Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berbenah Diri Dengan Islam


Oleh: Indi Sirfefa (Muslimah Perubahan Fakfak, Papua Barat)

Melihat dunia remaja saat ini, rawan dengan godaan kesenangan semu yang mudah menjerumuskan ke hal yang kurang baik. Remaja identik labil dan rentan terhadap pengaruh keadaan sekitarnya. Diantara mereka memang ada yang mampu bertahan di jalan yang baik, namun adapula yang terseret arus godaan. Misalnya dengan berdalih hanya “temenan aja kok”, merasa aman seperti itu, tidak bisa menjaga interaksi dari cuma like postingan, chatting, makan bareng, minta tolong diantar kesana kemari eh malah berujung pacaran. Taukan yang namanya pacaran, banyak kebebasan yang sering bikin bablas. Belum lagi dengan mengikuti perkembangan zaman semisal fashion. Baju yang kependekan, ketat, transparan, bahkan seperti “kekurangan bahan”. Alih-alih bikin grup karena merasa solid sevisi misi ala remaja, merembes ke sahut-sahutan, adu ini itu, dan jadilah tawuran. Saat remaja saja sudah begini, bagaimana dewasa nanti?

Sangat disayangkan terlalu banyak energi dan waktu dihabiskan hanya untuk kesenangan semu seperti itu. Waktu tidak akan berputar kembali, artinya meski masih remaja harus bisa mengisi tiap detik yang ada untuk hal-hal yang baik dan berkualitas sehingga bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain, tidak sia-sia. Tugas  remaja adalah belajar. Belajar bukan hanya dari sekolah. Bisa di rumah ataupun lingkungan. Belajar juga bukan hanya tentang pelajaran di sekolah, belajar Ilmu Syar’i juga sangat penting.

Hidup adalah pilihan. Seperti apa kita hari ini adalah hasil pilihan kita di masa lalu. Menjadi remaja baik dan berkualitas hari ini, tentu adalah pilihan di hari-hari sebelumnya. Pola pikir seseorang, sangat mempengaruhi termasuk dalam menentukan suatu pilihan. Yang mana dominasi pola pikir seseorang berefek pada pola sikapnya. Jika hidup baginya dalah tentang kesenangan, maka yang dikejarnya hanya kesenangan. Terlebih lagi hal yang mendasar yang menjadi pondasi, yakni perkara tujuan hidup. Jika pondasinya salah, maka akan terikut pada standarisasi yang salah hingga terbentuk kepribadian yang salah pula.

/Islam sebagai solusi/

Dari fakta-fakta di atas, apakah harus pasrah atau ikut-ikutan? Hidup adalah pilihan. Sebagai seorang muslim perlu kita pahami bahwa fakta-fakta tersebut jauh dari nilai-nilai Islam. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Sehingga kita harus memperhatikan dan menerapkan aturan-aturan tersebut. Misal pergaulan dengan lawan jenis. Islam melarang umatnya untuk mendekati zina, pacaran contohnya. Mendekati saja tidak diperbolehkan apalagi sampai  melakukannya. Allah SWT berfirman yang artinya : “ Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S al – Isra’ : 32).

Zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk. Bisa membawa kita ke jurang penyesalan dan kehancuran. Sehingga mendekati saja tidak diperbolehkan. Hal-hal yang memicu ke arah zina ya harus ditinggalkan. Lantas apa kita tidak boleh punya teman lawan jenis? Ya boleh saja donk. Namun selama berteman musti dijaga interaksinya. Bicara seperlunya, tidak berlebihan, tidak kholwat. Artinya tidak bebas melakukan apa saja.

Apa kita tidak boleh menyukai atau mencintai lawan jenis? Tentu saja boleh, itu fitrah. Hanya saja ada koridor yang harus kita ikuti. Menyukai atau mencintai lawan jenis merupakan naluri Nau’. Yang mana dalam Islam diatur cara pemenuhannya, yakni dengan jalan menikah. Ketika sudah mengetahuinya, bagaimana dengan perasaan yang ada saat remaja ini? Karna remaja adalah masa-masa yang luas untuk belajar maka bisa mengisi hari-hari dengan menuntut ilmu syar’i, mengamalkan bahkan mendakwahkan. Mempelajari bagaimana seharusnya menjadi muslimah sholihah, agar bisa menjadi bekal saat akan menikah nanti. Sehingga saat sudah tiba waktunya, kita tidak kerepotan dan bingung lagi musti harus bertindak seperti apa.

Nah, seperti itulah di dalam Islam. Banyak kebaikan di dalam syariat yang diturunkan untuk kita umat-Nya. Kita harus bisa menyadari itu, menerapkan dengan sepenuh hati karna Allah SWT. Untuk itu perlu pola pikir yang benar, sehingga sikap kita bisa terimplementasi dengan benar pula, yakni dengan Islam. Kokohkan akidah Islam kita secara holistik, karna cara pandang kita akan menyertai setiap gerak kita. Semua itu juga tidak terlepas dengan doa dan ikhtiar.

Mulailah meluruskan niat karna ingin mendapatkan ridho Allah SWT. Memanajemen waktu dengan baik, diisi dengan agenda-agenda berfaedah dunia-akhirat dan menentukan skala prioritas berdasarkan hukum syara’. Bukalah hati dan pikiran untuk mulai mempelajari Ilmu Syar’i secara kaffah bisa online maupun duduk di majlis Ilmu. Tentang belajar, tentunya tidak bisa dengan sekali duduk. Musti rutin minimal seminggu sekali. Dan carilah teman yang saling menguatkan dan mengingatkan dalam kebaikan dan Islam. Semoga dengan langkah-langkah ini bisa mempermudah kita dalam berbenah diri. Berbenah diri dengan Islam. Untuk menjadi baik tidak terlepas dari tantangan bahkan hambatan. Namun tetaplah fokus pada tujuan. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Berbenah Diri Dengan Islam"