Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Umat Terbaik: Antara Harapan dan Kenyataan


Oleh: Qayyum Azzahra (Aktivis Dakwah Millenial)

Generasi muda adalah generasi yang dibanggakan, generasi yang selalu dijunjung tinggi namanya, generasi yang selalu diandalkan. Karena di tangan generasi mudalah sebuah peradaban akan lahir. Pemuda adalah aktor dari generasi yang sering diharumkan namanya itu. Yang sering disebut sebut sebagai pemengang tongkat estafet kepemimpinan, yang digelari sebagai agen of change. Yah setidaknya begitu dalam ekspetasi orang.

Tapi apa yang terjadi hari ini? Apakah sama realitas dengan ekspetasi? Yups, sangat berbeda. Masih banyak pemuda yang tak mempersiapkan diri, masih banyak pemuda yang ogah- ogahan untuk melakukan sebuah perubahan. Mereka masih asyik dengan dunia mereka sendiri: berselancar di dunia maya, sibuk ngurusin sosial media atau hanyut dalam cerita cinta drama korea. Kebanyakan dari mereka berkiblat pada kehidupan barat. Dari  mulai gaya semau gua (liberal), cara berbusana yang pamer aurat, tolak ukur semua dilandaskan pada akal manusia, hingga urusan agama yang dipisahkan dari kesehariannya.

Maka dari itu terjadilah berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh remaja seperti narkoba, miras,dugem, prank-prank yg unfaedah dan  berbagai hal lainnya juga membuat kerusakan moral tumbuh subur di negeri ini. Tanpa sadar mereka merasa bangga jika melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan norma demi mencapai eksistensi dan label keren di tengah masyarakat.

Sungguh persoalan seperti ini sangat meresahkan masyarakat khususnya orang tua, terlebih lagi ini seharusnya menjadi keprihatinan besar bagi negara. Melihat fakta yang ada, semakin meningkatnya angka kriminalitas dalam dunia pendidikan bukti bahwa solusi yang ditawarkan hanyalah solusi parsial saja.

Bagaimana mungkin bisa mencetak generasi yang cemerlang jika kebijakan dalam dunia pendidikan ini kontradiktif. Sejatinya, tujuan pendidikan yakni menciptakan manusia yang beriman dan produktif. Namun, sistem pendidikan yang diterapkan negara hari ini tidak untuk menciptakan itu semua melainkan hanya melahirkan sosok yang individualistik dan materialistik.

Sistem pendidikan di Indonesia adalah sistem pendidikan sekuler-materialistis. Agama hanya dijadikan sebagai pengatur hubungan dalam satu aspek yaitu ibadah ritual semata, tidak dijadikan sebagai pengatur segala aspek kehidupan. Belum lagi kebijakan yang diterapkan dalam dunia pendidikan sangat bertentangan seperti kegiatan rohis dan keagamaan dicurigai bahkan dilarang. Sementara kegiatan-kegiatan hedonis didukung dan disemarakkan.

Kondisi seperti ini sangat memprihatinkan bahwasanya generasi muda yang merupakan investasi peradaban berada di ujung tanduk kerusakan. Oleh karena itu, solusi cemerlang untuk melahirkan generasi pencetus peradaban ialah kembali pada konsep Islam.

Sistem pendidikan Islam akan melahirkan pribadi muslim yang taat kepada Allah sekaligus menjadi ilmuwan yang menguasai sains dan teknologi. Fakta historis pun menjelaskan bagaimana ideologi Islam begitu agung mengatur umat Islam dahulu dengan segudang prestasinya. Ajaran Islam bukan sekadar hafalan tetapi dipelajari untuk diterapkan, dijadikan standar dan solusi dalam mengatasi seluruh persoalan kehidupan.

Bukankah Allah berfirman dalam QS. Ali Imron:110 yang artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Umat terbaik hanya akan lahir dari sistem terbaik, yaitu sistem buatan Allah swt. Sistem yang menerapkan Alquran dan Assunnah. Melahirkan generasi qurani, tidak sebatas di hafalan namun terwujud nyata dalam perbuatan. Tidakkah kita rindu, guys? Aku aja rindu. Wallahu a'lam bishowab. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Umat Terbaik: Antara Harapan dan Kenyataan"