Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

All U Can Be Influencer


Oleh: Keni Rahayu, S.Pd (Founder Kajian Online Mini SWI)

Lagi ramai #gaksengaja nih. Udah pada tau kan? Iya. Tagar ini lahir sebab penyiraman air keras ke wajah pak Novel Baswedan dinilai "tidak sengaja" oleh jaksa yang berwenang (Kumparan, 11/6/20). Hal ini menuai beragam protes dari para netizen.

Salah satu yang merespon kritis fakta ini adalah komika yang akrab disapa Bintang Emon. Ia menyindir hukum di Indonesia melalui video di akun instagramnya sepanjang satu menit empat puluh tiga detik.

Karena kritikannya tersebut, ia menuai berbagai macam reaksi dari para pengguna sosial media. Banyak yang meresponnya negatif. Tapi yang mendukung dia jauh lebih banyak. Kritikannya mewakili isi hati banyak pihak. Semakin booming-lah fakta ketidakadilan yang menimpa pak Novel Baswedan tersebab video ungahan bang Emon ini.

Kita tidak jauh-jauh ke sana, guys. Yang mau saya tulis di sini adalah sebenarnya seseorang terhadap orang-orang di sekitarnya memiliki pengaruh tertentu. Seseorang bisa menularkan ide dan pemikirannya via tulisan, foto, dan video. Terlebih ia seorang tokoh dengan banyak pengikut. Ide tersebut akan menyebar lebih cepat.

Semua kita punya potensi untuk memengaruhi orang-orang di sekitar kita. Bukan tersebab bilangan, menjadi influencer bukan ketika kita punya banyak followers maupun subskrebers. Tapi,  ketika kita istikamah menyampaikan ide-ide Islam, baik online maupun offline. Itulah the real influencer.

Sebagai muslim, kita dituntut untuk bisa mewarnai lingkungan kita dengan ide-ide Islam yang telah kita yakini (dan kita amalkan). Karena berdakwah itu wajib. Rasulullah saw. sudah memberikan tauladan bahkan sampai beliau menjumpai ajalnya. Bukan tanpa alasan hingga nabi Muhammad saw. mendapat gelar best influencer ever.

Menjadi muslim sejati, berarti telah meyakini semua syariat Allah, termasuk perintah untuk berdakwah. Jadi, jangan segan ataupun malu jika sekedar memposting ulang foto/video bermuatan dakwah. Karena kita adalah seseorang bagi seseorang yang lain. Buktinya, saya. Saya tahu video kritis bang Emon yang sedang viral tersebab orang-orang di sekitar saya banyak yang memposting ulang di laman instastory-nya. Dari situ saya baru tertarik mencari tahu, "emang ada apa sih dengan #gaksengaja dan Bintang Emon ini?", gitu. Bukan betul-betul karena saya pengikut akun beliau (jika memang katanya beliau famous).

Nah, dari contoh di atas bisa kita ambil pelajaran. Jika sebuah ide diemban oleh banyak orang, meski setiap orang tersebut bukanlah "selebgram" (dengan jutaan followers), ide itu tetap punya peluang untuk sampai ke netizen. Yang penting untuk disampaikan adalah "ide apa yang dibawa", bukan "siapa yang membawa hingga mereka harus mengenalnya". Karena dakwah adalah soal eksistensi Islam, bukan eksistensi diri.

Mulai sekarang, kita bisa loh lebih selektif terhadap konten di akun media sosial kita. Jika tidak benar-benar penting, mending tahan jempolmu. Jika kamu yakin terhadap perintah Allah terkait dakwah, gunakan sosmedmu untuk menyampaikan ide-ide Islam. Kita tidak tahu, postingan mana yang bisa mempengaruhi orang lain untuk tergerak melakukan hal yang sama.

Daripada kita share challenge-challenge gak jelas, mending kita share konten dakwah. Lebih bermanfaat dunia akhirat.
Karena All U Can Be Influencer, tidak peduli berapa jumlah followers-mu. Tapi ketika Islam adalah yang kamu sampaikan, mudah-mudahan jadilah wasilah agar hati orang lain tergerakkan, atas izin Allah insyaAllah. Wallahu a'lam bishowab.
(reper/zia)

Posting Komentar untuk "All U Can Be Influencer"