Pencipta saya, anda, kita semua dan seluruh semesta beserta isinya. Apa yang datang dari Allah, pastilah terbaik bagi kita.
Masihkah kita meragukannya? Na'udzubillah min dzalik. (reper/toriq)


Posting Komentar untuk "Indonesia Terserah? Suka-suka Kalian Saja! "