Baca dan Tulis, Bagai Dua Sisi Mata Uang
Oleh: Chusnatul Jannah
"Ketika seseorang yang tak kukenal membaca tulisanku, lalu merasakan apa yang ku sampaikan, aku telah bersahabat dengannya." ~ Fiersa Besari
Membaca dan menulis adalah aktivitas yang lekat untuk seorang penulis. Tanpa membaca, apa yang hendak ditulis? Tanpa menulis, bagaimana mengikat ilmu pengetahuan yang dimilikinya? Sebagaimana pesan Imam Ali bin Abi Thalib, "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya," Sering kita dengar, buku adalah jendela ilmu dan membaca adalah kuncinya. Ketika kita ingin mengenal dunia maka bacalah buku. Ketika kita ingin dikenal dunia, maka tulislah buku. Minimal, tulislah hasil pemikiranmu dalam sebuah karya.
Membaca sejatinya sudah menjadi kebiasaan kaum muslim sejak dulu. Bahkan saat turun wahyu pertama, Allah memerintahkan Nabi untuk membaca, "Iqra' bismirobbikalladzi khalaq," Begitulah bunyi ayat pertama surat Al Alaq. Wahyu pertama saat Nabi diutus menjadi Rasul. Menulis juga menjadi keseharian kaum muslim. Masih ingat bagaimana lembaran-lembaran Al quran dibukukan? Hal itu terjadi di masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan.
Inisiator pembukuan Al quran sebenarnya adalah Umar bin Khattab. Beliau mengusulkan pengumpulan Al qur'an setelah melihat banyak para sahabat penghafal qur'an yang berguguran pasca perang Yamamah. Pengumpulan Al quran ini terjadi di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq. Saat itu Umar ditunjuk sebagai penasehat khusus proyek ini yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit.
Terbentuklah kompilasi Al quran pertama yang disimpan dalam arsip negara. Kompilasi Alquran pertama inilah yang kemudian disebut shuhuf (lembaran-lembaran). Baru di masa Usman bin Affan lembaran-lembaran itu dibukukan yang dikerjakan 12 tim dipimpin Zaid bin Tsabit. Setelah melalui proses perbandingan beberapa shuhuf yang disimpan Hafsah dan Aisyah ra, Istri Nabi Shallallhu alaihi wa sallam, diverifikasi, lalu ditashih hingga terbentuklah Mushhaf Al Usmani. Seluruh mushhaf Alquran yang beredar di seluruh dunia saat ini merupakan duplikat dari Mushhaf al-Usmani.
Itulah sejarah singkat pembukuan Al quran. Dari sini kita bisa ambil pelajaran. Membaca dan menulis adalah habits yang harus dimiliki setiap muslim. Bukan karena tuntutan profesi atau materi. Membaca dan menulis memang semestinya menjadi kebiasaan sehari-hari. Terlebih di era kekinian. Media sosial menjadi platform informasi, gagasan, ide, dan membentuk opini.
Ustaz Felix Siauw pernah mengatakan, "Aku belajar dan membaca agar umur orang lain berguna bagiku, dan aku menulis agar orang lain mengambil manfaat atas umurku." Sungguh nasihat yang indah. Baca dan tulis. Bagi penulis, baca dan tulis adalah prasyarat utama menghasilkan karya. Dia adalah penulis dari hasil bacanya. Dia juga pembaca dari hasil tulisannya. Saya sendiri, saat menulis opini, saya berusaha memposisikan diri sebagai pembaca saat menulis. Setidaknya tulisan sendiri menjadi pengingat diri. Jika kita memposisikan diri sebagai pembaca, maka kita akan berusaha menyajikan tulisan yang mudah dipahami oleh para pembaca. Minimal kita memahami tulisan sendiri.
So, mau jadi penulis hakiki, banyaklah membaca dan biasakanlah menulis. Untuk menjadi hebat, maka buatlah habits. Kata guru saya, "Penulis itu tidak butuh hebat, dia hanya butuh habits. " ~ Hanif Kristianto. (reper/yuni)


Posting Komentar untuk "Baca dan Tulis, Bagai Dua Sisi Mata Uang"