Pelangi di Dompetku
Oleh: Cut Zhiya Kelana, S.Kom
Langit tak seperti biasanya, arah barat langitnya gelap pertanda hujan akan turun. Dipagi hari hujan turun rasanya pasti membuat orang malas untuk bergerak. Aku berharap hujan turun dimalam hari, hingga aku pun bisa terlelap. Biasanya mereka bilang itu doa seorang jomblo, padahal itu doa seorang muslim yang dimana tidak tahan lagi melihat kemaksiatan merajalela. Yah… biasa bagi mereka penikmat kemaksiatan tapi itu berbeda denganku.
Aku duduk dikursi kayu yang masih terlihat kokoh namun jika tidak disandarkan akan miring juga. Menatap langit dibalik jendela tak berkaca, tersembunyi dekat pohon pisang yang mulai ranum. Sejenak aku berfikir, apa yang harus ku masak lagi untuk hari ini ya Rabb? Jangan biarkan keluargaku kelaparan. Ya…sudah berapa hari kami hanya makan mie instan, kadang ikan Asin sebagai temannya. Biasa di dekat lapangan ada sedikit kangkung, atau genjer yang bisa kami buat lauk. Sedangkan daun ubi dan kacang panjang sudah mati minggu lalu.
Aku berjalan kearah dapur, kulihat cabe juga mulai layu. Kemarin karna tomat sedang jatuh harga, kami sempat beli banyak. Kata mamak baiknya dibuat saos saja, langsung ku eksekusi karna berfikir mungkin bisa tahan untuk beberapa hari. Dan siapa yang menyangka gas juga habis, derita tiada akhir mungkin. Ku lihat dompet ku pun yang banyak Cuma kertas, bukan uang. Kapan terakhir kali ya! uangku berwarna merah, biru, hijau dan ungu. Entahlah… rasa aku tak bisa menangis lagi, harus tegar, tersenyum didepan meraka. Sungguh aku harus kuat dan jangan lemah berhadapan dengan ujian naik kelas ini. Tiba-tiba ponakanku yang 5 tahun datang menghampiri dan membuyarkan lamunanku.
“Aya… ada jajan?” tanyanya lugu sembari bersembunyi dibalik dinding seperti mengendap-endap
“Gak ada neuk, nanti kalo Aya ada uang lagi kita beli yang banyak-banyak ya kaya kemaren” jawabku tersenyum
“Em…siap bos” jawabnya berlalu pergi berlari dan kembali menonton TV
Akhir-akhir ini dia sering merasa lapar, bahkan berkali-kali merengek meminta makan pada kakak dan mamaknya. Semoga apa yang kita alami bisa mengetuk pintu sang pemberi Rizki-Nya dari langit dan bumi dan sekaligus mengetukhati pemimpin kita yang telah lama mati. Bersabarlah ujian ini tak sepedih saudara kita di Suriah, Palestina, kita hanya bagian kecil yang merasa betapa tidak adilnya para pemimpin saat ini. (reper/rmn)


Posting Komentar untuk "Pelangi di Dompetku"